Pengakuan 2 PSK ABG, di Daerah Ini Banyak Peminat, Bisa Pasang Tarif Tinggi

Sabtu, 10 Agustus 2019 – 00:17 WIB
Dua PSK masih di bawah umur, Mawar, 14, dan Melati, 17, ketika dimintai keterangan oleh penyidik Satpol PP Banjarbaru di Mako Satpol PP Banjarbaru. Foto: Muhammad Rifani/Radar Banjarmasin

jpnn.com, BANJARBARU - Kasus terungkapnya prostitusi online yang dua PSK-nya merupakan remaja di bawah umur, memantik keprihatinan masyarakat Banjarbaru, Kalsel. Pasalnya, ada dugaan masih ada puluhan PSK berusia belia yang menjalankan bisnis serupa di Kota Idaman itu.

Cara bertransaksi yang dilakukan para PSK online sendiri sama dengan dua gadis belum cukup umur yang diamankan Satpol PP Banjarbaru, Senin (5/8), yakni, menggunakan aplikasi MiChat.

BACA JUGA: 2 PSK ABG Tarif Rp 400 Ribu di Kamar bersama 6 Pria Remaja, 2 Berseragam Sekolah

Dari penelusuran Radar Banjarmasin melalui aplikasi pesan instan gratis itu ditemukan banyak akun terindikasi sebagai wanita BO (Booking Order).

Dengan menggunakan fitur aplikasi mencari teman di sekitar, ada beberapa akun yang menunjukkan unsur sebagai wanita BO. Salah satunya, dengan memasang foto seronok. Bahkan, adapula yang terang-terangan menulis pada kolom keterangan di akunnya bahwa mereka siap di-booking.

BACA JUGA: Sempat Mau Bunuh Diri, Vanessa Angel: Semua Orang Meninggalkan Aku

Anggota PPNS Satpol PP Banjarbaru, Yanto Hidayat mengatakan, jika ada akun MiChat yang memasang foto seronok dan terang-terangan menulis kata "BO" sudah hampir dipastikan itu milik PSK.

"Foto dan tulisan 'BO' salah satu unsur untuk mengetahui bahwa akun itu milik wanita BO," katanya.

BACA JUGA: Trauma ke Surabaya, Vanessa Angel: Takut Enggak Pulang Lagi

BACA JUGA: 2 PSK ABG Tarif Rp 400 Ribu di Kamar bersama 6 Pria Remaja, 2 Berseragam Sekolah

Dia mengungkapkan, berdasarkan list mereka ada belasan akun MiChat yang terindikasi digunakan PSK untuk menjalankan bisnis prostitusi online. "Belasan akun tersebut sedang kami awasi secara intens dan menjadi target kami selanjutnya," ungkapnya.

Meski banyak akun MiChat yang terindikasi sebagai PSK, akan tetapi Yanto menyampaikan pihaknya tidak bisa langsung menindak semua pemilik akun itu. Lantaran keterbatasan personel. "Tugas kita bukan hanya itu. Kita juga harus menertibkan PKL dan mengawasi eks lokalisasi. Jadi, target akun kami bongkar secara bertahap," bebernya.

Selain itu, dia mengungkapkan bahwa para PSK online seringkali berpindah-pindah indekos dan penginapan. Sehingga, mereka tidak bisa gegabah untuk melakukan penggerebekan.

"Mereka kebanyakan bukan orang asli Banjarbaru. Di sini hanya mengontrak dan dalam hitungan hari dan pekan mereka bisa pindah kontrakan," ungkapnya.

Seperti halnya dua PSK di bawah umur yang mereka amankan Senin (5/8). Keduanya merupakan warga Banjarmasin dan memilih beroperasi di Banjarbaru.

"Mereka paling berada di Banjarbaru selama tiga hari, lalu pulang ke Banjarmasin. Ketika ke Banjarbaru, mereka beralasan kepada orang tua menginap di temannya," ujar Yanto.

Lalu kenapa para PSK memilih beroperasi di Banjarbaru? Dia menjelaskan, sesuai dengan pengakuan para PSK yang pernah mereka amankan, Banjarbaru dipilih lantaran lebih mudah mendapatkan pelanggan.

"Kata mereka di Banjarbaru banyak peminat. Pendapatan mereka juga lebih banyak di Banjarbaru, dibandingkan di daerah lain," jelasnya.

Sebelumnya, dua PSK online di bawah umur saat diamankan Satpol PP Senin (5/8) tadi, sebut saja Mawar, 14, dan Melati, 17, sama-sama mengaku mematok tarif dari Rp400 ribu. Paling mentok nego Rp100 ribu.

Penghasilan segitu sudah cukup bagi mereka membayar sewa kamar: Rp150 ribu per hari. Sebab, dalam sehari keduanya bisa mendapatkan dua sampai tiga pelanggan.

Secara domisili tempat tinggal keduanya di Banjarmasin. Mereka ke Banjarbaru hanya mengadu peruntungan. Lantaran dari pengakuan keduanya jika di Banjarbaru lebih menjanjikan.

"Kalau di Banjarmasin pasarannya paling mentok Rp200 ribu dan saingannya banyak. Nah di sini lebih tinggi tarifnya," ungkap Mawar ketika di interogasi petugas.

Lantas apa yang melatarbelakangi keduanya masuk ke bisnis hitam ini? Mengingat dua gadis ini juga masih di bawah umur dan masih usia sekolah. Mawar dan Melati menjawab kompak: himpitan ekonomi, pergaulan dan masalah keluarga.

BACA JUGA: Duel Maut Tangan Kosong, Satu Terkapar tak Bernapas Lagi

"Saya sudah lulus sekolah SMP, tapi tidak melanjutkan ke SMA. Setelah itu terpengaruh lingkungan dan di ajak-ajak buat beginian, karena penghasilannya lumayan. Tapi saya tidak rutin setiap hari seperti yang lainnya," bela Melati.

Sementara Mawar mengaku putus sekolah di jenjang SMP dan terjerumus ke dunia sekarang. (ris/ran/ema)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PSK Baru Kerja 4 Hari, Digerebek Saat Sedang Tunggu Om Hidung Belang


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler