Polisi Tembak Petugas PDAM

Selasa, 10 April 2018 – 21:54 WIB
Pistol. Ilustrasi: YouTube

jpnn.com, SURABAYA - Aparat Polrestabes Surabaya menembak empat pembobol rumah yang menyamar petugas meteran PDAM.

Selama setahun beraksi, mereka menggondol uang dan perhiasan senilai Rp 872 juta.

BACA JUGA: Waspada! Petugas PDAM Palsu ke Rumah Anda

Para pelaku merupakan warga Sulawesi Selatan. Mereka sempat tinggal di Surabaya.

Komplotan itu diketuai Arifin Daeng Nassa. Dia punya tujuh anak buah. Selain meringkus Arifin, polisi menangkap tiga anak buahnya.

BACA JUGA: Awas, Petugas PDAM Gadungan Sikat Uang Ratusan Juta

Yakni, Anton Saputra, Andri Syahrial, dan Arham Djaelani. Empat orang lainnya masih buron.

Arham merupakan residivis. Dia ditangkap polisi pada 2016. Dia juga tersandung kasus yang sama.

Saat itu, dia beraksi bersama tiga rekannya di area Tambaksari. Namun, yang tertangkap hanya Arham. Rekan-rekannya berhasil kabur.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran menjelaskan, para pelaku tidak selalu bersama-sama saat beraksi.

Namun, selalu ada Arifin yang memimpin komplotan itu. Setiap beraksi, sedikitnya ada empat hingga enam pelaku.

"Mereka punya sasaran tertentu. Sampai sekarang masih kami dalami, ngakunya PDAM atau juga PLN," ujarnya.

Sasaran yang dimaksud mantan Kasubdit Tipidkor Polda Jatim itu adalah kawasan perumahan.

Polisi meyakini mereka sudah beraksi lebih dari empat kali. "Sekali beraksi, mereka bisa menggasak sejumlah perhiasan dan uang tunai Rp 30 juta-Rp 200 juta," kata Sudamiran.

Kanitjatanras Polrestabes Surabaya AKP Agung Widoyoko mengatakan, masih ada beberapa korban yang belum melapor ke polisi.

Para bandit itu sudah beraksi di kawasan Manyar Kertoadi, Dukuh Kupang, Tambaksari, dan Sawahan.

"Setahu saya, ada satu korban yang belum melapor. Di Jalan Kenjeran rumahnya," ujarnya.

Bagaimana cara mereka beraksi? Arifin selaku ketua komplotan bersama Anton bertugas sebagai tim yang menggambar sasaran.

Mereka memetakan terlebih dahulu rumah yang akan "digarap". Salah satu indikator yang mereka gunakan adalah rumah yang memiliki pembantu. Selain itu, majikannya berangkat bekerja sejak pagi.

Oleh karena itu, kelompok bandit itu hanya beraksi selama satu jam. Yakni, pada pukul 08.00 hingga 09.00. Arifin dan Anton mengenakan hem biru muda bak pegawai PDAM.

Mereka juga membawa sejumlah perkakas khas. Misalnya, meteran, obeng, dan map kosong.

Mereka berbagi peran. Arifin dan Anton berusaha mengalihkan perhatian para korban.

Caranya membumbui percakapan seolah-olah meteran air rusak dan membutuhkan penggantian.

Pelaku lainnya segera masuk ke rumah dan membobol sejumlah lemari. Setelah berhasil, mereka segera kabur.

Biasanya, korban baru sadar setelah para pelaku pergi. "Nggak ada gendam. Hanya kemampuan mengalihkan perhatian lewat pembicaraan," jelas Agung.

Polisi menyita sejumlah barang bukti dari para tersangka. Yakni, 15 perhiasan berbentuk liontin, anting, gelang, dan kalung emas. Juga uang tunai Rp 12 juta sisa kejahatan. (mir/sal/c6/git/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler