Penyulut Meriam di Masjid Rangkasbitung, Awalnya Takut, Kini Senang Meskipun Ada Risiko Kecelakaan

Kamis, 06 Mei 2021 – 11:49 WIB
Opik, penyulut meriam di Masjid Agung Al A'raf Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Ia ikhlas menerima honor Rp100 ribu untuk menyuarakan bunyi dentuman suara sebagai pertanda tibanya umat Islam untuk berbuka puasa pada Ramadhan 1422 Hijriah. (FOTO ANTARA/Mansyur Suryana)

jpnn.com, LEBAK - Opik sudah 26 tahun menjadi penyulut meriam di Masjid Agung Al A'raf Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Suara dentuman meriam itu menjadi pertanda sudah memasuki waktu berbuka puasa di tiga kecamatan yakni Rangkasbitung, Cibadak, dan Kalanganyar.

BACA JUGA: Tembakan Meriam dari KRI Hasan Basri Hancurkan Kapal Selam Musuh

Opik merasa senang dan ikhlas menerima honor Rp 100 ribu untuk membunyikan meriam sebagai pertanda tibanya waktu berbuka puasa Ramadhan 1422 Hijriah ini.

Dentuman suara meriam itu bisa terdengar sejauh 10 kilometer. Penyampaian kabar melalui dentuman meriam itu dikarenakan pada zaman Belanda dulu, tidak ada media elektronik untuk menyebar informasi tibanya waktu berbuka puasa.

BACA JUGA: Meriam Karbit Guncang Pontianak di Malam Lebaran

Oleh karena itu, kata dia, satu-satunya yang bisa dijadikan sebagai pertanda tibanya waktu umat Islam untuk berbuka puasa ialah dentuman meriam.

"Mungkin di Banten hanya ada di Rangkasbitung setiap Ramadhan masih lestari tradisi dentuman suara meriam," kata Opik, Kamis (6/5). "Tradisi dentuman suara meriam di Rangkasbitung berlangsung sejak tahun 1928 hingga kini masih dipertahankan," tambahnya.

BACA JUGA: Kena Ledakan Meriam Spirtus, Bocah Alami Luka Bakar

Dia mengaku awalnya merasa ketakutan saat menyulut api dimasukkan ke lubang meriam sehingga mengeluar dentuman suara keras. Namun, kata dia, saat ini sebagai penyulut meriam selama 26 tahun merasa tetap senang, meski berisiko ada kecelakaan.

"Bahkan petugas penyulut bernama Sai pada 1956 bagian tangannya terputus ketika hendak menyulutkan meriam locok," kata Opik.

Namun, kata dia, meriam locok sudah diganti dengan pipa dan panjang dua meter, yang juga menggunakan bahan peledak dari karbit dan air.

Petugas penyulut meriam juga tidak dilengkapi alat peredam suara dan berpotensi mengalami gangguan pendengaran, karena bisa merusak bagian gendang telinga akibat hentakan ledakan keras.

Apabila gendang telinga itu mengalami gangguan, katanya, tentu secara otomatis akan berdampak terhadap gangguan pendengaran telinga atau torek.

"Kami menyulut meriam itu tentu dengan hati-hati mulai mengisi bahan peledak dari karbit hingga menyulut api ke lubang meriam agar tidak mengalami kecelakaan," katanya.

Menurut dia, dirinya merasa senang menyulut hingga terdengar dentuman suara meriam, karena banyak masyarakat setempat yang berkumpul di masjid dapat buka puasa bersama.

Selain itu juga banyak orang tua hingga kalangan anak-anak muda rindu untuk mendengarkan dentuman suara meriam yang berlangsung selama satu sampai dua detik itu. Mereka orang tua dan kalangan generasi berkumpul di depan masjid untuk mendengar dentuman suara meriam.

Dentuman suara meriam itu, kata dia, hanya setiap tahun satu kali dilakukan pada Bulan Ramadhan dan masyarakat sangat merindukan tradisi unik tersebut.

"Kami tetap berani melaksanakan tugas yang berisiko, karena tidak ada petugas lain yang menjadi penyulut meriam," kata Opik. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler