Praktisi Pasar Modal: Berinvestasi Ada Pasang Surutnya, Bukan Meraup Untung Dalam Sekejap

Rabu, 30 Maret 2022 – 10:40 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Praktisi pasar modal Vier Abdul Jamal mengatakan investor harus sadar bahwa berinvestasi ada pasang surutnya. Bukan meraup untung dalam sekejap.

Oleh karena itu, pola pikir (mindset) investor menanamkan dana di berbagai instrumen investasi harus dibongkar.

BACA JUGA: Teman Dekat Kalina Ocktaranny ini Siap Lawan Vicky Prasetyo, Berani Enggak?

“Misal, saat kita berinvestasi di saham, pasti harganya akan mengalami turun dan naik. Sebagai investor, hal itu lumrah. Berbeda jika sebagai trader yang memang mengejar keuntungan dalam waktu singkat,” papar Vier, Rabu, (30/3).

Dia menambahkan, saat seseorang membeli saham, dia punya potensi mendapatkan keuntungan kenaikan harga (capital gain) atau dividen yang bersumber dari laba bersih perseroan.

BACA JUGA: Khusus Dewasa: Kiat Nyaman Bercinta dengan Si Penis Besar

Vier menegaskan, saat membeli instrumen investasi, sang investor sedang membeli peluang dan risiko.

Peluang mendapat keuntungan, sekaligus memikul risiko kerugian.

BACA JUGA: Jual Solar Subsidi, Pertamina Tombok Rp 7.300 per Liter

Menurut Vier, seorang investor harus memiliki horizon investment period. Misal, untuk jangka menengah, tiga hingga lima tahun. Lalu, untuk jangka panjang, bisa mencapai 20 tahun.

“Karena itu, harus mampu mengelola risiko yang ada. Tidak ada yang instan, bukan beli sekarang, lalu untung. Kalau begitu, namanya trader. Mau untung besar dalam sekejap, risikonya juga besar. Mari rombak mindset kita. Kita harus punya horizon investment period,” saran Vier.

Terkait risiko, tambah dia, ketika harga saham atau instrumen investasi lainnya seperti aset kripto sedang turun, bukan serta merta investor merugi.

Harga instrumen investasi fluktuatif. Ada masanya naik, ada kala turun.

Di posisi inilah pentingnya sang investor memiliki kemampuan mengelola risiko, termasuk saat berinvestasi di aset kripto.

Menurut Vier, seorang investor yang hendak membeli aset kripto perlu memperhatikan alasan kenapa dia masuk ke instrumen itu.

Alasan investasi atau investment driver, biasanya, capital gain atau dividen. Kalau di aset kripto, pasti capital gain. Tinggal bagaimana si investor mengelola risiko.

“Untuk mengelola risiko, batasi imajinasimu yang tidak pernah terbatas. Uang seperti air laut, semakin diminum seseorang semakin haus. Kita yang mengontrol portofolio investasi, bukan sebaliknya,” tutur Vier.

Terkait investasi di aset kripto, dia melihat potensinya besar sekali di Indonesia.

Mengutip data Bappebti, per Februari 2022, investor aset kripto terdaftar sebanyak 12,4 juta. Dari sisi nilai transaksi aset kripto mencapai Rp 83,8 triliun.

Dalam lima tahun ke depan, jumlah investor kripto bisa tumbuh 100% dari saat ini,” kata Vier.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler