Pendiri Anggap Pemred Charlie Hebdo Layak Disalahkan Atas Pembantaian

Jumat, 16 Januari 2015 – 18:20 WIB
ilustrasi

jpnn.com - PARIS - Salah seorang pendiri Charlie Hebdo, Henri Roussel mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait pembantaian 12 orang dalam serangan ke kantor majalah satir kontroversial itu. Menurutnya, Editor Stephane Charbonnier adalah salah seorang yang layak disalahkan atas kejadian tersebut.

Dalam sebuah tulisan di majalah Nouvel Obs Roussel mengungkapkan, kengototan Charbonnieru yang terus menerus membuat satir tentang Islam sebagai penyebab kematian tim redaksi Charlie Hebdo lainnya. Charbonnieru sendiri merupakan salah seorang yang tewas dalam peristiwa berdarah itu.

BACA JUGA: Boko Haram Hancurkan Dua Kota Nigeria

Ia pribadi menilai Charbonnieru sebagai seorang yang penuh dengan ide brilian. Namun, pria yang akrab disapa Chrab itu memiliki kecenderungan melakukan sesuatu secara berlebihan.

"Apa yang membuatnya merasa perlu menyeret tim (redaksi) untuk melakukannya secara berlebihan," tulis Roussel seperti dikutip oleh Dailymail.co.uk, Jumat (16/1).

BACA JUGA: Ratu Kecantikan Tewas di Meja Operasi Sedot Lemak Gratis

Menurutnya, Charb harusnya belajar dari reaksi yang muncul ketika Charlie Hebdo pertama kali menerbitkan kartun Nabi Muhammad SAW pada tahun 2011 silam. Ketika itu, kantor Charlie Hebdo dibakar hingga rata dengan tanah oleh orang tak dikenal.

"Tapi dia justru melakukannya (menerbitkan kartun nabi) lagi pada September 2012," lanjut pria yang turut menyumbang tulisan di edisi perdana Charlie Hebdo itu.

BACA JUGA: Ini Langkah Pertama AS Perbaiki Hubungan Dengan Kuba

Lebih lanjut Roussel berpendapat bahwa awak Charlie Hebdo selama ini sudah terlalu nyaman berlindung di balik jargon "kebebasan berekspresi". Akibatnya, mereka lupa bahwa karya yang mereka hasilkan dapat memprovokasi aksi balas dendam.

Ia pun mengklaim bahwa kartunis Charlie Hebdo, yang juga sahabat karibnya, Georges Wolinski memiliki pendapat yang sama. Menurutnya, Wolinski pernah mengatakan bahwa manfaat dari karyanya di Charlie Hebdo tidak sebanding dengan resiko yang ditanggung.

"Kami mengambil resiko tidak perlu, itu saja. Kami pikir kami tidak bisa dihancurkan. Selama berdekade-dekade kami membuat kericuhan dan suatu saat semua itu akan meledak di muka kami sendiri," kata Roussel mengutip perkataan Wolinski kepadanya beberapa tahun lalu.

Tulisan Roussel ini mendapat kecaman keras dari kuasa hukum Charlie Hebdo, Richard Malka. Ia meganggap tulisan tersebut tidak menghormati para korban, keluarga mereka dan publik yang turut berduka atas tragedi Charlie Hebdo.

"Charb belum lagi dikubur. Apa mereka tidak punya pekerjaan yang lebih baik dibanding mengeluarkan sebuah tulisan berbisa tentangnya," ujar Malka mengecam Roussel dan pihak majalah yang menerbitkan tulisannya. (dil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berukuran 32Z, Beshine Bangga Punya Buah Dada Terbesar


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler