Polisi Tidur

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Kamis, 11 Agustus 2022 – 18:15 WIB
Ilustrasi Polri. Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - Gus Dur semasa hidupnya menyebut hanya ada tiga polisi jujur.

Satu, Pak Hoegeng Iman Santoso, legenda di kepolisian yang menjabat Kapolri pada 1968 sampai 1971.

BACA JUGA: Soal Motif Pembunuhan Brigadir J, Komjen Agus: Biarlah Menjadi Konsumsi Penyidik

Kemudian, patung polisi.

Selanjutnya ialah polisi tidur yang banyak dipasang warga di jalanan kampung untuk mencegah pengendara supaya mengurangi kecepatan. 

BACA JUGA: Polisi Memulangkan Ismail yang Kutip Guyonan Gus Dur di Media Sosial

Itu joke khas ala Gus Dur

Cuma Gus Dur yang bisa bebas mengolok-olok semacam itu. 

BACA JUGA: The Next Gus Dur

Publik bisa tertawa, dan yang terkena sasaran olok-olok hanya bisa tersenyum masam, atau cemberut menahan marah tetapi tidak bisa marah.

Ada yang menambahi, polisi tidur suka bikin susah karena dipasang secara serampangan.

Ada yang berkomentar, dalam posisi tidur saja polisi bukin susah, apalagi kalau bangun. 

Polisi bisa baper mendengar joke-joke yang membuat panas kuping ini. 

Seorang netizen yang mengunggah joke itu harus berurusan dengan polres. 

Peristiwa itu terjadi pada 16 Juni 2020. 

Seorang pria di Kepulauan Sula, Maluku Utara, berinisial IS dipanggil Polres Kepulauan Sula setelah mengunggah tulisan soal tiga polisi jujur di Facebook. 

"Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng," demikian bunyi humor yang diposting IS di akunnya di Facebook.

Dia dipanggil ke polres dan diperiksa mengenai unggahan itu. 

Untungnya peristiwa itu menyebar sampai ke telinga anggota DPR dan pejabat polisi di Mabes Polri yang menyayangkan pemanggilan itu. 

Salah satu putri Gus Dur juga menyayangkan pemanggilan itu. 

Akhirnya, sang pengunggah pun dibebaskan setelah menyatakan permintaan maaf atas joke nakalnya itu.

Beda dengan Kapolres Sula, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo malah lebih tebal kuping. 

Dia mengutip joke itu sambil mengatakan bahwa hal itu menjadi satire yang mengingatkan Korps Bhayangkara akan pentingnya kejujuran dan integritas. 

“Munculnya humor tentang 3 polisi jujur di Indonesia, yaitu patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng seakan telah melegitimasi bahwa sangat sulit mencari polisi jujur dan berintegritas di negeri kita.”Begitu bunyi unggahan Listyo Sigit.

Humor adalah bagian dari cara masyarakat untuk menyampaikan kritik terhadap institusi yang dianggap powerful dan dominan. 

Ketika saluran kritik resmi tersumbat maka humor menjadi saluran alternatif yang dipilih untuk menyuarakan kritik. 

Ada humor kategori gelap atau dark humor yang bisa membuat panas kuping, tetapi humor itu penting karena menyuarakan kondisi riil di masyarakat.

Listyo Sigit menyadari institusinya sekarang menjadi sorotan karena peristiwa pembunuhan terhadap Brigadir J. 

Dia tidak bisa lagi membanyol dengan mengunggah joke Gus Dur itu. 

Akan tetapi, dia kini makin menyadari bahwa humor itu makin dekat dengan kebenaran.

Publik yang sering kecewa terhadap polisi kerap membuat sindiran ringan sampai berat. 

Di Malang, Jawa Timur, polisi disebut sebagai ‘’silup’’ atau ‘’isilup’’ kebalikan dari ejaan ‘’pulisi’’. 

Sebutan ini netral, tetapi tetap ada konotasi negatif dan sudah menjadi bagian dari slank, bahasa tidak resmi. 

Yang lebih berat adalah sebutan ‘’wercok’’ yang juga sudah menjadi slank dan dipakai oleh netizen di percakapan medsos maupun di grup pertemanan WhatsApp. 

Wercok adalah akronim dari ‘’wereng cokelat’’ untuk menggambarkan seragam polisi yang berwarna cokelat. 

Wereng adalah sejenis hama yang biasanya merusak tanaman padi yang sudah siap dipanen.

Anak-anak milenial mungkin tidak banyak yang mengenal wereng. 

Akan tetapi, generasi ‘’kolonial’’ yang hidup di masa Orde Baru sangat mungkin familiar dengan wereng. 

Jenis hama ini menjadi populer seiring dengan gencarnya program intensifikasi pertanian oleh pemerintahan Orde Baru. 

Untuk meningkatkan hasil panen beberapa kali lipat pemerintah memakai berbagai jenis pupuk dan pestisida untuk mengusir hama. 

Akan tetapi, hama ternyata lebih cerdik dengan melakukan mutasi dan adaptasi sehingga kebal terhadap racun pestisida. 

Jenis hama ini disebut sebagai wereng yang bisa menghancurkan tanaman padi siap panen dalam tempo semalam.

Sejak itu wereng menjadi bagian dari kosakata yang memperkaya khazanah bahasa Indonesia. 

Istilah itu dipakai untuk menggambarkan seseorang yang bertabiat buruk yang suka berbuat kejahatan ringan sampai  berat.

Menyebut polisi sebagai wercok adalah bagian dari upaya sekalangan masyarakat untuk mengritik polisi yang bertingkah tidak terpuji. 

Masyarakat yang tidak puas tidak semuanya berani melakukan kritik terbuka, apalagi melakukan protes secara terang-terangan. 

Polisi sudah menjadi institusi yang powerful dan masyarakat takut mengritiknya secara terbuka.

Penyebutan wercok bisa disebut masih cukup ringan kalau dibanding dengan gerakan anti-polisi di luar negeri, terutama di Amerika Serikat. S

ejak 2020 gerakan anti-polisi meluas setelah munculnya kasus pembunuhan terhadap pemuda kulit hitam George Floyd oleh polisi. 

Masyarakat yang marah melakukan demonstrasi luas dengan memakai semboyan ACAB, All Cops Are Bastards yang artinya ‘’semua polisi adalah bajingan’’.

Sikap keras masyarakat Amerika itu muncul karena serangkaian kekerasan yang dilakukan polisi terhadap masyarakat, khususnya kulit hitam. 

Polisi dianggap rasis karena memperlakukan orang kulit hitam lebih buruk dibanding kulit putih. 

Para pendukung gerakan ACAB mendesak pemerintah untuk mencabut anggaran polisi dengan membentangkan poster ‘’Defund Police’’.

Gerakan itu sudah menyebar ke seluruh dunia dan sudah mulai merasuk ke Indonesia. 

Polisi harus mengantisipasi gerakan ini, bukan hanya dengan memberangus dan menangkap aktivis, tetapi dengan memperbaiki institusi Polri. 

Pembunuhan Brigadir J membuka borok yang menganga di tubuh Polri. 

Menko Polhukam Mahfud MD menyebut ada ‘’mabes di dalam mabes’’ yang mengisyaratkan adanya operasi tidak resmi di bawah tanah dalam tubuh Polri. 

Indonesia Police Watch (IPW) menyebut adanya geng mafia di tubuh Polri. 

Para pengamat menyoroti keberadaan satuan tugas khusus atau satgassus, yang ditengarai melakukan operasi pengendalian transaksi gelap, mulai dari perjudian sampai perdagangan narkoba.

Awalnya isu itu hanya sayup-sayup terdengar, tetapi sekarang makin santer. 

Kamaruddin Simanjuntak, pengacara keluarga Brigadir J, secara terbuka menyebut pembunuhan terhadap kliennya berhubungan dengan adanya operasi gelap bisnis narkoba dan perjudian di level atas Polri.

Bisnis gelap itu dikendalikan secara rapi sampai ke level yang tinggi dan menjadi salah satu sumber pundi-pundi dana off-budget atau dana non-bujeter yang jumlahnya sangat besar. 

Brigadir J kemungkinan tahu operasi itu dan akan membocorkannya. 

Brigadir J tahu terlalu banyak—termasuk kemungkinan informasi hubungan cinta back street Ferdy Sambo—yang membuatnya harus dihabisi.

Kisah pembunuhan Brigadir J ini mirip dengan kisah film lawas 1992 ‘’A Few Good Men’’ yang dibintangi oleh Tom Cruise sebagai pengacara Daniel Kaffe, Demi Moore sebagai pengacara Joanne Galloway, dan Jack Nicholson sebagai Kolonel Jessup. 

Dua pengacara militer itu membela dua prajurit marinir yang dituduh membunuh Prajurit Santiago di markas besar marinir di Guantanamo. 

Marinir Amerika dikenal sebagai lembaga militer paling kuat dan paling disegani. 

Organisasinya rapi dan profesional. Akan tetapi, di balik itu ternyata ada operasi gelap yang berlangsung lama dan sangat dirahasiakan. 

Siapa pun yang membocorkan rahasia itu akan disingkirkan melalui pembunuhan yang direncanakan dan dirahasiakan secara rapi.

Semua prajurit di marinir harus mentaati ‘’red code’’ atau kode merah, yang berarti rahasia tingkat tinggi. 

Prajurit Santiago mengetahui rahasia itu dan akan melaporkan kepada jenderal lain. 

Karena itu, Kolonel Jessup, yang menjadi komandan tertinggi memerintahkan dua prajurit supaya mengeksekusi Prajurit Santiago.

Dalam persidangan, Kaffe dan Galloway berhasil membuktikan bahwa pembunuhan Santiago dilakukan atas perintah Kolonel Jessup. 

Di persidangan, Kaffe berhasil menunjukkan bukti-bukti yang membuat Kolonel Jessup terpojok dan akhirnya dihukum.

Di lingkungan Marinir Amerika, ada ‘’red code’’ dan di Polri ditengarai ada ‘’code of silence’’, yang artinya anggota harus menjaga rahasia dengan risiko mati. 

Siapa yang membocorkan red code dan code of silence harus dieksekusi.

Di dalam institusi besar seperti Marinir Amerika ternyata hanya ada ‘’a few good men’’ sedikit orang yang baik. 

Mungkin Gus Dur benar bahwa di Polri pun hanya ada sedikit orang baik. (*)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler