Peziarah Makam Gus Dur tak Hanya dari Jawa tapi juga Aceh

Rabu, 19 Desember 2018 – 00:32 WIB
Sekelompok peziarah menuju makam Gus Dur yang berada di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Foto: Eko Hendri/Jawa Pos

jpnn.com - Peziarah makam Gus Dur ada yang dari Aceh, ada pula yang dari kalangan nonmuslim. Saat haul, para pedagang di sekitar makam Gus Dur bisa meraup penghasilan sampai tiga kali lipat.

EKO HENDRI SAIFUL, Jombang

BACA JUGA: Sambangi Darul Ulum Jombang, Jokowi Bicara Merawat Kerukunan

DARI Cirebon, Jawa Barat, tempatnya tinggal, butuh waktu sekitar seminggu bagi Muhammad untuk bisa sampai Jombang, Jawa Timur. Maklum, dia dan kawan-kawan sepengajian berganti-ganti moda transportasi.

Estafet. Juga, harus transit untuk menginap di rumah saudara di Tuban. Tapi, perjalanan panjang nan melelahkan itu akhirnya terbayar tuntas saat Minggu lalu (16/12) bisa hadir di Jombang tepat pada perayaan Haul Ke-9 Abdurrahman Wahid.

BACA JUGA: Cara Presiden Jokowi Permudah Akses Perbankan untuk Rakyat

’’Pokoknya, saya tak mau melewatkan haul Gus Dur,’’ katanya kepada Jawa Pos di Jombang, Senin (17/12).

Muhammad dan kawan-kawan adalah bagian dari puluhan ribu orang yang membanjiri Jombang pada puncak peringatan 9 tahun wafatnya mantan presiden Indonesia itu. Mereka datang dari berbagai kota. Tak hanya dari Jawa, tapi juga dari Aceh.

BACA JUGA: Puluhan Ribu Sak Limbah Beracun Bertebaran di 3 Kecamatan

Hingga kemarin, banyak yang masih bertahan di sekitar kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tempat makam Gus Dur berada. Berdoa secara bergantian di makam sosok karismatis yang pergaulannya melintas golongan dan bangsa tersebut.

’’Dulu setiap kali beliau (Gus Dur, Red) berceramah, saya tak pernah absen. Rela naik-turun angkutan untuk sampai luar kota,’’ kata Solihin, salah seorang peziarah asal Gresik, Jawa Timur, saat ditemui di kompleks Pesarean Ponpes Tebuireng.

Bahkan, sembilan tahun setelah kepergian Gus Dur, air mata Solihin tak kuasa mengalir. Tiap kali bercerita tentang sosok yang sangat dia kagumi tersebut.

Haul mantan ketua umum PB Nahdlatul Ulama yang dikenal humoris itu pun tak pernah dia lewatkan. Kali ini dia datang bersama putrinya, Eva Maulida. ’’Saya dan anak sampai ganti lin tiga kali (dari Gresik ke Jombang). Tapi, mengasyikkan sekali perjalanannya,’’ ungkap Solihin.

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 di Jakarta. Semasa hidupnya, tokoh yang pernah menuntut ilmu di Mesir dan Iraq itu dikenal sangat pluralis. Pelindung kalangan minoritas.

Karena itu, peziarah ke makamnya pun melintas batas. Bukan hanya kalangan muslim, melainkan juga para pemeluk agama lain.

Makam Gus Dur berada di bagian belakang kompleks Pondok Pesantren Tebuireng. Pondok itu berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Jombang. Bisa ditempuh dengan berkendara mobil dalam 15 menit.

Selain lewat ponpes, peziarah harus melewati lapangan parkir bus. Jarak tempat parkir ke area makam sekitar 500 meter. Selain Gus Dur, di kompleks pesarean tersebut dimakamkan pula, antara lain, sang kakek, KH Hasyim Asy’ari, dan ayahandanya, KH Abdul Wahid Hasjim.

Bahkan, di luar haul pun, peziarah tak pernah sepi mengalir ke sana. Ustad Iskandar, ketua panitia Peringatan Sembilan Tahun Wafatnya Gus Dur, menyatakan, jumlah peziarah per hari mencapai 3 ribu orang.

Otomatis, itu mendatangkan berkah bagi warga sekitar. Ada yang berjualan makanan dan minuman. Ada yang berdagang suvenir. Ada pula yang menyewakan penginapan.

Iskandar memperkirakan ada 500 pedagang. Saat haul, jumlah mereka meningkat. Mencapai 700-an. Mereka berada di pinggir jalan ke arah makam.

Para penjaja makanan itu datang dari berbagai kota. ’’Yang Jombang sekitar 50 persen,’’ kata Iskandar yang juga kepala Ponpes Putra Tebuireng.

Sebagaimana disaksikan Jawa Pos kemarin, sebagian peziarah, terutama yang selesai berdoa di makam, berjubel di sentra kuliner. Di tempat parkir seluas 600 meter persegi, bus dan kendaraan roda empat lain bergantian mengisi.

’’Alhamdulillah, kemarin (saat haul) saya dapat Rp 3 juta sehari,’’ ungkap Lailatul Fitria yang berjualan berbagai suvenir.

Itu berarti naik tiga kali lipat jika dibandingkan pendapatan rata-rata hariannya. Fitria sudah sembilan tahun berjualan di sekitar kompleks Ponpes Tebuireng.

Sebelumnya, dia hanya menyuplai toko-toko kecil di sekitar rumah. Setelah makam Gus Dur dibangun, keluarga gadis berusia 25 tahun itu membuka toko di jalan menuju makam. ’’Sekarang semakin ramai,’’ katanya.

Salah satu barang dagangannya yang banyak diburu adalah songkok bertulisan Gus Dur. Kopiah itu dihargai Rp 15 ribu–Rp 20 ribu. ’’Orang-orang belinya bisa lebih dari 15. Mungkin untuk oleh-oleh,’’ jelasnya.

Berkah lain perayaan haul juga dirasakan Nurlida. Perempuan itu memilih berjualan jasa. Dia macak fotografer keliling dan mendatangi satu per satu peziarah. Sasarannya anak-anak.

’’Kalau lagi haul, bisa sampai 500 orang yang minta difoto,’’ ungkap Nurlida.

Satu kali jepretan dihargai Rp 5 ribu. Artinya, perempuan berusia 40 tahun itu bisa mendapat Rp 2,5 juta dalam sehari.

Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara dalam peringatan sembilan tahun wafatnya Gus Dur. Mulai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof KH Nasaruddin Umar, Menteri Koordinator (Menko) Ekonomi (era Gus Dur) Kwik Kian Gie, mantan Mensesneg Bondan Gunawan, serta mantan Juru Bicara Kepresidenan Wahyu Muryadi. Mereka menghibur peziarah dengan cerita-cerita interaksi mereka dengan Gus Dur.

’’Tahun ini memang sengaja memilih orang-orang dari Kabinet Gus Dur. Ternyata, masyarakat cukup antusias menyambut,’’ kata Iskandar.

Iskandar memastikan jumlah pengusaha kecil di sekitar tempat wisata religi tersebut bakal terus bertambah. Saat ini, Pemkab Jombang membangun satu sentra PKL di sekitar tempat parkir.

Adanya peziarah, lanjut Iskandar, tidak saja mendorong pengusaha kecil. Harga properti di sekitar makam juga meningkat. Dari semula Rp 250 ribu per meter persegi, naik menjadi lebih dari Rp 1 juta setelah adanya pembangunan makam Gus Dur.

’’Tidak saja dampak ekonomi. Ada dampak sosialnya juga,’’ ujarnya.

Iskandar tak lupa menyebut soal komunitas KPK (Komunitas Pecinta Kopi). Yang sangat membantu dalam penyediaan parkir saat haul. ’’Mereka (KPK, Red) memberi bantuan swadaya. Parkir roda dua gratis,’’ katanya. (*/c5/ttg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kiai Mataraman Datangi Tempat Lahir Gus Dur demi Cak Imin


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler