Pilpres AS 2020: Joe Biden Punya Amunisi Rp 2,3 Triliun, Donald Trump Kalah Jauh Banget

Jumat, 23 Oktober 2020 – 13:32 WIB
Dua kandidat yang bertarung di Pilpres Amerika Serikat 2020, Donald Trump dan Joe Biden. Foto: Reuters/AP

jpnn.com, WASHINGTON DC - Tim calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, mengumpulkan dana kampanye jauh lebih banyak daripada kubu Presiden Donald Trump.

Tim Biden mengumpulkan sekitar USD 130 juta (Rp 1,9 triliun) selama periode 1-14 Oktober. Angka tersebut lebih besar sekitar tiga kali lipat dari USD 44 juta (Rp 647 miliar) yang dikumpulkan oleh kampanye Trump.

BACA JUGA: Ada Ramalan soal Donald Trump Bakal Menang Lagi, Lalu Akhir Dunia Dimulai

Belanja kubu Biden juga lebih dari dua kali lipat yang dikeluarka pihak Trump selama periode tersebut. Kini iklan politik Biden jauh lebih umum di televisi Amerika.

Dengan sekitar dua minggu sebelum pemilihan 3 November, Biden memiliki dana kampanye USD 162 juta (Rp 2,3 triliun) di bank, dibandingkan dengan sekitar USD 44 juta (Rp 647 miliar) uang tunai yang dipegang oleh tim kampanye Trump.

BACA JUGA: Rezim Trump Tuduh Agen Iran Mengintimidasi Pemilih Pilpres Amerika

Trump membuntuti Biden di sebagian besar jajak pendapat publik nasional, tetapi kontes tersebut terlihat lebih dekat di sejumlah negara bagian yang dapat menentukan pemenang.

Keunggulan Biden dalam perlombaan uang bukanlah jaminan kemenangan. Trump menang dalam pemilu 2016 meskipun dikalahkan oleh kandidat Demokrat Hillary Clinton.

BACA JUGA: Mantan Capres Partai Republik Ogah Pilih Donald Trump di Pilpres AS 2020

Menurut data Election Project, setidaknya lebih dari 3,8 juta warga negara telah memanfaatkan hak pilih melalui pemungutan suara lebih awal dan surat.

Angka itu tercatat 75.000 suara lebih banyak dibandingkan periode yang sama pada pemilu 2016.

Lonjakan jumlah suara lebih dini menggambarkan kemungkinan capaian rekor jumlah pemilih dalam pertarungan politik antara kandidat petahana, Donald Trump, dan lawannya, mantan wakil presiden Joe Biden.

Kenaikan suara yang masuk lebih dini dipengaruhi oleh perluasan sistem pemungutan suara awal dan melalui layanan pos di banyak negara bagian atas pertimbangan cara aman memilih di tengah situasi pandemi COVID-19, menurut Michael McDonald daru Universitas Florida.

McDonald, yang mengelola Elections Project, juga menyebut bahwa muncul keinginan publik untuk ikut serta dalam menentukan masa depan politik Trump.

"Kita tak pernah melihat orang sebanyak ini memanfaatkan hak suara jauh hari sebelum pemilu. Masyarakat memilih ketika mereka memutuskan, dan kita tahu bahwa banyak orang telah memutuskan sejak lama dan sudah mempunyai penilaian tentang Trump," kata McDonald.

Dengan angka pemilih awal yang tinggi itu, McDonald memprediksi jumlah pemilih total nantinya mencapai 150 juta orang, mewakili 65 persen dari daftar pemilih --persentase tertinggi sejak 1908.

Jumlah 3,8 juta lebih suara yang sudah masuk itu sejauh ini datang dari 31 negara bagian. Jumlah itu akan bertambah cepat dalam beberapa pekan ke depan, karena lebih banyak negara bagian menggelar pemungutan suara awal dan via surat.

Persentase pemilih yang memberikan hak suara lewat secara langsung pada hari pemungutan suara 3 November sudah mengalami penurunan sebelum pemilu tahun ini, menurut Komisi Bantuan Pemilu.

Angka total suara masuk lewat pemungutan suara awal atau via surat telah bertambah lebih dari dua kali lipat, dari hampir 25 juta pada 2004 menjadi 57 juta suara pada 2016. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler