Per Paket Rp 10 Juta, Bimbel jadi Biang Kerok Kebocoran

Kamis, 23 Maret 2017 – 10:37 WIB
Siswa mengerjakan soal ujian nasional. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - Berdasarkan sejumlah laporan yang diterima Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) sejak 20 Maret 2017, diduga kuat telah terjadi kebocoran soal dan kunci jawaban ujian sekolah berstandar nasional (USBN) di sejumlah daerah.

Dalam laporan terungkap bahwa para siswa memperoleh bocoran dengan membeli dari Bimbingan Belajar (Bimbel) yang berinisial Q dan IS.

BACA JUGA: Kemendikbud Tuding Ada Pihak Cari Sensasi

Adapun kisaran harga adalah Rp 10 jutaan untuk enam paket kunci jawaban, esai maupun pilihan ganda.

Umumnya para siswa berkelompok, sehingga bisa patungan antara Rp 100 ribu – Rp 150 ribu per orang. Kelompok maksimal yang bisa ditoleransi adalah 70 orang per kelompok.

Modus pembocoran sama polanya dengan pembocoran kunci jawaban UN selama ini, yaitu kunci jawaban dikirim melalui aplikasi whatsApp dan line.

“Bedanya, kalau UN baru dikirim beberapa jam menjelang soal diuji, tetapi USBN siswa sudah memperolehnya satu hari sebelumnya, tidak hanya jawaban pilihan ganda, tetapi juga jawaban esai lengkap dengan qlue soal sesuai paket yang diterima siswa bersangkutan. USBN menyediakan empat paket soal, yaitu dua paket soal utama dan dua paket soal susulan,” ujar Retno Listyarti, Sekjen FSGI dalam pernyataan persnya, Kamis (23/3).

Menyikapi pernyataan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang akan menyiapkan aturan untuk menghukum guru maupun sekolah jika terbukti membocorkan soal USBN, maka FSGI merasa perlu menyampaikan hasil temuannya bahwa pelaku pembocoran soal bukanlah guru, tapi di duga kuat adalah bimbel.

“Apakah pemerintah juga sudah menyiapkan hukuman untuk Bimbel dan pihak lain yang bukan guru dan sekolah sebagai pembocor USBN? Sementara pembocor soal UN SMA jurusan IPA di google drive pada 2015 saja tidak jelas penyelesaiannya hingga hari ini," ujar Heru Purnomo, Presidium FSGI wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Meski tidak membuka posko pengaduan USBN, tapi FSGI malah menerima laporan dari sejumlah daerah terkait kebocoran soal USBN dari sejumlah daerah, yaitu Pekan Baru (Kepri) Kota Medan (Sumut), Indramayu (Jawa Barat), Kudus dan Pati (Jateng), Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Barat (DKI Jakarta), serta Nusa Tenggara Barat (NTB).(esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler