Peluang Rebut Pasar Industri Pertahanan Dunia

Senin, 14 April 2014 – 07:35 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Industri pertahanan Indonesia makin mampu bersaing dengan industri pertahanan global. Sedikitnya 15 perusahaan di bidang industri pertahanan Indonesia menjadi peserta The 14th Defence Services Asia Exhibition and Conference (DSA), pameran industri pertahanan internasional di Malaysia.

    
Di antara 15 perusahaan, lima di antaranya adalah BUMN. Yakni, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT Dahana, PT LEN Industri, dan PT Dok Kodja Bahari. Ajang pameran dua tahunan tersebut akan berlangsung mulai hari ini hingga 17 April mendatang di Kuala Lumpur, Malaysia.
    
Kepala Pusat komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen Sisriadi menuturkan, keikutsertaan Indonesia dalam ajang tersebut bukan kali pertama. Namun, dalam keikutsertaan kali ini, ke-15 perusahaan tersebut dikoordinir oleh Kemhan. "Tadinya mereka sendiri-sendiri, sekarang kami koordinir sehingga hasilnya lebih baik," ujarnya saat dikonfirmasi kemarin.
    
Menurut Sisriadi, kebijakan mengkoordinir keikutsertaan perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari strategi promosi Kemhan. UU nomor 6 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan memerintahkan Kemhan untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan promosi industri pertahanan.
    
Koordinasi itu akan memudahkan para pelaku industri pertahanan dalam menggaet konsumen. Jika ada kebutuhan yang tidak dimiliki satu perusahaan, maka perusahaan lain bisa menyediakan. Jika salah satu perusahaan mendapat tender lalu merasa tidak mampu mengerjakan sendiri, maka perusahaan lainnya bisa ikut andil. 
       
Perusahaan yang dulunya bersaing berebut pasar akan berubah menjadi saling melengkapi demi mendapatkan proyek-proyek berskala besar. Khusus BUMN Pertahanan, beberapa tahun terakhir sudah banjir pesanan. "PT DI sudah mendapatkan pesanan dari Korea, Malaysia, Thailand, Vietnam, yang terbaru Filipina. CN-235 kita dari dulu laris terus," tuturnya.
       
Keikutsertaan Indonesia di ajang DSA dinilai penting oleh Kemhan, karena di ajang tersebut hadir pula pelaku-pelaku industri pertahanan dari negara-negara maju. Seperti Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Kanada, Inggris, Italia, Swedia, Jerman, Belanda, hingga Jepang dan Korea Selatan. 
       
Hal itu menjadi kesempatan bagi pelaku industri pertahanan Indonesia untuk menunjukkan jika produk mereka tidak kalah atau bahkan lebih kompetitif. Sehingga, peluang untuk merebut pasar, minimal di ASEAN yang selama ini didominasi negara-negara di Eropa dan Amerika menjadi lebih terbuka. (byu)

BACA JUGA: Siti Fadhilah Belum Segera Ditahan

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bendera Aceh Kembali Dibahas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler