Berbekal topeng dan sejumlah artefak, Larry Brandy tak kenal lelah bercerita tentang budaya Aborijin Wiradjuri ke hadapan anak-anak. Ia bermimpi, budaya Aborijin mendunia dan banyak dipahami masyarakat di berbagai tempat.

Menjadi seorang pendongeng tak hanya dibutuhkan kemampuan berkomunikasi yang luwes dan ketertarikan pada dunia anak. Bagi Larry Brandy, sang pengisah asli Aborijin, kecintaan terhadap budaya sendiri menjadi motivasi utama. Di samping, ia pribadi begitu mencintai sosok anak-anak.

BACA JUGA: ELL: Pengucapan ough

Merayakan ‘Pekan NAIDOC (Komite Peringatan Hari Nasional Aborijin dan Selat Torres)’, yang jatuh di minggu pertama-kedua bulan Juli, Larry diundang untuk datang ke Indonesia dan bertemu dengan anak-anak usia sekolah di 3 kota, Jakarta; Makassar; dan Bali.

“Ini kunjungan pertama saya ke Indonesia, saya belum pernah ke sini sebelumnya. Di sini saya datang ke beberapa sekolah dan menemui sejumlah anak. Ternyata budaya Indonesia luar biasa dan anak-anaknya hebat, mereka sangat antusias mendengar dongeng saya,” tutur pria Aborijin dari suku Wiradjuri ini kepada Australia Plus.

BACA JUGA: Keluarga Myuran Sukumaran Kirim surat pada Presiden RI

“Untuk seorang pendongeng, itulah yang diharapkan,” sambungnya.

Ia lantas bercerita, “Meski saya berasal dari bagian selatan Australia, saya banyak mendengar tentang masyarakat Indonesia yang melakukan kontak dengan saudara Aborijin di utara. Tentang  orang Macassan yang datang ke Yirrkala.”

BACA JUGA: Elena Duggan Juarai MasterChef 2016

“Saya menikmati kunjungan ini meski cukup terkejut dengan kondisi lalu lintas di Jakarta,” imbuhnya sembari tergelak. Ketika bercerita pada anak-anak, Larry menggunakan topeng dan sejumlah artefak.

Facebook; Larry Brandy Aboriginal storyteller

Mendongeng secara profesional sejak tahun 1996, Larry selalu menggunakan topeng binatang dan sejumlah artefak asli Aborijin dalam tiap kisah yang ia bagikan.

“Saya berasal dari keluarga Aborijin yang hidup di New South Wales bagian pusat, tepatnya dari suku Wiradjuri. Dalam tiap dongeng, saya selalu menceritakan bagaimana dulunya orang Wiradjuri berburu dan mencari makanan,” ungkap pria yang tinggal di Canberra ini.

“Bagaimana perjuangan mereka berburu kanguru atau emu pada saat itu tanpa senjata tanpa peluru. Mereka hanya berbekal alat-alat tradisional. Saya menunjukkan kepada anak-anak bagaimana warga Aborijin menggunakannya,” kemuka Larry Brandy.

Ia mengisahkan, karirnya sebagai pendongeng berawal dari pertemuannya dengan seorang arkeolog, sekitar dua dekade silam.

“Waktu itu saya berkesempatan untuk bekerja dengan seorang arkeolog. Ia melibatkan saya dalam survei di wilayah Aborijin dan dari situlah saya terpancing untuk mengetahui budaya saya lebih dalam,” kenangnya.

Kepada Australia Plus, Larry berujar “Saya kemudian jadi terpacu untuk bertanya dan belajar kepada sesepuh Aborijin di lingkungan saya tentang budaya kami lebih jauh. Sampai sekarang-pun saya sebenarnya juga masih belajar. Nah, pertemuan itu lantas membawa saya untuk menjumpai kurator situs Aborijin dan bepergian dengannya ke sejumlah tempat.” Topeng adalah salah satu medium yang digunakan Larry untuk bercerita tentang budaya Aborijin.

Facebook; Larry Brandy Aboriginal storyteller

Latar belakang itulah yang membuat Larry memiliki gaya berbeda ketika mendongeng.

“Saya tak mengisahkan sesuatu dari buku ketika mendongeng, saya tak cuma berdiri dan bercerita. Saya benar-benar memeragakan bagaimana sesepuh kami dulu berburu dan meminta anak-anak untuk berperan jadi hewan,” utara pria yang pernah mendongeng hingga ke negara-negara Amerika utara ini.

“Saya hanya mendongeng kisah dari tanah adat saya sendiri,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan jika Larry melakoni profesi ini dengan sepenuh hati. Baginya, menjadi pendongeng adalah panggilan jiwa.

“Tentu saja saya bersenang-senang ketika melakukannya. Tapi saya ingin memberi tahu bagaimana orang-orang Aborijin bisa bertahan dan bahwa budaya Aborijin adalah salah satu yang tertua di dunia, contohnya penggunaan bumerang di zaman dahulu,” jelasnya saat berbincang dengan Australia Plus via sambungan telepon, medio Juli 2016.

“Untuk anak-anak muda di lingkungan saya, saya berharap agar mereka lebih menghargai budaya yang diturunkan dan diajarkan para sesepuh.”

Di luar masyarakat Aborijin, Larry juga memiliki keinginan terpendam.

“Saya ingin sampaikan kepada anak-anak, kaum muda dan dunia bahwa Aborijin adalah masyarakat yang cerdas, lihat saja dari teknologi bumerang dari jaman dahulu. Ada berbagai desain dan cara melempar bumerang yang disesuaikan dengan target buruan. Saya tak tahu apa yang orang pikirkan tapi bagi saya, budaya kami menakjubkan. Itu pesannya.”

Diperbarui: 22:10 WIB 27/07/2016 oleh Nurina Savitri.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bersikap Kasar pada Guru, 150 Orang Tua Dilarang ke Sekolah

Berita Terkait