Pasek Sebut Kasus Djafar Sama Dengan Daming

Selasa, 05 Maret 2013 – 02:46 WIB
JAKARTA - Djafar Albram hanya memperoleh satu suara dari hasil uji kelayakan dan kepantasan (Fit and Proper Test) calon hakim konstitusi yang dilakukan oleh Komisi III DPR. Hal itu disebabkan karena ia tidak hafal bunyi Pancasila.

Pimpinan rapat sekaligus Ketua Komisi III DPR RI, Gede Pasek Suardika menyebut kasus yang menimpa Djafar sama seperti yang menimpa calon hakim agung, М Daming Sunusi.

"Saya kira sama dengan kasusnya Daming, ketika memang duduk di sana (pada saat di tes) selalu memakan korban dan selip lidah," kata Pasek di DPR, Jakarta, Senin (4/3).

Seperti diketahui, Pada saat Fit and Proper Test pada Senin (14/1), Daming mengatakan terkait kasus pemerkosaan, baik pelaku maupun korban sama-sama menikmati. Pernyataan ini langsung mendapat kecaman luas.

Sementara itu pada saat Fit and Proper Test, hari ini, Senin (4/3), Djafar ternyata tidak hafal Pancasila. Peristiwa itu berawal pada saat anggota Komisi III DPR dari fraksi PDI Perjuangan, Ahmad Basarah meminta Djafar menyebutkan kelima sila dari Pancasila. Namun ternyata Djafar salah mengucapkan sila kedua dan keempat.

Djafar menyebut bunyi sila kedua adalah "perikemanusiaan yang adil dan beradab". Sedangkan saat mengucapkan sila keempat Pancasila, Djafar menyebut "kerakyatan yang dipimpin oleh permusyawaratan dan keadilan".

Padahal bunyi sila kedua seharusnya adalah "kemanusiaan yang adil dan beradab". Sementara bunyi sila keempat adalah  "kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan".

Basarah lantas mengkritik Djafar yang tidak hafal Pancasila. Padahal menurutnya, sila-sila Pancasila merupakan sumber dari segala sumber yang ada. "Seharusnya calon hakim tidak hanya hafal, tapi mengetahui makna filosofis dari masing-masing sila Pancasila," ujarnya.

Djafar mengaku sedang gugup sehingga salah mengucapkan sila-sila Pancasila. Dia beralasan, Fit and Proper Test merupakan peristiwa hidup dan mati. Itu sebabnya jika ada kesalahan mengucapkan kata-kata Pancasila, Djafar menganggapnya hal wajar.

"Tidak ada gading yang tak retak, tapi siapa yang tidak gugup menghadapi posisi seperti itu, karena kita menghadapi nasib kita yang terakhir ini, hidup atau mati," kata Djafar.

Kendati demikian Djafar menegaskan, yang terpenting dirinya telah sukses menyebutkan nilai Pancasila dari awal hingga akhir. "Tapi yang utamakan saya menyebutkan semua dari sila pertama sampai sila yang terakhir," pungkasnya. (gil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mau Nikah Susah, Tak Nikah Salah

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler