Penjelasan dari Kemendikbud soal Keberanian Nadiem Makarim Mengganti UN

Sabtu, 14 Desember 2019 – 16:23 WIB
Nadiem Makarim. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional (UN) dengan Assesmen Kompetisi Minimum dan Survei Karakter pada 2021. Ini merupakan salah satu bagian dari konsep Merdeka Belajar yang digagas Nadiem.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ade Erlangga Masdiana menjelaskan, selama ini telah banyak data maupun masukan dari berbagai pihak sebelum Nadiem memutuskan gagasan tersebut.

BACA JUGA: Menteri Malaysia Puji Kebijakan Nadiem Makarim soal UN

Ia menyebut masukan itu antara lain dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), asosiasi guru lainnya, lembaga pendidikan, direktur jenderal dan eselon II di Kemendikbud, serta pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, kata dia, masukan dari evaluasi terhadap Survei Program for International Student Assessment (PISA).

"Memang ini adalah kebijakan yang menjadi janji (Nadiem) selama tiga bulan, tetapi sebelum tiga bulan Pak Menteri sudah mengeluarkan kebijakan," kata Airlangga dalam diskusi "Merdeka Belajar, Merdeka UN di Ibis Tamarin, Jakarta, Sabtu (14/12).

BACA JUGA: Baca! Ini Penjelasan Lengkap Nadiem Makarim soal Kontroversi Penghapusan UN

Dia menegaskan bahwa gagasan ini penting kaeena concern Nadiem dan Kemendikbud adalah ingin meniptakan suasana happy belajar di sekolah. "Makanya tagline-nya Merdeka Belajar. Bahwa pendidikan harus menciptakan suasana yang membahagiakan orang tua, guru, peserta didik dan semua," ujarnya.

Menurut Erlangga, selama ini banyak orang yang komplain terhadap suasana pendidikan. Contohnya, ujar dia, anak dipaksa mencapai skor tertentu. Akhirnya yang berjamuran adalah lembaga bimbingan belajar.

BACA JUGA: Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong jadi Finalis Pertama BWF World Tour Finals 2019

"Lalu siapa yang lebih untung? Bukan siswa, tetapi berbagai macam pihak yang melihat potensi ini. Orang tua stres, anak stres, guru juga ditekan bagaimana anak itu bisa berprestasi," paparnya.

Erlangga mengatakan, dahulu juga sudah banyak kritik terkait UN yang menjadi standar kelulusan. Akhirnya, kata dia, diputuskanlah UN tidak menjadi standar kelulusan. Dia menambahkan, hasil PISA kemarin terjadi penurunan terhadap kemampuan anak terkait literasi, matematika dan sains.

Menurut dia, hal ini dikarenakan anak di sekolah tidak terbiasa diajak menganalisis dan penalaran tetapi cenderung menghafal. "Akibatnya anak-anak tidak terbiasa akhirnya skor jadi rendah," ujarnya. (boy/jpnn)

Libur Nataru, Truk Dilarang Melintas :


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler