Perjuangkan Hak, Buruh Diminta Jangan Takut Aparat

Sabtu, 18 Februari 2012 – 20:04 WIB

CIKARANG - Anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka menyerukan buruh harus bersatu untuk memerjuangkan hak-hak dan melawan kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada mereka dan lebih menguntungkan pemodal. Menurutnya, hanya dengan bersatu kaum proletar ini bisa terhindar dari bentuk-bentuk penindasan.

"Kalau kita bersatu tidak mungkin ada yang bisa mengalahkan kita," di acara Musniklub Puk FSPMI PT Kymco dan PT Kanefusa, yang dilanjutkan dengan Mimbar Buruh Bekasi, Sabtu (18/2), di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dia menegaskan, buruh juga jangan pernah takut. Kata dia, dengan bersikap berani perjuangan buruh bisa berhasil. "Keberanian dan kecintaan rakyat yang membuat kita berhasil berjuang," katanya.

Politisi PDI Perjuangan lantas mencontohkan dirinya yang berorasi pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2010 di depan Istana Negara. Dengan keberanian, ia menuntut agar pemimpin mengkaji lagi,  memerdalam dan memeraktekkan apa yang telah diperjuangkan para pejuang.

Pada saat itu, lanjut dia, bertepatan dengan kedatangan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia. "Lalu saya katakan, (pemerintah harusnya) bukan sibuk menyambut tamu asing, para kapitalis. Pasukan pengaman presiden (Paspampres) langsung bereaksi. Tapi, saya sampai hari ini masih berdiri disini  " katanya.

Demikian juga ketika masalah UU BPJS akan disahkan, dia mengaku  didampingi buruh perempuan melakukan aksi. Bahkan harus berhadapan dengan TNI. Tapi, hasilnya setelah itu untuk pertama kalinya rapat dihadiri oleh seluruh  menteri terkait. "Dan saya masih ada disini. Tidak ada apa-apa," katanya. Setelah UU BPJS disahkan, katanya, kaum buruh berjuang lagi menolak UU nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Dan itu pun menuai keberhasilan. "Kita bukan anti revisi, bukan. Kita setuju revisi. Tapi, ketika arah revisi bukan untuk kepentingan kaum buruh kita tolak," tegasnya.

Berkat kegigihan perjuangan, lanjut dia,  buruh berhasil  memeroleh draft revisi UU nomor 13 tersebut. "Padahal, di DPR secara tegas dikatakan, untuk pembahasan UU diajukan sebagai legislasi, draftnya harus ada. Ini UU untuk revisi tenaga kerja,  pemerintah tidak punya draftnya. Draft disembunyikan," kata Rieke.

Setelah diketahui isi draft itu tenaga outsourching akan dibebaskan, tidak ada aturannya. "Kemudian yang namanya THR itu bukan wajib bagi pemberi kerja, sifatnya santunan. Masa THR santunan? Hal seperti ini yang membuat kita harus menolak revisi UU tersebut," katanya.

Dia menegaskan, untuk persoalan buruh dirinya tidak akan beristirahat dan berhenti berjuang. "Saya yakin bahwa selama kita bersama, baik parlemen ekstra parlemen harus bergabung maka  kita akan kuat. Buruh itu bukan memerjuangkan buruh, tapi juga memerjuangkan rakyat. Ketika bicara soal rakyat kita bicara soal bangsa, ketika bicata soal bangsa, kita bicara negara," kata Rieke.

Artis yang terkenal dengan perannya sebagai Oneng di Bajaj Bajuri ini  mengatakan sudah saatnya tidak boleh ada lagi penindasan terhadap buruh. "Satu buah penindasan tidak boleh terjadi di negeri ini," ujarnya. 

Ia mengingatkan, perlu dipelajari bahwa tidak ada kebijakan yang menyangkut buruh bukan kebijakan politik. "Tidak ada kebijakan yang menyangkut hidup buruh dan keluarganya bukan menyangkut kebijakan politik. Ini perlu diingat. Ini adalah sebuah kebijakan politik," ungkapnya.

Gerakan buruh beraksi menutup jalan, berdemo di depan Istana, di DPR karena buruh tidak punya perwakilan jelas di legislatif maupun di pemerintahan. Karenanya, Rieke berharap ke depan, agar aktivis-aktivis buruh bisa berada di DPR, DPRD dan sebagainya.

"Jadi, menurut saya sudah jelas ke depan gerakan buruh bukan hanya gerakan yang asal suka teriak-teriak, tidak seperti itu. Perjuangan buruh adalah perjuangan bagaimana menembus dinding-dinding parlemen. Kebijakan harus ditentukan kaum buruh bukan hanya di luar tapi di dalam parlemen sendiri. Bukan hanya di jalanan Bekasi, tapi di pemerintahan Bekasi," ungkap Rieke sembari mengatakan  kemenangan buruh Kymco, Kanefusa dan Jagab bukan berarti perjuangan selesai. (boy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... FPI Sebut Media Sumbu Kekerasan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler