Perjuangan Hidup 3 Gadis Batak

Sabtu, 18 Oktober 2014 – 07:24 WIB
Perjuangan Hidup 3 Gadis Batak. Foto: Istimewa

jpnn.com - TRADISI di satu sisi seringkali membawa keterikatan tertentu bagi sebagian masyarakat. Biasanya, keterikatan dalam konteks negatif seringkali menimpa kaum perempuan.

Seperti yang terlihat oleh Rio Silaen. Penyanyi, penulis lagu, dan sutradara itu mencoba mengangkat kondisi sosial kaum perempuan Batak di tengah tradisi dan arus perubahan zaman.

BACA JUGA: Hamil 6 Bulan, Olla Ramlan Pilih Jalan-jalan

Drama musikal Jangan Panggil Aku Butet, mencoba menggali kisah tiga gadis Batak dan perjuangannya mendobrak tradisi yang dianggapnya ”mengikat” kebebasan kaum perempuan.

”Butet yang kita tahu adalah sebutan untuk gadis kecil, dalam bahasa Batak. Kadang memberi pandangan bahwa demikianlah kaum wanita, sebuah sosok atau pribadi kecil dan lemah. Bukan hanya tak berdaya, namun sering kali dianggap tak berguna,” ujar pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1979 ini seperti yang dilansir INDOPOS (Grup JPNN.com), Sabtu (18/10).

BACA JUGA: Ini Makna Mahar Raffi Untuk Nagita

Drama musikal itu rencananya bakal digelar di Usmar Ismail Concert Hall, Kuningan, Jakarta, pada 25 Oktober mendatang. Mantan penyanyi cilik yang pernah bernyanyi di hadapan Presiden Soeharto waktu masih duduk di bangku SD tersebut menggandeng  Teffy Mayne sebagai penata musik dan Elza Simanungkalit sebagai penata gerak dan tari.

”Karena drama musikal, maka kita coba padukan akting, tari, dan nyanyi,” jelasnya.

BACA JUGA: Raffi Lega Ucapkan Ijab Qabul dalam Satu Tarikan Nafas

Rio mengemukakan drama musikal ini mengisahkah tentang perjuangan tiga gadis Batak yang bernamakan sama, yakni Butet.

Butet yang pertama, adalah seorang gadis yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Demi mimpi dan cita-citanya dia harus meninggalkan keluarga dan negaranya hanya untuk sementara waktu.

”Namun keluarganya tidak mendukung impian dan cita-citanya. Karena keluarganya masih berprinsip bahwa wanita sepatutnya mengerjakan hal-hal domestik. Seperti tinggal di rumah, mengurus anak dan suami,” ceritanya.

Yang kedua adalah Butet seorang gadis yang telah ditinggal dan ditelantarkan orang tuanya sejak kecil. Butet yang satu ini sangat berjiwa sosial, peduli dengan lingkungan, dan sekitarnya.

”Sama seperti Kartini dulu, dia mempunyai kecintaan terhadap anak-anak pinggiran dan peduli dengan pendidikan anak-anak. Dengan segala keterbatasan dan kemampuannya, dia memberanikan diri untuk menjadi relawan dan mengajar sebagai guru di daerah anak-anak jalanan,” ungkapnya.

Kedua Butet ini saling bersahabat. Mereka berdua bertekad dengan kemampuan masing-masing untuk memberikan kontribusi kepada bangsa ini.

Suatu saat nanti mereka akan membuat sebuah Rumah Penampungan untuk anak-anak pinggiran atau anak-anak yang kurang beruntung. Namun, karena berbagai kendala, termasuk Kerusuhan Mei 98 yang sempat terjadi di negara ini, maka impian itu sempat pupus.

”Rumah yang sempat mereka bangun, habis dihancurkan dan dirusak beserta segala isinya, anak-anak kecil itu menjadi korban penyiksaan. Termasuk Butet dan beberapa teman wanitanya yang disiksa dan direnggut kehormatannya,” jelasnya.

Karena bangsa yang mereka cintai, telah berkhianat. Butet yang berada di luar negeri, tidak mau kembali pulang untuk membangun negeri ini. ”Begitu pun Butet yang mengalami perkosaan, tak lagi cinta pada bangsanya sendiri,” ulasnya.

Sedangkan Butet yang ketiga adalah sosok wanita Indonesia yang menjadi pahlawan negara. ”Di era seperti ini seharunya wanita sejajar dan harus setara dengan laki-laki. Perempuan tidak hanya sebagai ibu dan istri namun bisa menjadi berbagai karakter seperti halnya kartini atau fatmawati,” pungkasnya. (ash)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Disaksikan Pejabat, Raffi Tegang Ucapkan Ijab Qabul


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler