Pengkhianat

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Minggu, 29 Mei 2022 – 18:33 WIB
Ilustrasi pemilu presiden. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com - Pemilu presiden masih dua tahun lagi, tetapi hawa panas sudah menyengat mulai sekarang.

Kubu-kubu sudah terbentuk dan konsolidasi makin kuat dan mengerucut.

BACA JUGA: Tanggapi Pidato Jokowi Soal Pilpres, Qodari: Tiga Periode Hidup Lagi

Garis demarkasi sudah dipasang untuk memisah antara kawan dan lawan.

Meminjam ungkapan George Bush, ‘’Either you are with us or aginst us’’, kamu ada di pihak saya atau menjadi musuh saya.

BACA JUGA: Megawati dan Jokowi Bisa Saja Sudah Bahas Pencapresan di PDIP

Tidak ada yang boleh mengangkang, satu kaki di sini dan kaki lainnya di sana.

Dua kaki harus tegas dan jelas ada di dalam satu garis, dalam satu barisan.

BACA JUGA: Suka atau Tidak, Jokowi Berpotensi Jadi King Maker Pilpres 2024

Siapa yang satu kakinya kelihatan menyentuh garis demarkasi lawan pasti akan segera dicurigai, dikucilkan, dan dituduh sebagai pengkhianat.

Penceramah Haikal Hassan, atau lebih dikenal sebagai Babe Haikal, dipecat dari kepengurusan PA 212 (Persatuan Alumni 212).

PA 212 adalah kumpulan aktivis yang pada 2017 menjadi motor dalam gerakan politik massa untuk memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama karena tuduhan penistaan agama.

Setelah sukses menggulingkan Basuki, kelompok PA 212 menjadi salah satu pressure group konservatif yang paling aktif merespons berbagai isu politik dan keagamaan.

Haikal dikenal sebagai salah satu komponen penting dalam gerakan 212 yang ketika itu dimotori oleh Habib Rizieq Shihab.

Kepiawaian Haikal dalam beretorika menjadikannya didapuk sebagai juru bicara PA 212.

Dengan kemampuan orasinya yang baik Haikal mampu meladeni perdebatan dengan siapa saja yang berseberangan dengan pandangan PA 212.

Ketika pada Februari yang lalu muncul pengumuman bahwa Haikal diberhentikan dari kepengurusan PA 212 banyak kalangan terkejut.

Tidak ada alasan yang dikemukakan oleh pengurus PA 212 kecuali alasan normatif, yaitu Haikal ingin istirahat dari kepengurusan.

Berbagai spekulasi bermunculan menjadi isu dan desas-desus.

Posisi Haikal sebagai juru bicara sangatlah strategis, tapi tiba-tiba saja tanpa ada hujan dan angin namanya dicoret dari organisasi.

Tidak ada pernyataan resmi dari mana pun.

Spekulasi menjadi makin panas ketika Haikal mengunggah konten di media sosial mengenai pengkhianatan.

Agak aneh kalau kemudian Haikal yang berbicara mengenai pengkhianatan, karena isu yang berkembang justru dia yang dituduh berkhianat.

Setidaknya, begitu yang diungkapkan oleh Habib Bahar bin Smith (HBS)  yang mengatakan bahwa Haikal berkhianat.

HBS bahkan menyamakan Haikal dengan Prabowo Subianto yang oleh HBS disebut sebagai pengkhianat karena menyeberang ke kubu Jokowi.

Ungkapan HBS ini bisa menjadi indikasi bahwa Haikal dianggap telah berkhianat dari garis perjuangan PA 212.

Isu yang berkembang menyebutkan Haikal dianggap telah ‘’menyebong’’ dan menyeberang ke kubu sebelah.

Kasusnya disebut-sebut sama dengan Yusuf Mansur yang dikabarkan tersandera masalah hukum sehingga terpaksa ‘’menyebong’’.

Haikal justru berbicara panjang lebar mengenai pengkhianatan. 

Dia menceritakan latar belakang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang diwarnai oleh berbagai pengkhianatan.

Para pengkhianat menjual informasi kepada penjajah Belanda untuk mendapatkan imbalan materi.

Perjuangan gerilya yang dilakukan Jenderal Sudirman pun diwarnai dengan pengkhianatan ketika posisi persembunyian Jenderal Sudirman dibocorkan kepada Belanda oleh orang dalam.

Jenderal Sudirman sudah terkepung oleh tentara Belanda.

Akan tetapi, cerita berbau mistis yang berkembang menyebutkan bahwa ketika sudah terkepung Belanda Jenderal Sudirman melakukan zikir dengan khusyuk sehingga pasukan Belanda tidak bisa mendeteksi keberadaannya.

Singkat cerita Jenderal Sudirman lolos dari penyergapan dan pengkhianatan.

Tamsil itu dipakai oleh Haikal untuk mengilustrasikan peristiwa kontemporer sekarang ini.

Menurut Haikal sekarang banyak yang berkhianat demi perut sehingga tega mengorbankan ulama yang kemudin tertangkap dan dipenjara. 

Tidak jelas siapa yang disebut oleh Haikal sebagai pengkhianat ulama. Di sisi lain HBS dengan jelas dan tegas menyebut Haikal sebagai pengkhianat.

Beberapa hari belakangan jagat media sosial juga ramai oleh tudingan pengkhianatan ala Haikal Hassan.

Kali ini yang menjadi sasaran tudingan adalah penceramah Salim A. Fillah yang terkenal sebagai salah satu pendakwah dari Masjid Jogokaryan, Yogyakarta.

Dakwah Salim yang biasanya berisi nilai-nilai keluarga sangat disukai kalangan milenial, mak-mak, dan kalangan umum yang lebih luas.

Nama Masjid Jogokaryan harum karena jamaah shalat subuhnya membeludak seperti jamaah shalat Jumat.

Masjid Jogokaryan dinobatkan sebagai masjid terbaik yang menjadi percontohan nasional.

Masjid Jogokaryan dianggap sebagai simbol perjuangan umat yang banyak ditiru oleh para aktivis masjid di seluruh Indonesia.

Salim A. Fillah terkenal seiring dengan terkenalnya Masjid Jogokaryan.

Salim dianggap sebagai salah satu pendakwah muda yang ada di kubu ‘’kami’’ dan berseberangan dengan ‘’mereka’’.

Salim mempunyai banyak penggemar karena dia tidak hanya pintar berkhotbah tetapi juga piawai menulis.

Novelnya ‘’Sang Pangeran; Janessary Terakhir’’ (2019) menjadi best seller yang banyak diburu.

Tiba-tiba Salim membuat unggahan di Twitter mengenai Pilpres 2024.

Dia menyebut bahwa presiden Republik Indonesia mendatang masih akan muncul dari etnis Jawa.

Karena itu, Anies Baswedan harus sabar dulu menunggu giliran.

Salim kemudian meneruskan dengan mengungkapkan gagasannya untuk memasangkan Anies dengan Ganjar.

Anies sebagai calon wakil presiden dan Ganjar sebagai calon presiden.

Gegerlah jagat media sosial. Salim dianggap sebagai rasis dengan mengungkit etnisitas Anies Baswedan.

Salim pun dituduh menyebong karena mendukung Ganjar.

Salim dianggap melakukan kampanye untuk Ganjar dan bahkan dituduh menjilat Ganjar karena mengungkap latar belakang istri Ganjar, Siti Atikoh Supriyanti, yang disebutnya sebagai anak seorang kiai di Jawa Tengah.

Dengan menyebut latar kesantrian istri Ganjar, Salim ingin menegaskan bahwa Ganjar juga santri, atau mungkin Ganjar tidak kalah santri dibanding Anies.

Banyak yang mem-bully Salim, tetapi dia tenang-tenang saja.

Dalam salah satu unggahan lanjutan Salim mengatakan bahwa mereka yang melakukan bullying terhadapnya dan menyebutnya rasis pasti karena tidak mengenal dirinya.

Unggahan Salim tidak meredakan keadaan, malah makin menyulut api.

Tuduhan bahwa dia menyebong dan menyeberang ke kubu lain makin kencang.

Polarisasi pada Pilpres 2024 hampir pasti akan sekeras 2019, atau malah bisa lebih keras lagi.

Dikotomi cebong-kampret atau cebong-kadrun sudah pasti akan muncul tidak terhindarkan.

Berapa pun pasangan calon yang muncul--dua pasang atau tiga pasang--pertempuran cebong-kadrun tidak bisa dihindarkan, terutama jika muncul Anies dan Ganjar sebagai capres yang bertanding.

Dikotomi itu akan makin menguatkan politik identitas antara ‘’kami’’ dan ‘’mereka’’.

Dalam perjalanan politik beberapa tahun terakhir, banyak aktivis yang menyebarang dari satu kubu ke lainnya.

Yusuf Mansur dianggap sebagai salah satu contohnya.

Penyeberangan Prabowo ke kubu Jokowi dimaksudkan sebagai upaya meniadakan polarisasi.

Alih-alih polarisasi hilang, malah makin tebal.

Prabowo tidak dianggap sebagai pahlawan tetapi malah dituding sebagai pengkhianat.

Pada pemilu mendatang, Prabowo disebut-sebut bakal berpasangan dengan Puan Maharani yang menandai koalisi Partai Gerindra dengan PDIP sebagai the ruling party.

Ganjar Pranowo yang kabarnya disiapkan sebagai suksesor Jokowi disebut-sebut akan dipasangkan dengan Erick Thohir.

Pasangan ini sudah punya perahu yang akan disiapkan sebagai partai politik pengusung.

Koalisi Indonesia Bersatu, Golkar, PAN, dan PPP, adalah perahu cadangan yang disiapkan untuk Ganjar-Erick.

Tinggallah Anies Baswedan yang masih menunggu nasib untuk memperoleh kendaraan politik.

Harapan digantungkan kepada Nasdem, Partai Demokrat, dan PKS.

Pendukung Anies masih H2C, harap-harap cemas, menunggu perkembangan.

Beberapa hari belakangan ini PKS melempar isu Raffi Ahmad sebagai calon presiden yang lebih populer ketimbang Anies.

Apakah PKS sedang renggang dengan Anies? Akankah muncul pengkhianat lagi? Dalam politik tidak ada yang tidak mungkin. (*)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler