Penguatan Rupiah Berlanjut

Rabu, 11 Januari 2017 – 05:46 WIB
Uang. Ilustrasi Foto: Fitriani/dok.JPNN

jpnn.com - jpnn.com - Penguatan rupiah atas dolar Amerika Serikat (USD) makin sulit dibendung. Bahkan, pada perdagangan kemarin, rupiah berjaya sejak sesi pembukaan.

Efeknya, rupiah sukses menyudahi perdagangan dengan bertengger di kisaran Rp 13.300 per USD. Penguatan rupiah itu terjadi di tengah kondisi lunglai USD terhadap sejumlah mata uang dunia lain.

BACA JUGA: Nataru ke-17, KAI Angkut Sebanyak 574.838 Penumpang

Berdasar data Bloomberg, rupiah parkir di kisaran Rp 13.308 per USD atau menguat dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 13.362 per USD.

Merujuk data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah ditransaksikan di level Rp 13.320 per USD.

BACA JUGA: Natal dan Tahun Baru, Citilink Angkut 745.187 Penumpang

Sementara Mandiri Sekuritas (Mansek) mencatat nilai tukar rupiah menguat 54 poin (0,4 persen) menjadi Rp 13.308 per USD. Itu terjadi setelah sepanjang perdagangan, rupiah mengorbit di kisaran Rp 13.267 hingga Rp 13.337 per USD.

Reuters mengungkap USD terkapar karena investor berhati-hati membukukan keuntungan menjelang konferensi pers pertama Presiden AS terpilih Donald Trump sejak menang.

BACA JUGA: 2017, Perhutani Optimistis Capai Kinerja Lebih Baik

Keresahan mengenai apakah Inggris akan berjalan tetap keluar dari Uni Eropa, di mana kontrol imigrasi diprioritaskan lebih menjaga akses ke pasar tunggal, terus membebani poundsterling.

Euro kembali menguat terhadap USD ke level 1,06 atau ke level tertinggi sepanjang tahun ini. Kemudian juga menguat terhadap poundsterling ke posisi tertinggi dalam dua bulan di posisi 87,635 pence.

”Pasar gugup menjelang konferensi pers Donald Trump, untuk pasar FX akan menjadi sangat penting untuk kebijakan perdagangan, untuk hubungan dengan China,” tutur Commerzbank strategi mata uang Esther Reichelt, di Frankfurt.

Indeks USD melacak mata uang terhadap enam mata uang utama telah naik 4 persen sejak pemilu Trump pada 8 November.

Itu terjadi karena investor bertaruh program ekspansi fiskal akan meningkatkan inflasi dan menyebabkan suku bunga AS naik lebih cepat. (far)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 40 Persen Daging Ayam Dipasok Dari Luar


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler