Pilpres AS 2020: Eks Wakil Obama Dikeroyok Para Pemburu Tiket Demokrat

Sabtu, 29 Juni 2019 – 16:03 WIB
Barack Obama mengalungkan medali kepada Joe Biden. Foto: AFP

jpnn.com, MIAMI - Joe Biden digadang-gadang sebagai sosok yang paling kuat untuk mengalahkan Presiden AS Donald Trump dalam Pemilu 2020. Namun, jalan Biden untuk mendapatkan tiket sebagai calon presiden (capres) yang diusung Partai Demokrat masih panjang. Sebab, kandidat capres lainnya tidak menyerah dengan mudah.

Hal itu tampak dalam debat kedua di Adrienne Arsht Center, Miami, Florida, Kamis (27/6). Biden menjadi musuh bersama. Sebagian besar kandidat menyerang mantan wakil presiden AS tersebut.

BACA JUGA: Demokrat Pastikan Tidak Bersama Prabowo Lagi

Salah satunya adalah senator Kamala Harris dan legislator Eric Swalwell. Swalwell mengaku masih berumur 6 tahun ketika Biden ikut konvensi kandidat presiden Partai Demokrat di California. Kala itu Biden berkata bahwa sudah waktunya untuk menyerahkan obor (kekuasaan) ke generasi baru Amerika. Tapi, nyatanya hingga kini Biden masih ingin berkuasa dengan kembali mencalonkan diri.

Swalwell mendesak Biden untuk mundur dan menyerahkan posisi yang ingin dikuasainya ke politikus muda yang lebih tahu cara menangani perubahan iklim, mengurangi kekerasan dengan senjata api, dan berbagai isu lainnya.

BACA JUGA: Megan Rapinoe, Lesbian Berambut Ungu yang Menarik Perhatian Zac Efron dan Donald Trump

BACA JUGA: Pilpres AS 2020: Perebutan Tiket Demokrat Dimulai, Dua Kandidat Mencuat

Biden memang sudah berusia 76 tahun. Kandidat yang lebih tua adalah Bernie Sanders, 77. Jika satu di antara mereka terpilih dan berhasil mengalahkan Trump, Biden atau Sanders bakal menjadi presiden tertua di AS.

BACA JUGA: Piala Dunia Wanita 2019: Juara Bertahan Kalahkan Tuan Rumah di Perempat Final

Biden tak terlalu menanggapi serangan Swalwell. "Saya masih memegang obor itu," ujarnya santai.

Namun, Biden tidak bisa sesantai itu ketika dicecar pertanyaan dari Harris tentang ras. Harris adalah satu-satunya kandidat kulit hitam yang mencalonkan diri. Dia mempertanyakan komentar Biden yang memuji dua senator rasis pendukung kebijakan pemisahan ras atau segregasi. Bagi Harris, komentar Biden menyakitkan.

Seisi ruangan terasa senyap ketika Harris berbicara. Biden menjawab bahwa dirinya bukanlah pendukung rasisme. Buktinya, dia menjadi wakil presiden di masa kepemimpinan Barack Obama yang merupakan seorang kulit hitam. Mereka berdua terkenal dekat.

Kebijakan-kebijakan ekonomi Bernie Sanders juga banyak dibicarakan di setengah jam pertama debat. Tapi, Sanders tak terlalu bersinar malam itu. Sanders memaparkan rencananya untuk asuransi kesehatan universal. Namun, jika asuransi tersebut diterapkan, penduduk AS harus membayar pajak lebih tinggi.

Hampir semua kandidat meng­kritik kebijakan-kebijakan Trump. Termasuk Sanders. Dia menyebut presiden ke-45 AS itu pembohong patologis dan rasis. Kebijakan Trump yang memisahkan imigran anak-anak dari orang tuanya juga menjadi bahan cibiran. "Itu adalah kejahatan yang disponsori negara," tegas Marianne Williamson. (sha/c10/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Makin Panas, Iran Resmi Adukan Amerika ke PBB


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler