Pengungsi Terus Bertambah, Satkorlak Kewalahan

Minggu, 07 November 2010 – 07:28 WIB
Bantuan untuk pengungsi korban Merapi datang dari berbagai penjuru. Pakaian pantas pakai, obat obatan, sanitasi dan makan.Bahkan beberapa produk susu juga nampak dibagikan relawan dengan melimpah. Tampak pengungsian di Stadion Maguwoharjo, Sleman 6 November 2010. Foto: Boy Slamet/Jawa Pos

BOYOLALI -- Kota Boyolali diselimuti abu vulkanis sekitar dua sentimeterKondisi itu disebabkan sejak pukul 03.00 terjadi hujan abu dan pasir dengan intensitas sangat deras

BACA JUGA: Jateng-Jogja Jadi Kota Pengungsi

Berdasarkan pantauan Radar Solo (grup JPNN), kejadian itu juga membuat pengungsi di Kota Boyolali waswas.

Selain itu, intensitas hujan abu yang cukup deras mengakibatkan jarak pandang di jalan raya sekitar tiga meter
Pengendara, baik roda dua maupun roda empat, dianjurkan menyalakan lampu untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Sebelum terjadi hujan abu dan pasir, dari puncak Merapi terdengar suara gemuruh

BACA JUGA: Usul 500 CPNS, Disetujui 295

Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Boyolali terjun ke titik-titik pengungsian untuk mengatur arus pengungsi
"Jarak pandang hanya sekitar tiga meter

BACA JUGA: Hasil Lobi, Lulusan SMA Masuk Formasi CPNS

Karena itu, perlu ada pengaturan akses masuk ke titik pengungsian," kata Koordinator Tagana Boyolali Ikhsanudin.

Dia menuturkan, karena hujan pasir dan suara gemuruh masih terjadi, ratusan pengungsi terus memadati Kota BoyolaliWarga yang berada di radius 18 kilometer dari puncak Merapi juga ikut mengungsiMisalnya, warga Desa Paras, CepogoMereka telah turun Sabtu dini hari"Desa dikosongkan demi keselamatan warga," jelasnya

Hingga kemarin, jumlah pengungsi yang ditampung di sejumlah titik di Kabupaten Boyolali mencapai 44.800 orangData ini dihimpun dari Satkorlak Penanggulangan Bencana (PB) di BoyolaliKebanyakan pengungsi adalah perempuanKondisi ini membuat petugas di Satkorlak PB direpotkan oleh kurangnya keperluan pembalut wanita

Tak hanya Satkorlak PB di Boyolali yang kewalahanDi Klaten, jumlah pengungsi lebih banyak lagi, yakni 56.640 orangJumlah tersebut diperkirakan terus bertambahMereka tersebar di 15 kecamatan (dari 26 kecamatan di Klaten)

Bertambahnya jumlah pengungsi melebihi prediksi Pemkab Klaten yang sebelumnya hanya memperkirakan 20 ribu jiwaMenurut Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten Edy Hartanto, menyebarnya pos pengungsi membuat Satkorlak PB kewalahanIni terutama dalam mencukupi kebutuhan logistikSetiap hari petugas harus mendistribusikan bahan makanan ke pos pengungsian yang berada di 64 titik.

"Melonjaknya jumlah pengungsi disebabkan beberapa halSalah satunya perluasan wilayah aman oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dari radius 15 kilometer menjadi 20 kilometerTentu saja pemkab segera mensterilkan permukiman warga di radius tersebut," ujarnya.

Ketakutan berlebihan warga juga memengaruhi gelombang pengungsiBanyak rumah warga di radius di atas 20 kilometer yang ditinggalkan pemiliknyaMereka takut dengan suara dentuman Gunung Merapi yang setiap saat masih terdengar"Kami tidak menyalahkan warga yang ketakutanNamun, kondisi demikian membuat pemkab semakin kewalahan dalam mengurusi pengungsi," ungkapnya.

Dia berharap masyarakat ikut membantu pemerintah dalam menangani pengungsi di KlatenMisalnya, bergotong royong untuk membuka dapur umum di lokasi yang dekat dengan pengungsiIni karena Satkorlak baru memiliki empat titik dapur umum, yaitu di Dokdiklatpur, Desa Dangguran, Kecamatan Klaten Selatan, dua di Pemkab Klaten, dan satu di Gor SMAN 3 KLaten.

Bupati Klaten Sunarna menambahkan, pemkab sudah memberdayakan pengusaha di Klaten untuk ikut terlibat dalam penanganan pengungsi, khususnya untuk rumah makan di wilayah Klaten Kota"Peran mereka sangat membantu dalam menyediakan pasokan makanan bagi pengungsiHari ini (kemarin) ribuan nasi bungkus dan kotak disumbangkan oleh pengusaha warung makan sebagai wujud kepedulian mereka terhadap korban erupsi Gunung Merapi," ungkapnya.(ano/un/oh/nan/jpnn/ c2/kum)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anggota Polisi Tewas Diterkam Awan Panas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler