Perang Ketupat, Tradisi Warga Desa Kapal Bali untuk Memohon Kemakmuran

Senin, 14 Oktober 2019 – 09:12 WIB
Warga melempar ketupat ke arah warga lainnya dalam tradisi perang ketupat di Desa Kapal, Badung, Bali, Minggu (13/10). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara

jpnn.com, BADUNG - Warga Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, mengikuti tradisi Tabuh Rah Pengangon atau Perang Ketupat.

"Tradisi yang kami lakukan setiap tahun ini bertujuan untuk memohon kemakmuran masyarakat khususnya lahan pertanian," ujar Bendesa Adat Kapal I Ketut Sudarsana, Minggu (13/10).

BACA JUGA: Tradisi Membuang Kepala Kerbau Perbuatan Syirik

Dalam tradisi tersebut, ratusan warga setempat saling melemparkan ketupat ke arah warga lain yang sebelumnya diawali dengan penampilan tarian tradisional Bali.

Selanjutnya, tradisi dilakukan dengan saling melemparkan ketupat antara kelompok laki-laki yang melempar simbol Purusa dan kelompok wanita yang melempar ketupat dengan simbol Predana atau perempuan.

BACA JUGA: Mengulang Tradisi Mencoret Baju Seperempat Abad Lalu

Kemudian tradisi perang ketupat dilanjutkan oleh ratusan warga yang dilakukan di luar kawasan Pura Desa setempat.

Ketut Sudarsana menjelaskan, tradisi tersebut dilaksanakan pertama kali pada tahun 1339 Masehi, dan terus digelar setahun sekali.

"Melalui tradisi ini kami warga memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menganugerahkan keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Desa Kapal," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa yang menghadiri sekaligus mengikuti prosesi perang ketupat itu menyambut baik pelaksanaan tradisi tersebut.

Menurutnya, tradisi itu sudah didasari atas ajaran agama yang dapat dipakai untuk melestarikan budaya dan tradisi Bali sekaligus meningkatkan ajaran agama dan tradisi yang ada.

"Agama dan tradisi itu yang harus terus dijaga salah satunya dengan aturan-aturan yang berlaku di adat," ujar Suiasa.

Ia mengatakan, pelaksanaan tradisi tersebut memiliki sejumlah tujuan. Diantaranya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran, sebagai simbol kekuatan dan keempat adalah wujud dari persatuan.

Pada kesempatan tersebut, Ketut Suiasa menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 100 juta untuk mendukung kegiatan tradisi itu yang diterima oleh Bendesa Adat Kapal Ketut Sudarsana. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler