Pengamat Beberkan Rahasia Erick Thohir Bisa Jadi Cawapres Favorit di Jatim

Jumat, 24 Juni 2022 – 18:12 WIB
Erick Thohir menjadi calon wakil presiden (cawapres) favorit masyarakat Jawa Timur (Jatim) versi survei Poltracking Indonesia. Ilustrasi Foto: Dok. Ricardo/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Erick Thohir menjadi calon wakil presiden (cawapres) favorit masyarakat Jawa Timur (Jatim) versi survei Poltracking Indonesia.

Menteri BUMN Erick Thohir menempati urutan teratas 14,2 persen untuk kandidat cawapres pilihan warga Jatim dengan simulasi 15 calon.

BACA JUGA: Ini yang Bikin Elektabilitas Erick Thohir Melesat di Jawa Timur

Erick bahkan 'menyalip' kepopuleran Khofifah Indar Parawansa yang saat ini menjabat Gubernur Jatim dan Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.

Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Ucu Martanto menilai Poltracking Indonesia merupakan salah satu lembaga survei politik yang kredibel. 

BACA JUGA: Survei Charta Politika: Ganjar - Erick Teratas Pilihan Publik

Menurutnya, hasil yang disajikannya dapat mencerminkan mayoritas pilihan masyarakat di Jatim.

"Tingginya kepopuleran Erick sebagai cawapres di Jatim dinilai karena exposure kegiatan Menteri BUMN yang cukup agresif baik di media konvensional maupun sosial media. Terlebih lagi saat ini Erick sangat intens menjalin silahturahmi dengan pesantren dan kyai karismatik di Jatim," beber Ucu.

BACA JUGA: Gerilya Erick Thohir untuk Pilpres 2024 Dinilai Berhasil

Ucu menyebutkan langkah yang dilakukan Menteri Erick untuk dekat dengan pesantren dan kyai sangat efektif mengangkat kepopuleran di masyarakat Jatim. 

"Padahal dia bukan berasal dari etnis Jawa dan bukan kader Nahdlatul Ulama," kata Ucu.

Dia juga mengatakan langkah Erick ini berbanding terbalik dengan Puan Maharani, yang  sudah gencar melakukan 'serangan udara'. 

"Memang sebagai kader PDIP Puan sangat dikenal masyarakat Jatim. Tetapi, semua tak cukup untuk memikat masyarakat Jatim memilihnya sebagai capres atau cawapres," ucapnya.

Ucu menjelaskan berdasarkan simulasi yang dilakukan Poltracking Indonesia, Puan yang dipasangkan dengan Prabowo Subianto malah membuat elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut melorot 19,4 persen. 

Angka ini jauh di bawah simulasi pasangan Ganjar - Erick 38,1 persen.

"Justru Puan menjadi salah satu komponen yang menurunkan kepopuleran capres yang sudah sangat populer,"terang Ucu.

Sejak pilpres dilakukan secara langsung 2004, identitas partai yang melekat ke figur personal dinilai sudah tak memiliki pengaruh yang kuat untuk memenangkan capres dan cawapres. 

Ucu menambahkan saat ini masyarakat memilih capres cawapres berdasar figur personalnya yang sesuai dengan keinginannya.

"Kini parpol hanya bisa menjadi suplemen. Baik itu mengangkat atau menjatuhkan capres cawapres. Misalnya capres cawapres di dukung parpol yang kuat, kemungkinan untuk memenangkan pilpres di Jatim akan sangat besar," jelas Ucu.

Masyarakat yang saat ini memilih sosok figur personal dinilai tidak bagus bagus untuk pembangunan demokrasi dan pendidikan politik di Indonesia. 

Idealnya capres cawapres harus menyatu dengan parpol. Tujuannya ketika ada masalah terjadi di masa kepemimpinannya, masyarkat dapat menyalurkan aspirasinya ke parpol.

"Partai yang mencari sosok capres secara pragmatis tidak baik bagi pendidikan demokrasi di Indonesia," pungkas Ucu.(mcr8/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Kenny Kurnia Putra

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler