Pemajuan Kebudayaan Indonesia Seharusnya Menjadi Pembahasan di Debat Capres-Cawapres

Selasa, 19 Desember 2023 – 19:44 WIB
Jamu merupakan salah satu hasil warisan budaya tak benda Indonesia. Foto: Kemendikbudistek

jpnn.com, JAKARTA -  Kebudayaan menjadi aset penting bagi Indonesia dalam mempertahankan identitas dan mempromosikan keunikannya di panggung dunia dalam konteks perubahan global yang cepat.

Namun, dalam debat politik, terutama dalam kontestasi pemilihan presiden, isu pemajuan kebudayaan sering kali terabaikan padahal isu ini penting dibahas dalam debat capres/cawapres sebagai langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan budaya nasional.

BACA JUGA: Ganjar-Mahfud: XVG Talents Angkat Kearifan Budaya Lokal untuk Industri Kreatif

Indonesia yang kaya dengan keanekaragaman budayanya memerlukan strategi khusus untuk memajukan dan melestarikan warisan ini. Hal ini tidak hanya penting untuk memperkuat identitas nasional, tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi kreatif dan diplomasi budaya.

Kebudayaan yang maju dapat menjadi sumber kebanggaan nasional dan alat yang efektif dalam diplomasi internasional.

BACA JUGA: Debat Capres Bakal Pakai Podium? Ganjar Lebih Mementingkan Tema ketimbang Teknis

“Pemajuan kebudayaan merupakan hal yang penting dan strategis bagi sebuah bangsa, terutama bagi Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya yang luas dan berakar. Kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai cerminan nilai, sejarah, dan identitas bangsa, tetapi juga sebagai alat penting dalam berbagai aspek pembangunan nasional dan memperkuat diplomasi kita di panggung internasional,” ujar Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaa, Riset, dan Teknologi.

Data Terkini: Indeks Pembangunan Kebudayaan dan Ditjenbud

BACA JUGA: Anies Bantah Lebih Menyerang Prabowo Ketimbang Ganjar saat Debat Capres

Data terbaru menunjukkan adanya peningkatan dalam Indeks Pembangunan Kebudayaan di Indonesia, sebuah indikasi bahwa upaya yang telah dilakukan menuai hasil.

Direktorat Jenderal Kebudayaan (Ditjenbud) telah sukses dalam mengimplementasikan program-program yang meningkatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat terhadap kebudayaan.

Ini adalah langkah positif yang perlu diperkuat dan dikembangkan lebih lanjut.

Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Indonesia mengalami peningkatan pada 2022, mencapai skor 55,13, yang merupakan tertinggi sejak pandemi.

Hal ini menandakan rebound dari penurunan skor IPK yang terjadi akibat dampak pandemi Covid-19. IPK ini disusun oleh Kemendikbudristek bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), berdasarkan kerangka kerja Culture Development Indicators (CDIs) UNESCO.

IPK terdiri atas 31 indikator yang dikelompokkan dalam 7 dimensi global: Ekonomi Budaya, Pendidikan, Ketahanan Sosial Budaya, Ekspresi Budaya, Budaya Literasi, Warisan Budaya, dan Gender.

Peningkatan IPK ini menjadi indikator penting dalam pembangunan kebudayaan nasional dan membantu dalam merumuskan kebijakan berbasis pengetahuan untuk pengembangan kebudayaan di Indonesia

Kanal Budaya Sebagai Solusi

Sebagai salah satu inisiatif terbaru Ditjenbud, Indonesiana.TV, hadir untuk mendiseminasi informasi dan pengetahuan yang mendorong peningkatan literasi dan ekspresi terkait kebudayaan.

“Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai pustaka digital, tetapi juga sebagai media ekspresi dan partisipasi masyarakat dalam konteks kebudayaan. Dengan konten yang beragam untuk umum dan anak-anak, Indonesiana.TV membuka jendela baru bagi masyarakat untuk mengenal lebih dalam kebudayaan Indonesia,” ujar Retno Raswaty, Kepala Balai Media Kebudayaan yang menaungi Indonesiana.TV.

Sudah selayaknya, kebudayaan menjadi instrumen penting dalam membangun bangsa dan negara.

Melalui pemajuan kebudayaan, Indonesia dapat menunjukkan keunikannya, membangun pemahaman lintas budaya dan keyakinan, dan membuka peluang kerja sama internasional, terutama dalam bidang pendidikan, pariwisata, dan ekonomi.

Rekomendasi untuk Capres/Cawapres

Indonesia ke depan tidak hanya mempertahankan identitas nasional dan nilai-nilai historisnya tetapi juga meningkatkan potensi ekonominya dan memperkuat pengaruhnya di dunia.

“Kita selama satu dekade ini diperlihatkan sebuah operasi kebudayaan dari Korea Selatan (Hallyu) yang didesain dengan rapi, melalui proses perencanaan yang panjang dan matang sebagai simbol identitas Korea Selatan di seluruh dunia. Tidak hanya semata menjadi sebuah diplomasi kebudayaan belaka, tapi benar-benar telah menunjukkan kepada dunia bagaimana kebudayaan Korea dikonsumsi oleh hampir setengah populasi manusia di belahan dunia lainnya. Tentu kita tidak bisa menafikan pula berapa potensi ekonomi yang bisa dihitung darinya. Oleh karena itu, strategi pemajuan kebudayaan harus menjadi prioritas dalam agenda pembangunan nasional, termasuk dalam diskusi dan debat politik, khususnya menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden,” papar Hilmar.

Calon presiden dan wakil presiden perlu memerhatikan pentingnya kebudayaan dalam strategi pembangunan nasional. Ini termasuk alokasi anggaran yang memadai, integrasi kebudayaan dalam pendidikan, pengembangan ekonomi kreatif berbasis kebudayaan, dan pemanfaatan platform media berbasis digital untuk memperkuat diplomasi budaya.

Kebudayaan harus menjadi salah satu pilar dalam visi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Isu pemajuan kebudayaan harus mendapatkan tempat yang signifikan dalam debat dan kampanye program capres dan cawapres.

Kebudayaan bukan hanya tentang bagaimana melestarikan peradaban yang diwariskan leluhur, tetapi lebih tentang membangun masa depan yang berkelanjutan agar seluruh rakyat Indonesia hidup dalam kesejahteraan.

Dengan pemahaman dan strategi kebudayaan yang tepat oleh Presiden dan Wakil Presiden RI mendatang, peran dan pengaruh Indonesia di kancah ekonomi dunia akan semakin besar peran dan pengaruhnya di kancah internasional. (flo/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler