Peneliti Sebut Pandemi Covid-19 Akibat Ulah Manusia, Begini Penjelasannya

Senin, 20 September 2021 – 16:40 WIB
Ilustrasi karyawan perkantoran bekerja di masa pandemi Covid-19. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, KAMBOJA - Kepala Virologi Institut Pasteur du Cambodge (IPC) di Phnom Penh, Kamboja, Veasna Duong mengatakan bahwa terjadinya pandemi Covid-19 adalah kesalahan manusia.

Dia menilai pandemi Covid-19 terjadi akibat gangguan dan kerusakan habitat alami kelelawar.

BACA JUGA: BNPB dan Satgas Covid-19 Laksanakan Gerakan Mobil Masker di Pangandaran

"Kalau kita coba dekat-dekat dengan satwa liar, kemungkinan virus dibawa oleh satwa liar lebih besar dari biasanya," kata Veasna Duong dikutip dari Reuters, Senin (20/9).

Menurutnya, potensi virus bertransformasi dan menginfeksi manusia lebih besar saat habitat hewan terganggu.

BACA JUGA: 7 Keunggulan Ekskavator Cat 323 GC, Mendukung Sektor Industri di Masa Pandemi

Oleh sebab itu, IPC saat ini melakukan penelitian dengan mengumpulkan sampel dari kelelawar di Kamboja Utara.

Penelitian tersebut bertujuan untuk menelusuri penyebab awal terjadinya pandemi Covid-19 di seluruh dunia.

BACA JUGA: Bea Cukai Beri Fasilitas Rush Handling Impor Vaksin dan Alkes di Jatim dan Jakarta

Dua sampel dari kelelawar tapal kuda dikumpulkan pada 2010 di provinsi Stung Treng, dekat Laos lalu disimpan dalam freezer IPC.

Penelitian itu mengungkapkan virus yang dimiliki kelelawar tapal kuda berkerabat dengan Covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 4,6 juta orang di seluruh dunia.

"Kami berharap hasil dari penelitian ini dapat membantu dunia untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Covid-19," jelas koordinator lapangan Thavry Hoem.

Menurutnya, spesies inang seperti kelelawar biasanya tidak menunjukkan gejala patogen, tetapi hal ini dapat merugikan bila ditularkan ke manusia atau hewan lain.

Insinyur Penelitian di Unit Virologi IPC Julia Guillebaud menilai perdagangan satwa liar juga memengaruhi terjadinya pandemi Covid-19.

"Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan rantai perdagangan daging liar di Kamboja, mendokumentasikan keragaman betacoronavirus yang beredar melalui rantai ini, dan mengembangkan sistem deteksi dini yang fleksibel dan terintegrasi dari peristiwa penyebaran virus," papar Gillebaud.

Virus mematikan yang berasal dari kelelawar antara lain Ebola dan virus corona lainnya seperti Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS). (mcr9/jpnn)


Redaktur : Dedi Yondra
Reporter : Dea Hardianingsih

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler