Pertanian Bikin Jatim Memimpin

Selasa, 07 Mei 2013 – 07:32 WIB
SURABAYA--Jawa Timur mempertahankan prestasi sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tercepat. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Jatim pada kuartal I/2013 mencapai 1,82 persen. Angka itu lebih baik dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 1,41 persen.
 Dalam periode Januari hingga Maret 2013, sektor pertanian menjadi mesin utama pertumbuhan.

"Hanya sektor pertanian yang mencatat kinerja positif. Itu disebabkan panen raya padi dan jagung," jelas Kepala BPS Jatim Irlan Indrocahyo di Surabaya, Senin (6/5).

Pada kuartal pertama ini, sektor pertanian tumbuh 52,12 persen dan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Jatim, yakni 5,59 persen. Sementara itu, sektor lain mengalami pertumbuhan negatif. "Banyak kendala seperti kenaikan UMK (upah minimum kota/kabupaten) dan listrik serta terbatasnya bahan baku yang membuat sektor lain mengalami kontraksi," ujarnya.

Sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah pertambangan dan penggalian yang tercatat 9,59 persen. Diikuti sektor jasa-jasa yang merosot 9,59 persen dan konstruksi 5,07 persen.

Sementara itu, struktur ekonomi Jatim pada tiga bulan pertama ini tidak berubah. Leading sector masih didominasi sektor perdagangan, hotel dan restoran, industri pengolahan, serta pertanian. "Tiga sektor itu memberikan kontribusi 74,45 persen di antara total perekonomian Jatim," terang Irlan.

Secara nominal, pencapaian PDRB (produk domestik regional bruto) Jatim meningkat, yakni membukukan Rp 267,492 triliun pada kuartal I/2012 dan kuartal akhir 2012 hanya Rp 259,44 triliun. "Kontribusi terbesar PDRB adalah perdagangan, hotel, dan restoran, yakni Rp 81,718 triliun. Kedua adalah industri pengolahan Rp 69,210 triliun. Selanjutnya pertanian Rp 48,170 triliun," ucapnya.

Menurut komponen penggunaan, pengeluaran konsumsi rumah tangga masih tertinggi, yakni Rp 181,89 triliun. Kemudian, diikuti ekspor (Rp 135,64 triliun); impor (Rp 126,37 triliun); dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) Rp 52,7 triliun. "Neraca perdagangan Jatim sejatinya positif. Sebab, kita unggul di perdagangan antarpulau. Meskipun, neraca perdagangan internasional masih defisit 2,2 persen," paparnya.

Pertumbuhan ekonomi Jatim tahun lalu membukukan 7,27 persen. Sementara itu, PDRB telah menembus Rp 1.000 triliun atau tepatnya Rp 1.001,72 triliun. Tahun ini, Pemprov Jatim memproyeksikan pertumbuhan 7,5 persen dengan PDRB lebih dari Rp 1,25 triliun. "Setelah menembus Rp 1.000 triliun, bisa terus melaju dengan cepat," kata Irlan. (dio/c5/kim)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gubernur Sulteng Pantau UN SD

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler