Pertamina Remajakan Terminal BBM

Minggu, 05 Oktober 2014 – 06:15 WIB

jpnn.com - BANDUNG - PT Pertamina meresmikan proyek peremajaan terminal BBM (TBBM) Bandung Group-Ujung Berung dengan teknologi terbaru. Fasilitas tersebut bakal meningkatkan kinerja pendistribusian BBM untuk wilayah yang ditangani.

Direktur Pemasaran & Niaga Pertamina Hanung Budya menyatakan, fasilitas itu memakai new gantry system (NGS) yang bisa mengisi berbagai jenis BBM ke mobil tangki. Dengan begitu, TBBM Ujung Berung menjadi lebih sederhana. Fasilitas gantry yang semula terdiri atas dua filling line kini menjadi satu.

''Efisiensi cukup signifikan. Sebelumnya, kami memerlukan 14 pulau pompa untuk mengisi segala jenis BBM ke mobil tangki. Namun, kini kami hanya memerlukan tiga pulau pompa,'' ungkap Hanung kemarin (3/10).

Selain itu, proses blending produk BBM seperti biosolar bisa dilakukan secara inline (di jalur pipa). Padahal, perseroan sebelumnya perlu melakukan blending di fasilitas terpisah secara konvensional. Hasilnya, proses persiapan produk biosolar jauh lebih cepat. ''Kecepatan pengisian ke mobil tangki meningkat dari 900 liter menjadi 2.200 liter per menit,'' jelasnya.

Fasilitas tersebut juga memperhatikan aspek lingkungan. Misalnya, sistem vapour discharge. Sistem itu bisa mengalihkan buangan uap yang timbul saat pengisian ke mobil tangki. Kemudian, uap tersebut ditampung ke fasilitas vapour recovery unit. ''Dengan begitu, uap hasil pengisian tidak langsung terbuang ke udara bebas,'' ujar Hanung.

Dengan realisasi proyek itu, lanjut Hanung, sudah ada tiga TBBM yang mempunyai NGS. Yakni, di TBBM Plumpang, Surabaya, dan Bandung. Pembaruan sistem TBBM tersebut nanti dilakukan di lokasi-lokasi lain. ''Tahun depan ada 9 terminal yang kita ganti teknologinya. Secara bertahap, seluruh terminal BBM akan menggunakan teknologi ini. Dengan begitu, distribusi BBM Pertamina bisa berstandar dunia,'' paparnya.

TBBM Bandung Group-Ujung Berung sebenarnya fasilitas yang cukup tua. Pihaknya sudah mengoperasikan pusat distribusi itu sejak 21 Maret 1987. Hingga kni, fasilitas seluas 23,37 hektare tersebut digunakan untuk delapan wilayah setingkat kabupaten dan kotamadya. Mulai Bandung hingga Purwakarta.

''Pasokan BBM didapat dari terminal BBM Lomanis melalu jalur pipa Cilacap-Bandung I dan II. Dengan sistem baru yang mulai dioperasikan pada 18 September lalu, kami optimistis bisa memberikan pelayanan yang lebih optimal dan terpercaya,'' ungkapnya. (bil/c15/oki)

BACA JUGA: Infrastruktur Logistik RI Tertinggal

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Berpenghasilan Rendah Harus Jadi Prioritas Utama


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler