Pengamat: 'Blanket Guarantee' Century Ditolak JK

Senin, 21 Desember 2009 – 17:57 WIB
JAKARTA - Dua hari sebelum Bank Century di-bailout, pengamat ekonomi A Tony Prasetiantono mengaku sudah menawarkan ide blanket guarantee (penjaminan dana nasabah 100 persen)Tujuannya katanya, agar dengan demikian Bank Century tak perlu dikhawatirkan, sehingga harus dilakukan langkah penyelamatan.

Ide itu, menurut Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM ini, ditawarkan dalam seminar di Hotel Shangri La bertajuk "BNI Economic Outlook: Opportunity in Crisis", pada 18 November 2008 lalu

BACA JUGA: Hakim Tipikor Luncurkan Jalan Tiada Ujung

Seminar itu, kata Tony pula, bahkan ditayangkan ulang Metro TV
Perihal tawaran ide itulah yang kini kembali diungkapkan Tony, saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk "Penyehatan Perbankan dalam Perspektif Hukum Ekonomi dan Politik", di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Senin (21/12).

Sayangnya kata Tony, Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK) yang juga menjadi pembicara ketika itu, menolak ide tersebut

BACA JUGA: Pengamat Benarkan Century Beresiko Sistemik

Padahal katanya, andaikata blanket guarantee diberikan, penutupan Bank Century akan menjadi sebuah keniscayaan dan sudah pasti tidak beresiko sistemik.

"Saya menawarkan ide itu, juga untuk mencegah flight to quality dari bank kecil ke bank besar, dan dari bank besar ke bank asing
Bahkan (untuk mencegah) capital outflow ke luar negeri," ungkapnya.

Namun Wapres JK menolak, yang kata Tony pula, dengan alasan bahwa dominasi bank BUMN masih besar, yang diidentikkan sebagai blanket guarantee

BACA JUGA: SBY Diundang di Kampanye GIB

"Pada posisi itu, saya berbeda pendapat dengan Pak JKKarena nyatanya sudah banyak bank besar seperti BCA, Danamon, BII yang juga cukup dominan," tegasnya.

Pembicara lain dalam seminar itu, Pradjoto, masih menurut Tony, juga membenarkan pernyataannyaPasalnya ketika itu katanya, saat krisis terjadi, tiba-tiba terjadi penambahan tabungan secara signifikan di sejumlah bankSalah satunya adalah di Bank Mandiri.

Tony menegaskan, kebijakan bailout yang sudah dilakukan pemerintah kemudian, jauh lebih murah dibanding kebijakan lain yang mungkin diambilIa bahkan menunjukkan hitung-hitungannyaKebijakan bailout tanpa blanket, kata Tony, sudah terbukti dengan Rp 6,7 triliunTapi andaikata kebijakannya bukan bailout dan tanpa blanket guarantee, ia memastikan nilainya lebih besar dari Rp 6,7 triliun.

Rinciannya, masih menurut Tony, untuk DPK saja akan butuh Rp 9 triliunBelum lagi biaya langsung Rp 6 triliun dan biaya tidak langsung akibat panic withdrawal 23 peer banks.

Kebijakan lain bisa dengan bukan (memberlakukan) bailout, tetapi memakai blanket guaranteeUntuk langkah tersebut, dibutuhkan DPK sebesar Rp 9 triliun dan biaya Rp 9 triliun"Ini menunjukkan bahwa langkah bailout itu jauh lebih murah dari dua pilihan langkah lain yang bisa dilakukan," tegasnya.

Karena itu, menurut Tony lagi, kebijakan penyelamatan Century yang dilakukan pada 21 November 2008, sesuai kondisi saat itu sebenarnya sudah tepatSebab katanya, aset Century yang hanya Rp 14 triliun dan DPK Rp 9 triliun menjadi tidak bisa dipandang enteng, akibat kondisi obyektif yang terjadi saat itu(har/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 4 Bank AS Dibobol Hacker Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler