Pengamat Sebut Sudah Lama Pelajaran Sejarah Mau Dihilangkan

Sabtu, 19 September 2020 – 19:17 WIB
Dudung Nurullah Koswara. Foto: dok pribadi for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat dan praktisi pendidikan Dudung Nurulah Koswara tidak gembira dengan klarifikasi Kemendikbud bahwa mata pelajaran (mapel) sejarah tetap dipertahankan. Sebab, sudah sejak lama mapel ini akan dihilangkan.

"Ada satu jenis tindakan aborsi yang sangat berbahaya dan sangat berisiko tinggi  hadirnya cacat mental  kebangsaan. Cacat nasionalisme, nir kepahlawanan dan nir adab. Tiada lain adalah aborsi sejarah suatu bangsa dalam sebuah kurikulum di dunia pendidikan," kata kepala SMAN 1 Parungpanjang ini kepada JPNN.com, Sabtu (19/9).

BACA JUGA: Siswa Paling tak Suka Mapel Sejarah Dipaparkan Guru, Lantas Disuruh Menghafal

Dia melanjutkan, bila seorang ABG gagal aborsi maka bisa melahirkan cacat fisik seorang anak. Namun, upaya aborsi mata pelajaran sejarah di dunia pendidikan adalah dosa tak terampuni.

Sebagai sarjana sejarah, guru sejarah dan pengurus organisasi profesi guru di tingkat nasional, Dudung mengaku sudah lama merasa geli. 

BACA JUGA: Pelajaran Sejarah Dihapuskan? Ini Klarifikasi Kemendikbud

"Tanda-tanda aborsi itu sudah ada  sejak lama,  bahkan sebelum Presiden Jokowi dan Nadiem Makarim menjadi Presiden dan Menteri. Bukankah mata pelajaran sejarah tidak diolimpiadekan? Bukankah dahulu tidak ada OGN sejarah? UN pun tidak ada mata pelajaran sejarah!," tegas Dudung.

Dudung mengaku pernah berdebat dengan Anas M. Adam yang saat itu menjabat di Kemendikbud. Dia protes,  mengapa dana negara mengalir miliaran rupiah untuk OSN dan OGN nir pelajaran sejarah?  

BACA JUGA: Pelajaran Sejarah Harus Dalami Figur Tokoh

"Mengapa mata pelajaran sejarah. Guru sejarah dan siswa IPS peminat sejarah tidak difasilitasi dalam OSN Sejarah.  Bangsa dan birokrasi Malin Kundang cenderung mengabaikan sejarah," kritiknya.

Ketua PB PGRI ini menerima pengaduan tentang mata pelajaran sejarah di SMK yang mulai diabors. Tanpa sejarah,  suatu bangsa akan bermasalah.  Bangsa tuna atau nir sejarah adaah bangsa yang tak punya nilai kebangsaan. Bahkan tanpa mengisahkan sebuah sejarah masa lalu, para Nabi sekali pun akan sulit diterima jamaah atau suatu kaum.   

"Bukankah ajaran  semua agama di muka bumi ini berkisah tentang “Sejarah Perilaku Para Nabi?”.  Ajaran  sejarah kebangsaan  dalam mata pelajaran sejarah adalah wajib!," tandasnya. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler