BACA JUGA: Millvina Dean, Kisah Haru Survivor Terakhir Tragedi Titanic
Hal itu menyusul keluarnya laporan baru kemarin bahwa ekonomi AS, yang telah tersandung, kemungkinan dibelit lebih banyak lagi masalahPara investor menjadi kecil hati pada perdagangan Kamis (16/10) dengan keluarnya pengumuman dari Departemen Perdagangan AS bahwa penjualan ritel turun 1,2 persen pada periode September
BACA JUGA: Jalan Barack Obama Kian Lempang
Data itu dianggap tanda bahwa dampak negatif pasar kredit mulai mempengaruhi belanja konsumenIndeks utama Jepang, Nikkei 225, kembali turun 10 persen dalam perdagangan kemarin
BACA JUGA: Demi Obama, Warner Bros Tunda Film McCain
Sementara indeks Dow Jones tergerus 733,08 poin atau 7,9 persen dan ditutup pada level 8,577.91 Rabu (15/10).Aksi melepas saham besar-besaran juga meluas di bursa Asia lainIndeks di Tokyo sempat terjun bebas pada perdagangan awal kemarin hingga lebih dari 10 persenSaham di Korsel terpuruk 7 persenIndeks Hang Seng di Hongkong turun 6 persen.
''Jika saat ini terjadi penurunan tajam, sangat sulit mengetahui kapan menyentuh dasar,'' terang David Moore, commodity strategist pada Commonwealth Bank of Australia, Sydney''Sangat potensial berita buruk soal perekonomian akan terus mempengaruhi dan mengguncang pasar,'' lanjutnya.
Produksi sektor industri diperkirakan anjlok pada September laluIni dialami para produsen mobil di AS maupun perusahaan manufaktur furnitur, barang konstruksi, dan barang-barang lain setelah terpukul akibat kolapsnya pasar perumahan
Jumlah orang yang menandatangani dan menerima tunjangan pengangguran sedikit melonjak pekan lalu dan diperkirakan mencapai 400.000Angka tersebut biasanya jadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja sedang bermasalah.
Harga konsumen kemungkinan naik September laluBahkan, kenaikannya lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Dalam Beige Book, The Fed menyatakan seluruh aktivitas ekonomi di AS selama September melemah''Aktivitas ekonomi dilaporkan melemah pada 12 distrik (The Fed),'' kata laporan ituPesimisme membayangi sektor bisnisLaporan tersebut akan digunakan para pembuat kebijakan bank sentral guna memutuskan tingkat suku bunga saat pertemuan 28-29 Oktober nantiSebelumnya, The Fed memotong suku bunga acuan 0,5 persen ke level 1,5 persen pada 8 Oktober lalu.
Yang masih sedikit menggembirakan adalah sektor pertanian dan sumber daya alam''Dua sektor ini positif meskipun beberapa wilayah sempat terpukul badai,'' tulis laporan tersebutSelain itu, tekanan inflasi juga dilaporkan mulai berkurang
Tapi, sektor perbankan dilaporkan terus berjuang mengatasi masalah''Standar kredit telah diperketat, terutama bagi pinjaman komersial dan realestat, di beberapa distrik,'' kata laporan tersebut''Beberapa distrik juga melaporkan bahwa institusi finansial kian hati-hati dan lebih konservatif menyalurkan kredit.''
Para analis memperkirakan The Fed kembali akan memangkas suku bunga saat pertemuan Komite Pasar Terbuka (FOMC) nanti''Untuk terus memperbaiki kondisi pasar finansial sekaligus pula melindungi dari risiko resesi akut, FOMC mungkin akan memangkas bunga menjadi 1 persen,'' ramal Ryan Sweet, analis pada Economy.com.(AP/AFP/aan/dwi)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Demi Obama, Warner Bros Tunda Film McCain
Redaktur : Tim Redaksi