Penggalian Situs Pra-Majapahit Makin Luas, Tol Mapan Bagaimana?

Senin, 18 Maret 2019 – 08:41 WIB
Konstruksi Tol Pandaaan-Malang. Foto dok humas PT PP

jpnn.com, MALANG - Peluang diubahnya jalur tol Malang - Pandaan (Mapan) cukup besar. Pasalnya, areal penggalian ditemukannya batu bata kuno yang diduga situs peninggalan pra-Majapahit itu semakin meluas.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur menyebut dua kemungkinan. Yakni, pemukiman penduduk atau punden besar.

BACA JUGA: Jalur Tol Malang – Pandaan Berpotensi Diubah

Jika prediksi BPCB itu terbukti, dua skema yang sebelumnya mencuat, tidak memungkinkan dilaksanakan alias ”kandas”. Yakni, menggeser jalur sekitar 10 meter dari titik ditemukannya situs atau membangun flyover.

Tapi, jika terjadi perubahan jalur, hanya di seksi V (Pakis–Cemorokandang). Sedangkan seksi I–IV (Pandaan–Karanglo) tidak terdampak.

BACA JUGA: Ada Tol Malang – Pandaan, Beberapa Tempat Usaha Mulai Boyongan

Pantauan Jawa Pos Radar Malang di lokasi, Sabtu (16/3) penggalian terus dilanjutkan. Padahal sebelumnya, ditargetkan penggalian berakhir akhir pekan kemarin.

BACA JUGA: Ada Tol Malang – Pandaan, Beberapa Tempat Usaha Mulai Boyongan

BACA JUGA: Ini Perkiraan Tarif Tol Malang - Pandaan

”Penggalian akan diperpanjang hingga Kamis (21/3),” ujar arkeolog dari BPCB Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho saat ditemui di sela-sela penggalian.

Hingga kini, areai penggalian seluas 15 x 25 meter. Struktur bangunan kuno itu mulai tampak. Tapi, tim dari BPCB Jawa Timur belum berani menyimpulkan. Karena sejak empat hari berlangsung penggalian, pihaknya terus menemukan titik-titik baru.

”Sebelumnya kami temukan yang ini. Tadi (kemarin) kami temukan lagi di titik sana itu. Mungkin masih ada beberapa titik lagi,” kata Wicaksono sambil menunjuk lokasi galian baru.

Dia memaparkan, ada tiga ukuran batu bata yang berbeda dari struktur batu-batu yang baru itu. Di antarannya, ukurannya lebih besar. Yakni, 38x25 sentimeter dengan tebal 8 sentimeter.

Kemudian ada yang berukuran 32x23 sentimeter dengan ketebalan sekitar 6 sentimeter. Ditemukan juga batu berukuran 35x20 sentimeter.

”Dari hasil galian dan temuan-temuan itu, kami memprediksikan luas bangunannya mencapai 50 meter ke arah barat daya,” ungkapnya.

Untuk mengidentifikasi bangunan kuno tersebut, pihaknya memisahkan struktur batu bata yang remuk karena runtuh dengan yang masih utuh. ”Jadi, nanti bisa dengan mudah diketahui bangunan jenis apa,” kata dia.

Selain memperpanjang masa penggalian, Wicaksono juga menambah personelnya. ”Personel juga ditambah enam orang. Untuk mempercepat ekskavasi agar sesuai target,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Teknik (Dirtek) PT Jasa Marga Pandaan–Malang Siswantono menyatakan, pihaknya sudah mengetahui informasi terbaru hasil penggalian. ”Kabarnya ada perpanjangan masa galian,” kata Siswantono.

Siswantono belum memastikan skema apa yang akan dilakukan untuk melanjutkan pembangunan tol Mapan di seksi V. Sebab, pihaknya belum mengetahui berapa ukuran situs yang masih digali itu.

”Kami masih menunggu keterangan lebih lanjut dari peneliti situs,” kata pria asal Kota Batu itu.

Hasil penelitian BPCB itu akan dikoordinasikan dengan Balai Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR). ”Kami akan minta arahan dari BPJT,” katanya.

Bagaimana jika situs itu adalah pemukiman penduduk atau punden? Siswantono memaparkan, pihaknya akan mengoordinasikan dengan BPJT. Dia menyadari, jika area penggalian yang diduga situs itu terlalu luas, berpotensi memotong jalur tol Mapan di seksi V. ”Yang jelas akan meng-crossing ring road tol, tentu akan kami tindak lanjuti,” kata Siswantono.

Meski belum memastikan langkah apa yang akan dilakukan, Siswantono menyebut skema pembangunan flyover tidak bisa dilakukan. ”Kan ada sutet (di area penemuan situs). Nggak bisa dibangun flyover,” katanya.

Disinggung mengenai rencana penggeseran, Siswantono juga menyatakan perlu melakukan pengkajian lebih detail. Misalnya, penggeseran jalur tetap memperhitungkan keberadaan jembatan. Untuk diketahui, sekitar 300 meter dari lokasi ditemukannya batu bata kuno itu terdapat jembatan.

Jangan sampai jembatan sudah dibangun itu tidak berfungsi karena rute baru terlalu melenceng.

”Kalaupun mau menggeser jalur, tetap harus memperhitungkan teknis perencanaannya,” katanya. ”Jalan tol itu kan gak boleh kalau lengkungannya terlalu tajam,” tambah Siswantono.

Jika terjadi perubahan jalur, Siswantono menilai ada dampak yang dialami PT Jasa Marga. Misalnya, pembengkakan anggaran.

Jika saat ini diperkirakan menghabiskan anggaran Rp 5,9 triliun, bisa jadi akan membengkak jika ada perubahan jalur. ”Setiap ada perubahan struktur, ya pasti menambah anggaran,” katanya. (bdr/c2/dan)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Target Operasional Tol Malang – Pandaan Molor


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler