Pidato Pertama, Kim Ajak Penyatuan Dua Korea

Rabu, 02 Januari 2013 – 08:08 WIB
PYONGYANG - Ada yang berbeda di Korea Utara (Korut) pada pergantian tahun kali ini. Kemarin (1/1), untuk kali pertama, pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un menyampaikan pidato tahun baru yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi nasional. Ini adalah siaran langsung pertama pidato penguasa negeri tetangga Korea Selatan (Korsel) itu selama sekitar 19 tahun terakhir.

Dalam pidatonya itu, putra ketiga mendiang Kim Jong-il  (penguasa Korut sebelumnya) tersebut banyak berbicara soal peningkatan perekonomian negerinya dan reunifikasi dua Korea. Dia pun mengatakan bahwa konfrontasi antara Korut dan Korsel hanya akan berujung pada perang.

Sebagai pemimpin Korut, Jong-un menyatakan bahwa dirinya tidak menginginkan terjadinya peperangan lagi di Semenanjung Korea. "Jelas penting bagi kita untuk segera menghentikan pertikaian serta konfrontasi antara (Korea) Utara dan (Korea) Selatan. Kita harus mulai mengupayakan reunifikasi," terang cucu pendiri Korut mendiang Kim Il-sung tersebut.

Gagasan Jong-un itu senada dengan cita-cita presiden terpilih Korsel, Park Geun-hye. Rencananya, dua pemimpin tersebut segera bertemu untuk membahas hubungan dua Korea.

Kendati demikian, Jong-un juga menegaskan bahwa kekuatan militer tetap menjadi prioritas utama Korut. "Kekuatan militer suatu negara menjadi lambang kekuatan nasionalnya. Hanya dengan terus membangun kekuatan militer dari segala bidang, sebuah negara bisa dikatakan berkembang," ujarnya seperti dilansir tiga surat kabar Korut kemarin.

Mengenai pertumbuhan ekonomi, Jong-un mengimbau seluruh lapisan masyarakat Korut agar lebih keras dalam berusaha. "Tahun 2013 akan menjadi tahun kreasi dan perubahan. Hanya dengan perubahan radikal, negara ini akan menjadi lebih makmur dan tidak lagi terisolasi dari raksasa-raksasa ekonomi dunia," kata pemimpin 29 tahun tersebut.    

Pidato tahun baru Jong-un itu disiarkan bersamaan dengan memanasnya pembahasan tentang sanksi Dewan Keamanan (DK) PBB untuk Korut. Itu berkaitan dengan kenekatan Korut meluncurkan roket jarak jauh secara diam-diam pada 12 Desember lalu. Dunia internasional khawatir keberhasilan peluncuran roket itu akan diikuti dengan uji coba nuklir Korut, seperti pada 2006 dan 2009. (AFP/BBC/hep/dwi)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Chavez Komplikasi, Tak Ada Konser Tahun Baru

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler