Ditengah menguatkan penolakan pencari suaka di Pulau Manus untuk dimukimkan permanen di Papua Nugini, kelompok pertama pencari suaka yang teolah dibebaskan dari Pusat Penahanan di Pulau Manus dan ditransfer ke wilayah pemukiman baru di Kota Lorengau justru mengaku senang bisa menjadi manusia bebas dan bersedia memberi kontribusi bagi masyarakat Papua Nugini.

 

BACA JUGA: Air Asia Jual Tiket Melbourne - Denpasar Padahal tak Miliki Izin Rute Langsung

Reza Mollaghlipour  (38) merupakan Insinyur Teknik Sipil dari Iran yang mendapatkan status pengungsi oleh Pemerintah Papua Nugini. Pekan lalu, Mollaghlipour dan seorang pengungsi lain dari Pakistan meninggalkan aksi protes yang telah berlangsung di Pusat Penahanan selama sepekan dan memutuskan menerima kebijakan dimukimkan permanen di Papua Nugini. ABC menjumpai Mollaghlipour ketika tengah berbelanja di Pasar Lorengau, mencari penyu laut, kelapa dan keranjang kayu tradisional. "Setelah sekian lama tinggal di pusat penahanan, sekitar 18 bulan, saya tentu sangat senang bisa meninggalkan fasilitas itu," kata Mollaghlipour. "Saya senang bisa bebas berjalan-jalan tanpa dijaga oleh petugas keamanan, tanpa apapun hanya saya sendiri," katanya sambil tersenyum. Mollaghlipour merupakan satu dari 6 orang pengungsi yang dipindahkan ke komplek tempat tinggal senilai $137 juta yang berdiri disamping sebuah sekolah di Kota Lorengau. Mereka terdiri dari 3 warga Iran, 2 Pakistan dan seorang lagi pengungsi asal Afghanistan. dijadwalkan akan ada lebih banyak lagi pengungsi yang akan ditransfer ke wilayah ini setelah beredar kabar betapa nyaman rumah yang disediakan dan kebebasan hidup yang mereka rasakan. "Kemarin ada beberapa orang yang datang dan memutuskan untuk mau bermukim disini," kata Mollaghlipour. "Bisa dibilang kita menjalani kehidupan yang sebenarnya disini, pihak imigrasi Australia dan PNG benar-benar membantuk kita," "Komplek pemukiman bagi pengungsi di Lorengau sangat berbeda dengan tempat terakhir yang kita tempati dan saya sangat senang tinggal disini dan tidak ada masalah," tambahnya. Sejumlah warga setempat yang diwawancarai ABC mengatakan tudingan adanya ketegangan antara mereka dengan pencari suaka terlalu dibesar-besarkan. Petugas keamanan dan mantan penjaga di pusat penahanan mengatakan mereka kasihan dengan mayoritas pencari suaka dan menganggap mereka saudara. "Warga di Manus mungkin ingin para pencari suaka tinggal bersama kami karena kita butuh mereka untuk tinggal disini membangun provinsi kami dan negara Papua Nugini," kata salah satu warga PNG yang bekerja di pusat penahanan dan berbincang dengan Mollaghlipour ketika keduanya berjalan beriringan di pasar . Ketika ditanya pendapatnya tentang protes yang saat ini berlangsung dan aksi mogok makan yang terjadi di pusat pemrosesan yang dikelola Australia, Mollaghlipour sulit mengungkapkan pendapatnya dan berusaha untuk diplomatis, namun ia berharap rekannya sesama pencari suaka mau mempertimbangkan tawaran pemukiman permanen ini. "Saya tidak bisa bilang mereka benar atau salah, tapi mayoritas dari mereka tidak punya tujuan sayangnya, dan saya juga tidak mengatakan sepenuhnya tidak setuju dengan mereka, tapi menurut pemahaman saya sebaiknya mereka memikirkan baik-baik tawaran ini," katanya. Selama dua pekan, ratusan pencari suaka menggelar aksi protes atas rencana pemindahan mereka ke East Lorengau. Beberapa pencari suaka menuntut mereka tetap dimukimkan di Australia atau diserahkan ke PBB untuk dimukimkan di negara lain selain Papua Nugini. Namun Pemerintah Australia dan Papua Nugini sudah menyatakn dengan tegas hanya ada satu opsi bagi pencari suaka di Pulau Manus yakni bersedia dimukimkan di Papua Nugini atau dipulangkan kembali ke negara asal mereka. Setidaknya ada 50 pencari suaka pria  yang sudah mendapatkan status pengungsi oleh Pemerintah PNG. Para pengungsi tidak akan dimukimkan permanen di Pulau Manus, tapi akan mempelajari dulu bahasa utama dan kebudayaan warga Papua Nugini selama mereka menunggu kesempatan bekerja di provinsi lain. Mollaghlipour sendiri mengaku sangat berharap bisa menerapkan keahlian teknik sipilnya di Papua Nugini. "Saya berharap bisa menjadi orang yang berguna bagi negara ini," katanya. 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Penghargaan untuk Pangeran Philip Picu Kontroversi di Australia

Berita Terkait