Pelabuhan Ambon Berbenah, GM Pelindo: Sabtu dan Minggu, Sekarang Kami Sikat

Kamis, 28 Juli 2022 – 11:44 WIB
Pelindo IV kedatangan lima unit Rubber Tyred Gantry (RTG) untuk di Pelabuhan Jayapura dan Pelabuhan Ambon. Foto dok Pelindo

jpnn.com, AMBON - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) memulai transformasi dengan menata terminal peti kemas. Salah satu upaya perbaikan kinerja tersebut dilakukan di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon.

Diawali dengan membuat pemetaan, memisahkan blok bongkaran, blok muatan, dan membuat lokasi khusus untuk Cargo Consolidation and Distribution Center (CCDC).

BACA JUGA: Benarkan Didi Mahardika Berpacaran dengan Cita Citata, Sunan Kalijaga: Saya Kira Bercanda

“Di lokasi inilah barang akan dibongkar dari peti kemas (stripping) dan dimuat ke dalam peti kemas (stuffing). Blok-bloknya jadi jelas,” ujar General Manager (GM) Pelindo Regional 4 Ambon, I Nengah Suryana Jendra.

Pelindo Regional 4 kemudian mendatangkan peralatan baru untuk mempercepat proses bongkar muat, yakni menggunakan dua container crane (CC).

BACA JUGA: Ada Pesohor Pamer Uang Ternyata Tidak Diberikan, Wanda Hamidah Sindir Baim Wong dan Paula?

Alat bongkar muat di terminal peti kemas juga diganti dari Reach Stackers menjadi Rubber Tyred Gantry (RTG).

Penggunaan RTG, kata Nengah, bisa mempercepat proses bongkar muat karena bisa menyusun peti kemas sampai lima tumpukan.

BACA JUGA: Salat dengan Cepat, Bagaimana Hukumnya?

Sebelumnya, Reach Stackers hanya bisa menumpuk peti kemas maksimal sampai tiga tier.

“Hasilnya, kapasitas lapangan peti kemas Ambon naik dari semula 190 TEUs (twenty-foot equivalent unit) menjadi 250 TEUs,” terangnya.

Jam operasional pun diubah mengikuti penambahan kapasitas lapangan peti kemas tersebut. Dulu, jam 10 malam pelabuhan sudah gelap.

Sekarang, manajemen Pelindo Regional 4 Ambon menerapkan waktu operasi selama tujuh hari kali 24 jam, dengan sistem tiga shift.

“Sabtu dan Minggu sekarang kami sikat," sebutnya.

Namun, menurut dia, pada akhirnya yang paling penting dalam proses transformasi tersebut adalah change management.

“Percuma saja lapangan sudah ditata bagus, peralatan yang mumpuni didatangkan, dan juga punya aplikasi yang bagus, kalau orangnya tidak berubah. Karena itu, mindset harus diubah, mulai dari jajaran pimpinan sampai operator di lapangan,” kata Nengah Suryana.

Manajemen Pelabuhan Ambon lalu memulai proses perubahan mindset dengan membawa para tenaga planner dan controller ke beberapa pelabuhan lain untuk belajar praktik kerja terbaik (best practices) dari mereka.

Terminal peti kemas yang dituju antara lain Jakarta International Container Terminal (JICT) di Pelabuhan Tanjung Priok dan terminal peti kemas di Pelabuhan Dwikora di Pontianak.

Mereka juga menjalani pelatihan di fasilitas Learning Center Pelindo.

“Kami membekali mereka bagaimana business process yang baru. Kami memberikan kepada mereka gambaran besar tujuan tranformasi ini. Misalnya, para operator di lapangan perlu tahu apa tujuan akhir dari transformasi ini, bukan hanya memahami pekerjaan mereka sendiri. Mereka harus tahu mengapa proses bongkar muat harus cepat,” bebernya.

Proses bongkar muat di pelabuhan sama pentingnya dengan penataan lapangan peti kemas.

Setelah proses transformasi, Pelabuhan Ambon sudah menerapkan Windows System untuk mengatur jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal agar tidak terjadi penumpukan kapal di pelabuhan.

“Kecepatan bongkar muat di kapal harus selaras dengan yang di lapangan peti kemas agar tidak terjadi penumpukan (bottle neck),” tambahnya.

Hasil proses transformasi ini adalah percepatan waktu sandar (port stay) dan kenaikan produktivitas. Waktu sandar yang semula tiga hari, sekarang bisa dipercepat menjadi satu hari.

Produktivitas juga meningkat cukup signifikan. Proses bongkar muat di pelabuhan yang semula hanya 8-10 TEUs per crane per jam menjadi 20 TEUs.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kurangi Biaya Logistik, Pelindo Fokus Percepat Waktu Bongkar Muat


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler