Polwan Cantik Ini Sempat Mengira Polisi Itu Galak

Sabtu, 18 April 2015 – 20:41 WIB
Anggota Polres Malinau, Brigadir Sharniaty Nari. Foto: Markumi/Radar Tarakan/JPNN

jpnn.com - IMPIAN Sharniaty Nari menjadi polisi akhirnya terealisasi. Bahkan saat ini, gadis cantik itu telah menyandang pangkat brigadir polisi dan bertugas di Kepolisian Resor Malinau.

“Saya liat Polwan di jalan itu kok cantik-cantik, anggun gitu yah. Yang cowoknya juga ganteng-ganteng, keren dengan rompi dan motor gedenya. Saya langsung mikir, bisa enggak ya nanti seperti itu,” kenang putri dari pasangan Daniel Nari dan Fransiska itu, Sabtu (18/4).

BACA JUGA: Sebelum Riau, Norwegia Sudah Kembangkan Perikanan di Papua

Diakui Niati -- sapaan akrab wanita kelahiran 18 Agustus 1985 itu, banyak hal yang berubah pada dirinya setelah tergabung dalam korps Bhayangkara itu. Terutama terkait sikap dan kedisiplinan. Yang dulunya urak-urakan, kini Niati lebih menjaga penampilan. Dia juga lebih bijak dalam mengatur waktu.

“Dulu saya pikir memang kesannya polisi itu galak. Tetapi setelah merasakan, ternyata enggak juga. Seniornya di sini baik. Sebagai polisi baru, kita selalu diajar kalau ada yang belum dipahami,” kata Niati.

BACA JUGA: Negara Makmur Ini Bantu Kembangkan Potensi Perikanan Riau

Meski awal mendaftar sebagai calon anggota Polri karena ngefans dengan polisi lalu lintas, dia mengaku siap jika suatu saat nanti ditempatkan di kesatuan yang lain. Sekarang ini Niati dkk masih dalam masa pendalaman tugas di setiap kesatuan secara bergantian.  

“Dulu waktu masih pendidikan, kita hanya dikasih teori kasus-kasus yang sudah ditangani. Setelah magang jadi polisi, ternyata bisa benar-benar melihat kasus nyata,” tutur gadis yang pernah meraih hasil Ujian Nasional (Unas) tertinggi di Kabupaten Malinau tahun 2013.

BACA JUGA: Diserang Buaya, Nyawa Ibu Ini Diselamatkan Sebatang Kayu

Saat magang di Satreskrim misalnya, rasa geregetan dia rasakan ketika berhadapan dengan kasus trafficking. Dia menilai ternyata kejahatan tak semerta dilakukan secara terorganisir, namun bisa transaksi dari mulut ke mulut dan dilakukan oleh orang dekat sekalipun seperti kasus perdagangan wanita ini.

Melihat kasus menarik tersebut, dia mulai belajar beripikir dewasa ketika manaruh empati pada kasus yang dialami perempuan. Rasa geramnya itu menimbulkan semangat dalam dirinya untuk mengajak rekan-rekan lainnya untuk ikutan menjadi polisi. Agar bisa ramai-ramai mensosialisasikan dan memberantas kejahatan terhadap perempuan.

“Buat adek-adek yang mau daftar polisi, semangat. Buktikan kalau putra daerah juga bisa dan mampu menjadi kekuatan negara di tanah sendiri. Jangan biarkan di daerah kita muncul penyakit-penyakit masyarakat,” tuturnya.

Dia menambahkan, agar lolos menjadi polisi, syaratnya harus banyak belajar, jaga kesehatan, fisik dan sikap. Terutama ketika terjun dan berhadapan dengan masyarakat.(markumi/ris/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Avanza Celaka di Tol Jagorawi, Lima Mahasiswa Luka Parah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler