Pendiri Demokrat Siapkan Pertemuan Akbar

Sehari setelah Anas Nobar Pengurus DPP

Minggu, 17 Juni 2012 – 08:25 WIB

JAKARTA - Dinamika di internal Partai Demokrat (PD) belum akan reda hingga beberapa bulan kedepan. Forum Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat yang dimotori mantan Sekjen DPP PD Ventje Rumangkang berancang-ancang mengadakan pertemuan lebih besar pada akhir Agustus 2012.
   
"Kami rencanakan, minimal tiga ribu orang yang nanti akan hadir pada pertemuan akbar itu," ujar Ventje di Jakarta, Sabtu (16/6). Menurut dia, ribuan orang yang berasal dari seluruh Indonesia itu murni merupakan para pendiri Demokrat, mulai dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota.
     
Mereka, lanjut anggota Dewan Pembina PD itu, merupakan tokoh-tokoh yang sudah memutuskan meninggalkan partai yang dibidani Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut. Sebagian besar sudah menarik diri sejak 2005. "Kami bisa rangkul lima persen saja dari mereka, elektabilitas Demokrat akan kembali naik lagi," tandas mantan ketua umum Partai Barisan Nasional (Barnas) itu.
   
Ventje termasuk politisi yang juga sempat pergi meninggalkan Demokrat. Yaitu, pada sekitar 2008 ketika dirinya didaulat memimpin Barnas. Namun, partai yang ikut berlaga pada Pemilu 2009 itu gagal memperoleh suara signifikan. Belakangan, setelah kongres Demokrat di Bandung pada 2010 lalu, Ventje diajak bergabung lagi dan duduk sebagai salah satu anggota Dewan Pembina.
   
Seiring dinamika di internal Demokrat pasca tersangkutnya sejumlah petinggi partai dalam kasus suap proyek wisma atlet SEA Games dan Hambalang, Ventje bersama sejumlah politisi Demokrat menginisiasi pendirian Forum Pendiri dan Deklarator. Dia menjadi ketua umumnya dan Ketua Departemen Perekonomian DPP PD Sutan Bhatoegana yang menjadi sekjennya.
    
 Keberadaan forum tersebut direstui oleh SBY. Setidaknya, hal itu tergambar dari hadirnya ketua dewan pembina PD itu pada kegiatan pertama forum di Hotel Sahid, 13 Juni lalu. "Tujuan kami mengumpulkan lagi para pendiri bukan untuk apa-apa, hanya sekedar ingin membangun citra partai yang makin terpuruk beberapa waktu terakhir," kata Ventje, kembali.
     
Keberadaan forum pendiri itu diakui atau tidak telah menjadi pemantik menghangatnya suhu internal Demokrat. Pada acara di Hotel Sahid yang tidak dihadiri Ketua Umum DPP PD Anas Urbaningrum saat itu, SBY sempat memberikan warning keras kepada kader Demokrat yang berprilaku menyimpang. Khususnya, mereka yang terlibat dalam perkara korupsi, diminta untuk mundur.
     
Dari situlah kemudian berkembang lagi sejumlah desakan agar Anas yang namanya ikut terseret-seret dalam perkara korupsi Hambalang untuk juga legowo mundur, atau setidaknya nonaktif. Baik, disampaikan secara terbuka seperti yang dilakukan Ruhut Sitompul, ataupun lewat sindiran seperti yang disampaikan Ventje, Hayono Isman, dan beberapa lainnya.
     
Dua hari lalu, Anas kemudian menjawab berbagai dinamika di partainya dengan cara unik. Dia mengumpulkan para pengurus DPP PD untuk diajak nonton bareng film Soegija, di Plaza Senayan, Jakarta. Anas menyebut pertemuan itu juga merupakan bentuk konsolidasi partai.
     
Terpisah, di luar kelompok yang mendorong agar petinggi Demokrat yang terseret-seret perkara korupsi mundur dari partai, suara lain atas warning keras SBY mulai muncul. Diantaranya, dari sekretaris Departemen Perbankan DPP PD Achsanul Qosasi. Dia mengajak seluruh pihak untuk memaknai pernyataan SBY dengan bijak.
     
Menurut Achsanul, pernyataan SBY tidak hanya ditujukan bagi mereka yang terlibat korupsi atau tidak bersih untuk mundur. "Tapi, juga yang tidak berkata santun dan tidak bersikap cerdas dalam aktualisasi pembesaran partai (juga harus mundur)," tegas Achsanul.
    
Dia menyatakan, sejumlah kader Demokrat juga telah disorot sebagai kader yang tidak santun. Sikap tidak tidak cerdas dan kata-kata kasar saat berdebat, dianggapnya, juga telah makin memperpuruk citra partai. "Kami saat ini berada diambang kekhawatiran, karena kami secara tidak sadar sudah masuk dalam pancingan adu domba oleh pihak yang tidak rela atas kejayaan PD," kata mantan wakil ketua Komisi IX tersebut.
     
Achsanul juga menyatakan harapannya agar semua pihak memikirkan keselamatan partai. "Kita jangan jadi tontonan, marilah saling memafkan, karena salah memberi maaf lebih baik daripada salah menghukum," tandasnya. (dyn/agm)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Hindari Ormas Bermasalah Sebagai Inspirasi RUU Keormasan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler