Pengamat: Jokowi Bakal Ditinggalkan Parpol Pendukung Pada Tahun Kedua

Kamis, 30 Januari 2020 – 23:17 WIB
Pengamat politik dan hukum dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta Saiful Anam. Foto: Dokpri

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik dan hukum dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta Saiful Anam mengatakan kesetiaan partai pendukung Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang kini berada di dalam kabinet akan luntur pada tahun ke dua.

Kesetiaan partai koalisi pada Jokowi tersebut, kata Saiful, akan lebih cepat luntur jika dibandingkan saat Jokowi menjabat pada periode pertama.

BACA JUGA: Prediksi Arya Tentang Reshuffle Kabinet Indonesia Maju

“Mereka akan berpikir untuk mempersiapkan Pilpres 2024 nanti,” kata Saiful Anam dalam keterangan persnya, Kamis (30/1/2020).

Dosen Politik Hukum Tata Negara Unas itu menambahkan riak-riak kecil di internal partai koalisi itu sudah terjadi pada periode ke-2 Jokowi menjabat. Ketua umum partai NasDem Surya Paloh sering memunculkan bola panas itu meskipun anak buahnya jadi menteri.

BACA JUGA: Bamsoet: Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Maju Harus Pangkas Regulasi Perizinan dan Pajak

Menurutnya, tidak bisa dimajukannya Jokowi pada Pilpres 2024 nanti menjadi salah satu faktor utama para pendukungnya cepat-cepat pergi meninggalkannya. Ditambah lagi, kekompakan di antara partai koalisi juga menjadi penentu.

“Tahun pertama keloyalan pendukung maupun partai koalisi Jokowi sangat kuat. Pada tahun kedua, loyalitas pendukung Jokowi mulai berkurang. Tahun ketiga, keempat dan kelima Jokowi akan mulai ditinggal oleh para pembantunya,” katanya.

BACA JUGA: Saiful Anam: Keberadaan BIMBA Bagian Dari Pemasyarakatan Minat Baca

Saiful Anam menambahkan, partai politik pendukung Jokowi akan mulai menghimpun kekuatan untuk menghadapi Pilpres 2024.

“Mereka ada yang menghimpun kekuatan baru antarsesama koalisi, koalisi dengan oposisi. Ada kemungkinan partai yang selama ini di tengah kemudian masuk menjadi mitra koalisi. Untuk itu, Jokowi mesti hati-hati dan mempertimbangkan dengan seksama langkah politik yang akan diambil," ujarnya.

Saiful menyarankan agar Jokowi mewaspadai hal itu. Oleh karena itu, Saiful berharap agar Jokowi mekukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja para menteri pada tahun pertama.

"Kan saat ini tidak ada evaluasi 100 hari. Jadi, reshuffle akan dilakukan Jokowi pada satu tahun jabatannya usai, terlebih lagi bagi menteri yang sering membuat kegaduhan yang tidak sejalan dengan visi dan misi Presiden," ungkap Saiful.

Saiful menjelaskan akibat terjadinya pergeseran loyalitas dari partai pendukung, maka ditengah hingga akhir periode keduanya ini, Jokowi akan dekat kembali dengan relawannya yang diehard pada Pilpres 2014 dan 2019 guna mengawal maksimal pembangunan yang akan ditinggalkan sebagai kenangan manis bagi rakyat Indonesia.

"Oleh karena itu, Jokowi tidak perlu takut memecat pembantunya yang berkinerja buruk. Jokowi tentunya sangat ingin meninggalkan sesuatu yang terbaik sebagai legacy-nya setelah 10 tahun memimpin sebagai Presiden Indonesia ke-7. Jokowi sangat ingin dicatat oleh sejarah sebagai presiden yang berhasil memajukan Indonesia dengan Kabinet Indonesia Majunya," pungkas Saiful Anam.(fri/jpnn)
Semua WNI di Tiongkok Dievakuasi:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler