Pesan Ketua Komisi Dakwah MUI untuk Para Khatib

Selasa, 26 Februari 2019 – 07:06 WIB
Umat Islam sedang menggelar salat berjemaah di sebuah masjid di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Foto: Desynta Nuraini/JawaPos.Com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Komisi Dakwah MUI KH Muhammad Cholil Nafis menuturkan, tugas khatib adalah menyampaikan pesan - pesan agama. Khususnya, khotbah Jumat yang rutin dilakukan seminggu sekali setiap hari Jumat. Sehingga, sangat efektif menjadi media pendidikan dan pemberdayaan kualitas umat.

Cholil tidak menampik adanya khotbah yang mengandung unsur politis jelang masa pemilihan umum. "Kami menemukan aroma itu. Makanya, di sini kami sepakat bahwa tidak boleh berkampanye di masjid," ucapnya DI ACARA workshop bagi para khotib se-Jabodetabek di Hotel Sari Pasific, Minggu (24/2). Tujuan acara ini, meningkatkan kompetensi khotib agar memberikan ceramah yang jauh dari unsur politik dan unsur radikalisme.

BACA JUGA: Maruf Amin Sebut Pelaku Hoaks Calon Ahli Neraka

Khotbah harus diisi dengan nasihat yang mencerahkan. Jika bertema politik, harus menyampaikan nilai-nilai agama yang menjadi dasar umat untuk membangun peradaban bangsa dan bernegara.

BACA JUGA: Trio Emak-Emak Penyebar Fitnah Bukan Timses Prabowo, Tapi..

BACA JUGA: Menteri Lukman: MUI Tetap Punya Tiga Kewenangan Inti

Cholil menegaskan supaya para khotib tidak melupakan kode etik ketika berceramah. Tidak boleh menyinggung agama lain, tidak boleh menistakan kelompok tertentu. Kemudian, jangan sampai yang diucapkan bertentangan dengan perilaku khotib itu sendiri dan tidak boleh menyampaikan hal-hal yang kontroversi di masyarakat.

"Ketika menyinggung perbedaan, maka ulaslah secara komprehensif. Jangan hanya dari satu perspektif," tegas Cholil. Pihaknya, sudah menyiapkan dewan etik untuk merekomendasi penceramah dan menerima laporan jika ada dakwah yang bermasalah di masyarakat.

BACA JUGA: Kiai Said: NU Tidak Akan Tunduk Kepada MUI

Abdul Rozaq, Khotib Masjid Al Hidayah, Penggilingan, Cakung, mengatakan, selalu menekankan pentingnya menuntut ilmu bagi umat dalam ceramahnya. Baik urusan agama, pekerjaan, maupun sekolah. "Orang berilmu itu lebih terkontrol secara emosi. Mampu berpikir jernih dan sebagai benteng untuk mencegah hasutan radikalisme," ujarnya.

BACA JUGA: Polisi Tak Akan Segan-Segan Jemput Paksa Pentolan Alumni 212

Apalagi di era milenial seperti ini dengan banyaknya isu-isu hoaks bertebaran. Butuh kualitas diri yang bagus agar tidak mudah terhasut. (han)

BACA ARTIKEL LAINNYA... MUI Desak Polri Tuntaskan Kasus Bisnis Prostitusi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler