Pengurus Parpol Disosialisasi 4 Pilar

Sabtu, 17 Maret 2012 – 00:28 WIB

JAKARTA - Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari mengatakan, partai politik (Parpol) merupakan elemen penting bagi proses demokrasi di Indonesia.

Agar proses demokrasi itu berjalan sesuai dengan tujuan bangsa ini didirikan, maka MPR memandang penting Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bagi pengurus Parpol, yang berlangsung dari 16 hingga 20 Maret mendatang.

"Demokrasi adalah alat untuk mencapai tujuan bangsa ini didirikan. Salah satu elemen penting dari demokrasi adalah Parpol. Agar demokrasi itu berproses sesuai tujuan berdirinya bangsa, maka MPR merasa perlu menyosialisasi Empat Pilar bagi pengurus partai," kata Hajriyanto Thohari, saat membuka Pelatihan untuk Pelatih Sosialisasi Empat Pilar, di Park Hotel, Jakarta, Jumat (16/3) malam.

Dikatakannya, semula ada semacam keraguan dari internal MPR sendiri apakah pengurus Parpol mau mengikuti program ini. "Tapi setelah dikomunikasikan pentingnya program ini, ternyata respon pengurus Parpol luar biasa," ujar politisi Partai Golkar itu.

Lebih lanjut dikatakannya, sosialisasi Pancasila, Undang-Undang Dasar 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika (Empat Pilar) merupakan program penting dan strategis untuk menjaga keutuhan dan keberlanjutan bangsa ini.

Selain itu, dia juga merespon berbagai kritikan masyarakat terhadap sosialisasi Empat Pilar yang dinilai memosisikan Pancasila sejajar dengan tiga pilar lainnya.

"Bagi MPR masalahnya bukan di situ, tapi pilar sesungguhnya adalah hal yang pokok dan itu bukan hanya Pancasila dan tiga pilar lainnya. Bahasa juga hal pokok bagi bangsa yang sangat besar ini," kata Hajriyanto, dihadapan 100 peserta yang berasal dari sembilan pengurus parpol yang lolos di DPR.

Pentingnya bahasa sebagai salah satu pilar bangsa, menurut Ketua PP Muhamadiyah itu karena bahasa adalah alat pemersatu Bangsa Indonesia.

"Dan sering terjadi ancaman bagi sebuah bangsa ketika bangsa itu memiliki lebih dari satu bahasa nasional seperti yang terjadi di Kanada," ungkap dia.

Di Negara Kanada ada satu provinsi bernama Kiblek yang hingga kini masih menggunakan bahasa Prancis, sementara provinsi lainnya menggunakan Bahasa Inggris.

"Malah ketika Kanada dipimpin oleh salah satu putra terbaik Kiblek, aspirasi untuk ke luar dari Negara Kanada semakin gencar disuarakan. Alasan mereka satu, yakni karena beda bahasa," terang Hajriyanto Y Thohari. (fas/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kejaksaan Usut Korupsi di Proyek Bioremediasi Chevron


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler