Petani Keluhkan Kualitas Durian

Sabtu, 26 Januari 2013 – 09:18 WIB
KENDAL - Musim durian tahun ini sepertinya kurang berpihak pada para petani durian di Kendal. Meski panen tetap melimpah, namun kualitas durian kali ini menurun. Sehingga membuat nilai jual durian jadi rendah.

Menurut Deni Asmara (33), petani durian asal Desa kertosari, Kecamatan Singorojo, di daerah Singorojo dan Boja banyak durian yang rasanya hambar. Kendati hasil panen tetap banyak seperti biasa. Sehingga, tak sedikit pesanan dari para pelanggan yang ditolak.

“Kualitasnya berkurang empat tahun terakhir ini. Nggak tahu kenapa, rasanya kebanyakan hambar. Padahal panennya juga banyak seperti biasa. Setiap pohon besar biasanya puluhan buahnya,” katanya, kemarin.

Dikatakan, hampir separuh buah durian yang dihasilkan setiap pohon menjadi hambar. Dirinya memberikan contoh misalnya satu pohon besar durian menghasilkan 100 buah, separuh diantaranya hambar.

“Durian yang rasanya hambar paling cuma laku antara Rp 1.000 - 3.000. Biasanya digunakan untuk kolak,” jelasnya.

Deni mengaku menjual buah durian dengan kualitas kurang baik ke Surabaya. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerugian lebih besar. Sementara untuk durian kualitas bagus, pihaknya menjual di wilayah dan sekitarnya.

“Yang kurang bagus kita lempar ke Surabaya, untungnya di sana cukup diminati, yang bagus dijual di sekitar sini saja (Kendal-red),” ujarnya.

Ditambahkan, saat ini durian jenis Kumbokarno sudah mulai sulit didapat. Yang paling banyak ditemukan dipasaran adalah durian jenis lokal dan jenis Mrica. “Sekarang yang bagus seperti jenis Kumbokarno sulit dicari. Jenis lokal atau jenis Mrica yang bagus harganya sekitar Rp 50 ribu,” tukasnya.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Perkebunan dan Kehutanan Kendal, Sri Purwati mengatakan, kualitas durian juga dipengaruhi oleh musim. Dan, rasa durian akan hambar jika saat panennya bersamaan dengan musim hujan seperti sekarang ini. Karena, pohon membentuk tunas saat musim hujan.

“Jadi asupan makanan yang seharusnya untuk buah beralih ke tunas. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Kendal saja, tapi juga di daerah lain,” jelasnya. (yud)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 17 Honorer K1 di Setwan Terancam Dicoret

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler