Perbandingan Laba Bersih BTN, BCA, BNI, dan BRI

Sabtu, 22 April 2017 – 10:39 WIB
Ilustrasi BNI. Foto: Jawa Pos.Com/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatat pertumbuhan laba bersih sangat tinggi.

Yakni, mencapai 21,03 persen secara year-on-year (yoy).

BACA JUGA: Triwulan I, BCA Raih Laba Bersih Rp 5 triliun

Laba bank spesialis kredit pemilikan rumah (KPR) itu mencapai Rp 594 miliar pada awal 2017.

Sementara itu, laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tumbuh 10,7 persen menjadi Rp 5 triliun.

BACA JUGA: Penerapan E-Retribusi, BTN Siap Salurkan KPR Mikro ke 2.639 Pedagang Pasar Klewer

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) meraup laba Rp 3,23 triliun atau tumbuh 8,5 persen pada kuartal pertama.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) berhasil mencatatkan laba bersih Rp 6,47 triliun.

BACA JUGA: 3 Bulan, BRI Raup Laba Bersih Rp 6,47 Triliun

Jumlah itu meningkat 5,5 persen jika dibandingkan dengan empat bulan pertama 2016.

Sejak 2015, perbankan mengalami masalah perlambatan pertumbuhan kredit dan macetnya arus kas akibat non-performing loan (NPL).

Perbankan pun banyak melakukan restrukturisasi kredit dan memaksimalkan kolektabilitasnya.

Rata-rata NPL bank-bank besar terpantau meningkat pada awal tahun ini.

Secara quarter-to-quarter (qtq), NPL BTN misalnya, naik dari 2,84 persen pada Desember 2016 menjadi 3,34 persen.

Selanjutnya, NPL BCA naik dari 1,3 persen menjadi 1,5 persen (qtq).

Kredit bermasalah BNI pun meningkat dari 2,8 persen menjadi tiga persen (qtq). Adapun BRI naik dari 2,13 persen menjadi 2,16 persen.

Meski secara qtq naik, NPL perbankan secara yoy cenderung menurun.

Kondisi kredit macet tampaknya memang belum bisa sepenuhnya diatasi perbankan.

Namun, jika dibandingkan dengan awal 2016 yang terdampak perlambatan ekonomi pada 2015, NPL mampu menunjukkan perbaikan.

’’Dihadapkan pada ketidakpastian perubahan suku bunga global, risiko ketidakstabilan arus dana global, kami akan memperhatikan posisi likuiditas dan permodalan yang kukuh sementara terus berupaya mempertahankan kualitas kredit,’’ kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

NPL perbankan nasional sepanjang tahun ini pun diharapkan terus menunjukkan tren penurunan.

Alasannya, harga komoditas mulai membaik sehingga memengaruhi kelancaran usaha nasabah dari segmen korporasi. Di sisi lain, nilai tukar juga terpantau stabil.

’’Dari sisi korporasi pun, sekarang mulai dilakukan efisiensi di banyak hal. Salah satunya dari sisi pembayaran utang. Mereka jadi lebih baik untuk membenahi keuangan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,’’ kata Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo.

Analis senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan, investor berharap perbankan mampu menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang baik pada tahun ini.

Selain itu, laporan keuangan yang merah karena kredit macet harus bisa dibenahi. Ekspansi dan akuisisi yang dilakukan perbankan tahun ini juga dapat menjadi sentimen positif.

’’Sebenarnya, saya kira kondisi NPL belum bisa hilang dari bank-bank besar. Makanya, bagaimana memperbaiki penagihan dan memilih sektor yang tepat untuk kredit, itu penting. Soalnya, kalau usaha nasabah lagi turun, ya mau bagaimana. Akhirnya hanya bisa mengandalkan pencadangan kan,’’ ujarnya. (rin/c22/noe)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kuartal Pertama, Laba Bersih BCA Naik 10,7 Persen


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
perbankan   BCA   BRI   BTN   BNI  

Terpopuler