Penting Anda Ketahui agar Tidak Sakit Maag

Selasa, 19 Februari 2019 – 16:03 WIB
Sakit maag. Ilustrasi Foto: Pixabay

jpnn.com, SAMARINDA - Seiring dengan masyarakat yang dinamis, banyak ditemukan pola makan tak sehat, penyakit maag pun banyak diidap. Penyebabnya, makan tak sehat dan kerap menunda makan. Makan tidak hanya perkara fisik, tetapi juga perkara psikis.

Selera makan orang bisa meningkat atau justru menurun disebabkan faktor psikis. Penyebabnya, mulai faktor diri sendiri hingga lingkungan.

BACA JUGA: Yang Perlu Anda Ketahui tentang Sakit Maag, Jangan Sepelekan

Laporan: Yuda Almerio, Nofiyatul Chalimah, Muhammad Rifqi

Diungkapkan psikolog klinis Ayunda Ramadhani, berkurangnya intensitas makan bisa disebabkan kesibukan pekerjaan hingga pemikiran soal body image.

BACA JUGA: Hobi Makan Gorengan Bisa Picu Mag?

“Kalau yang pekerja biasanya menunda-nunda makan karena masih ada kerjaan. Atau waktu makan yang luang, dianggap lebih baik diisi dengan menyelesaikan pekerjaannya. Jadi, makannya tertunda,” terang Ayunda.

Jadi, makan tak dianggap lagi hal utama. Meskipun tubuh sudah menunjukkan sinyal lapar, namun memilih mengerjakan tugas. Daripada makan tak nyaman karena terpikir pekerjaan yang belum rampung, begitu dalihnya.

BACA JUGA: 5 Cara Mudah Atasi Maag

Di sisi lain, ada pula yang tak makan karena sengaja demi penampilan. Para lajang biasanya yang terjebak. Sebab enggan gendut, mereka membatasi makan hingga berujung penyakit. Padahal idealnya, mereka tetap bisa makan sehat dengan perbanyak serat.

Nah, enggan makan karena alasan penampilan ini bisa diakibatkan lingkungan yang membuat seseorang tersebut merasa citra dirinya gemuk. Sehingga mereka berusaha membuat tubuhnya lebih kurus. Hal itu pun kerap terjadi pada remaja belasan tahun.

Ada pula, karena berada di lingkaran pergaulan yang menghabiskan biaya tinggi rela menghemat makan demi bisa nongkrong dengan teman-teman di tempat makan mahal. “Alasannya gengsi, jadi pola makan dikorbankan,” imbuhnya.

Emotional eating alias makan karena kebutuhan emosional bukan kebutuhan fisik, juga terjadi. Jadi, makan akibat ingin meredakan stres. Bisa makan yang manis-manis, atau sesuai selera. Entah itu berlemak, pedas, gurih, atau asam. Kondisi badan pun terabaikan, pun begitu kesehatan. Pola makan tak sehat pun memicu aneka penyakit metabolik.

BACA JUGA: Yang Perlu Anda Ketahui tentang Sakit Maag, Jangan Sepelekan

Memang, bagi sebagian masyarakat, kesibukan disebut jadi alasan makan tak teratur. Mempersiapkan makan hingga proses melahapnya dianggap bakal menyita waktu yang bisa dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan.

Sehingga, menunda-nunda waktu makan terjadi. Atau makan seadanya, tanpa memerhatikan kebutuhan gizi. Ujung-ujungnya penyakit bisa datang, tak terkecuali maag.

Padahal, perihal makan bukan perkara rumit. Di rumah, bisa dipersiapkan makanan sendiri untuk jadi sarapan atau bekal makan siang saat bekerja. Memasak makanan sendiri, tentu lebih terjamin kebersihan dan sehatnya dibandingkan membeli di luar. Maka dari itu, disarankan memiliki stok makanan di rumah.

Ditemui terpisah, dokter gizi Meiliati Aminyoto mengatakan, penyakit lambung sebenarnya memiliki banyak macam. Jika pada umumnya disebut masyarakat sebagai penyakit maag, namun sebutan tersebut hanya dalam bentuk umum. Sehingga secara spesifik, proses terapi dengan diet lambung pun perlu analisis kondisi lambung terlebih dahulu.

Biasanya, kata dia, penderita lebih dulu melakukan konsultasi kepada dokter spesialis penyakit dalam, selanjutnya diarahkan pada dokter gizi sebagai rujukan melakukan diet khusus tersebut.

“Ada diet khusus untuk penderita penyakit gangguan lambung tersebut. Tapi harus diketahui dulu bagian mana yang ingin ditangani supaya lebih spesifik,” pungkas Meiliati. (timkp)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tips Menjalankan Puasa bagi Penderita Mag


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler