Pengamat: Bicara di Forum Internasional Para Mantan Kepala Negara, AHY Terlihat Makin Berkualitas

Sabtu, 05 November 2022 – 02:38 WIB
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono yang juga Ketua Umum DPP Partai Demokrat tampil memberikan saran solusi dalam forum internasional bernama Club de Madrid (CdM) yang dihadiri puluhan mantan kepala negara di Berlin. Foto: Dok. TYI

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai makin menunjukkan kualitas dan kompetensi kepemimpinannya setelah tampil memberikan saran solusi dalam forum internasional, yang dihadiri puluhan mantan kepala negara di Berlin.

“Meskipun singkat, pernyataan AHY mampu merangkum utuh persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi dunia dan sekaligus menyodorkan opsi-opsi solusi yang fundamental serta praktis,” kata Bawono Kumoro dari lembaga survei Indikator Politik memberikan penilaian.

BACA JUGA: Di Hadapan Tokoh Dunia, AHY Sampaikan 3 Pandangan untuk Mencegah Krisis di Masa Depan

Dalam forum Club de Madrid (CdM) yang dihelat selama dua hari, sekitar 40 mantan pemimpin pemerintahan dari negara-negara yang demokratis, saling bertukar pikiran mengantisipasi ancaman terjadinya mega krisis yang multi dimensional.

Ini mencakup perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ancaman resesi global serta perubahan iklim yang makin tidak menentu.

BACA JUGA: Elektabilitas Demokrat di Kalangan Generasi Z Moncer, Irwan Fecho: AHY Jadi Magnet

Berbicara pada hari terakhir, AHY yang hadir dalam kapasitas sebagai Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) menyampaikan pandangannya untuk mencegah krisis ini terjadi makin jauh.

“Tidak ada resep rahasia. Namun izinkan saya untuk menyampaikan tiga catatan yang saya yakin akan sangat penting bagi upaya kita dalam membekali diri untuk mencegah krisis terjadi di masa depan,” kata AHY.

BACA JUGA: Babak Baru Kasus ACT yang Menyeret Ahyudin Cs

Pertama, kita tidak boleh menunggu sampai krisis dimulai sebelum kita melakukan sesuatu. Di dunia yang penuh ketidakpastian, pencegahan dan kesiapsiagaan akan menjadi makin penting.

“Kita melihat bagaimana dunia telah membayar mahal untuk keterbatasan kita mencegah dan mempersiapkan apa yang mungkin terjadi ke depan. Dunia perlu dibekali dengan kapasitas yang memungkinkan kita untuk selalu siap,” lanjut AHY, yang berpengalaman bertugas di daerah konflik sebagai pasukan perdamaian PBB.

Selanjutnya, AHY mengingatkan agar kita tidak mengandalkan teknologi semata untuk mencegah krisis.

“Faktor manusia, seperti kepemimpinan dan karakter pemimpin akan menjadi faktor penentu. Manusialah yang harus membuat pilihan sulit untuk mengakhiri perang dan konflik, mengutamakan agenda iklim, beralih ke energi terbarukan, mereformasi bisnis dan pemerintahan, dan lain sebagainya,” kata AHY, yang juga kandidat Doktor dalam pengembangan sumber daya manusia.

Ketiga, lanjut AHY, semua negara dan aktor global perlu beradaptasi dengan dinamika global. Pertukaran ide, kolaborasi dan kemitraan perlu lebih ditingkatkan.

“Saya percaya bahwa para pemimpin global di Club de Madrid telah membuka jalan di depan ini,” tambahnya.

“Kita tidak membutuhkan institusi atau lanskap global yang sama sekali baru. Kita hanya perlu menimbang kembali urgensi untuk bekerja sama, menempatkan perspektif baru di mana semua aktor global, aktor negara dan non-negara, dapat bersatu dalam menjalankan tujuan bersama dalam mengatasi tantangan global,” tegas AHY.

AHY menyampaikan semua ini di depan tokoh-tokoh senior dari berbagai negara antara lain, Danilo Türk President of CdM and President of Slovenia (2007-2012), Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, President of Bolivia (2001-2002) Jorge Fernando Quiroga, President of Mexico Felipe Calderón (2006-2012), President of Poland (1995 – 2005) Aleksander Kwa?niewski, dan President of Mali (2014-2015) Moussa Mara. Perdana Menteri Inggris (2007-2010) Gordon Brown, hadir secara virtual.

Dalam penilaian Bawono, saran-saran AHY ini menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin pada era kini, saat berbagai persoalan berjalin berkelindan, dan melampaui batas-batas geografis maupun waktu.

"Kompleksitas persoalan yang dihadapi Indonesia pada saat ini menuntut kepemimpinan yang memiliki integritas, wawasan luas, kompetensi keilmuan sekaligus ketegasan. Persoalan-persoalan baru ini tidak bisa dipecahkan dengan cara-cara lama, seperti yang dilakukan kepemimpinan pada saat ini,” tegas Bawono.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler