Dini hari tanggal 21 Maret tahun 1960, sejumlah warga mulai mendatangi kantor polisi di sebuah kota di Afrika Selatan Sharpeville.

Mereka berkumpul untuk mengadakan unjuk rasa damai atas pencabutan undang-undang bagi warga kulit hitam di Afrika selatan yang harus membawa paspor ke manapun mereka pergi di dalam negeri.

BACA JUGA: Tidak Sama dengan Rusia: Curhatan Warga Ukraina di Bali yang Terhalang Pulang karena Perang

Penyelenggara unjuk rasa meminta mereka yang hadir untuk meninggalkan paspor mereka di rumah, hal yang bertentangan dengan hukum dan mungkin bisa menyebabkan ribuan orang ditahan.

Di luar kantor polisi beberapa pengunjuk rasa membakar dokumen mereka ke dalam api unggun.

BACA JUGA: Australia Beri Sanksi Baru untuk Pejabat Iran karena Melanggar HAM dan Memasok Drone ke Rusia

Menjelang siang, massa sudah mencapai ribuan. Ratusan polisi dikerahkan, namun menurut saksi mata, suasana protes pada awalnya berjalan damai dan aman.

Apa yang kemudian mengubah situasi tidaklah jelas. Yang terjadi kemudian adalah kekacauan ketika seorang petugas polisi melepaskan tembakan senjata, hal yang kemudian diikuti rekan-rekannya.

BACA JUGA: Australia Tangkap Eks Tentara Pelaku Kejahatan Perang di Afghanistan

Sebanyak 69 warga tewas dan ratusan lain mengalami luka-luka dalam peristiwa yang kemudian dikenal dengan Pembantaian Sharpeville.  Dari pembantaian ke 'Harmony Day'

Foto dan rekaman video para pengunjuk rasa damai yang mencoba melarikan diri dari tembakan peluru dengan jaket menutup kepala mengejutkan dunia.

Dalam artikelnya di The Conversation, Steven Wheatley, professor hukum internasional di Lancaster University di Inggris mengatakan bahwa amarah internasional mendorong hukum hak asasi manusia internasional.

Enam tahun setelah pembantaian tersebut, PBB secara resmi menjadikan 21 Maret sebagai Hari Internasional bagi Penghapusan Diskriminasi Rasial.

Namun di Australia, berbeda dengan negara-negara lain, hari tersebut diberi nama lain yaitu Harmony Day.

"Kalau kita membicarakan perbedaan antara kedua konsep ini, harmoni adalah hal yang sangat positif, membuat kita merasa nyaman," kata Associate Professor Christina Ho yang banyak meneliti mengenai migrasi dan perbedaan budaya di University of Technology Sydney.

"Membicarakan mengenai diskriminasi rasial lebih sulit dilakukan."

Harmony Day pertama kali diperkenalkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Australia John Howard di tahun 1999, menyusul studi yang dibiayai pemerintah mengenai rasisme di negara tersebut.

Sejak itu, 21 Maret digunakan oleh pemerintah untuk mempromosikan perayaan yang menunjukkan keberhasilan kehidupan multi budaya di Australia.

Professor Ho mengatakan keputusan menggunakan kata 'harmony' memang sengaja dilakukan karena alasan ideologi.

"Ketika itu pemerintahannya berhaluan konservatif, tidak mau mengakui adanya rasisme, tidak mau meminta maaf kepada penduduk asli. Pernah ada kementerian imigrasi dan multi budaya namun pemerintahan Howard menghilangkan kata multi budaya," katanya.

"Saya kira itu memang langkah politik yang disengaja. Ini sesuatu yang bisa kita pertanyakan sekarang."'Kami mengenang dengan rasa berduka'

Pearl Proud merasa bangga dibesarkan di zaman apartheid di Afrika Selatan sebelum kemudian pindah untuk tinggal di Perth, Australia Barat.

Dia merasa kesulitan untuk menggabungkan perayaan 21 Maret dalam suasana kegembiraan dengan perasaan sedih mengingat pembantaian Sharpeville.

"Saya tidak tahu berapa banyak orang yang menghubungkan Harmony Day dengan apartheid. Kami mengenang dengan rasa berduka kalau Anda berasal dari Afrika Selatan," katanya.

"Harmony Day sepertinya adahal hal yang terpisah dari itu semua karena di sini menjadi hari perayaan dan bukannya hari berduka."

Hubungan Proud dengan 21 Maret menurutnya bercampur aduk.

Dia menikmati perayaan mengenai kehidupan multi budaya di Australia dan terlibat dalam menyelenggarakan berbagai acara.

Namun, dia khawatir bahwa arti awal dari hari tersebut hilang karena berbagai perayaan yang ada.

"Di sini tampaknya warga dari budaya berbeda merayakan budaya dan hubungan mereka dengan nenek moyang mereka ... bukan secara sadar menentang diskriminasi," katanya.

Di luar komunitas tempatnya bekerja, Proud berusaha memulai pembicaraan dengan keluarganya mengenai sejarah dan juga perkembangan terbaru dari Afrika Selatan.

"Ini adalah cara saya untuk berhubungan dengan sejarah, sehingga saya bisa mengingat mereka yang meninggal hari itu," katanya.

"Dan juga pentingnya hari itu dalam hal mengubah sejarah Afrika selatan dan membelokkan arah perjuangan menentang apartheid."'Tidak merayakan hal yang baik saja'

Christina Ho juga melihat perubahan perayaan Harmony Day di Australia, salah satunya di kantor dan lembaga dengan mengenakan kaos dan peta oranye, serta mengadakan acara minum teh dan makan kue.

"Bagi generasi pertama kelompok migran ini merupakan cara yang bagus untuk mendapatkan pengakuan mengenai tradisi dan budaya mereka," katanya.

"Namun yang tidak terjadi adalah hal ini semua membuat diskusi mengenai masalah yang lebih sulit seperti rasisme, tindakan brutal polisi, kematian dalam penahanan, diskriminasi. Semua itu tidak cocok dibicarakan dalam bingkai harmoni."

Dia mengatakan fokus mengenai sisi positif dari kehidupan multi budaya membuat Australia tidak mampu melihat sisi buruk sejarah masa lalu dan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan multi budaya saat ini.

"Kita harus berani untuk tidak sekadar merayakan hal yang baik saja," katanya.

"Karena tidak semua sejarah Australia berkenaan dengan kehidupan multi budaya adalah positif. Ini bukan sekadar merayakan aspek yang bagus dari budaya tersebut.

"Ini juga membicarakan masa lalu dan beberapa peninggalan dari rasisme dan kolonialisme di Australia yang belum ditangani dengan baik."Haruskah nama 'Harmony Day' diganti?

Melihat sejarah 21 Maret, beberapa pemimpin masyarakat kini menyerukan agar nama Harmony Day diganti untuk memberikan gambaran lebih akurat dari sejarah awalnya.

FECCA, lembaga yang menaungi warga dari berbagai budaya dan bahasa yang berbeda di Australia, adalah salah satu di antaranya.

Mereka ingin agar nama tersebut diubah sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh PBB menyusul pembantaian Sharpeville.

"Kami merasa lebih penting untuk mengakui bahwa rasisme ada dan kita semua harus bekerja bersama-sama untuk menghilangkannya," kata Direktur Eksekutif FECCA Mohammad Al-Khafaji.

"Dalam prosesnya kita masih bisa merayakan begitu banyaknya budaya berbeda yang membuat Australia unik."

Tanpa membicarakan rasisme, Al-Khafaji mengatakan tidak akan ada harmoni dan Australia harus membicarakan masalah tersebut secara terbuka.

"Australia adalah satu-satunya negara di dunia yang menyebut Hari Internasional bagi Penghapusan Diskriminasi Rasial pada tanggal 21 Maret sebagai Harmony Day," kata Al-Khafaji.

"Kami menyerukan kepada semua orang untuk menyebut 21 Maret sebagai Hari Internasional Penghapusan Diskriminasi Rasial."

Profesor Ho juga setuju bahwa perubahan nama akan menghadirkan fokus baru.

"Harmoni adalah konsep yang sangat khusus, fokusnya lebih pada persatuan, bukan pada perbedaan. Dan tentu saja tidak berfokus pada perbedaan, ketidakadilan, dan ketidaksetaraan yang masih dialami banyak orang," katanya. 

"Kita sebenarnya memerlukan kata lain. Harmony Day tidak memungkinkan kita melakukan pembicaraan meliputi berbagai hal tersebut."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Akankah Pemerintah Indonesia Berhasil Meyakinkan Warganya Pindah ke Ibu Kota Baru?

Berita Terkait