Pramono Anung, Tjahjo Kumolo, Hingga Hasto Ungkap Doktrin Megawati soal Politik Hijau

Sabtu, 20 Februari 2021 – 18:31 WIB
Tiga tokoh PDIP Tjahjo Kumolo, Pramono Anung dan Hasto Kristiyanto. Foto: dok DPP PDIP

jpnn.com, JAKARTA - Tiga orang yang pernah menjadi sekjen di PDI Perjuangan (PDIP) sejak 2005 hingga saat ini memberikan testimoni tentang politik hijau yang mencintai lingkungan di partai berlambang kepala banteng itu.  

Tiga tokoh itu adalah adalah Pramono Anung Wibowo yang menjabat sekretaris jenderal DPP PDIP dari 2005 sampai 2010.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Pendiri Demokrat Berkumpul untuk Dongkel AHY? Pesan Muhammadiyah untuk Kapolri, Duh Kompol Yuni

Kemudian Tjahjo Kumolo (2010-2015), dan Hasto Kristiyanto (2015-sekarang). Ketiganya mengakui Ketua Umum Megawati Soekarnoputri adalah tokoh kunci yang selalu berbicara mengenai politik hijau.

Tujuannya untuk menjaga lingkungan alam dan lingkungan hidup Indonesia.

BACA JUGA: Keren Banget, Pujian Andre Hehanusa untuk Ikhtiar PDIP Gaungkan Politik Hijau

Pram-Tjahjo-Hasto berbicara dalam diskusi virtual bertajuk Politik Hijau PDI Perjuangan pada Sabtu (20/2). Acara ditayangkan secara langsung dari YouTube resmi @pdiperjuangan dan akun facebook @pdiperjuangan.

"Jadi jarang sekali seorang tokoh sekaligus ketua umum partai kemudian pernah menjadi presiden, menjadi wakil presiden, yang begitu cinta akan tanaman dan cinta akan alam dan lingkungannya. Saya masih ingat ketika partai-partai belum ada namanya Badan Penanggulangan Bencana, Ibu Mega-lah yang pertama kali, mencanangkan, membentuk Baguna. Baru setelah itu partai lain mengikuti," kata Pramono Anung.

BACA JUGA: Ahok Beberkan Kisahnya Diminta Mundur, Tetapi Dibela Bu Mega

Dari pengalamannya bersama Megawati, Sekretaris Kabinet era Presiden Jokowi itu mengaku kecintaan pada lingkungan tersebut tampaknya karena Megawati ditempa langsung oleh ayahandanya, Bung Karno. Sikap cinta lingkungan itulah yang diterjemahkan dalam Politik Hijau di PDIP.

"Tidak banyak partai politik misalnya menginisiasi menanam pohon, membersihkan sungai, kemudian hal-hal yang berkaitan dengan penghijauan. Ibu Mega bukan hanya mengerti, tetapi benar-benar memahami," sambung Pram.

Sementara itu, Tjahjo Kumolo mengaku intensif berkomunikasi dengan Megawati sejak 1997 silam. Sejak awal, soal lingkungan hidup menjadi bahasan utama oleh Megawati dalam setiap pengaderan.

Dalam aktivitas sehari-hari, seperti saat makan sekalipun, Megawati selalu menyelipkan diskusi soal lingkungan hidup.

"Hal-hal yang menjadi contoh alam yang menjadi bagian yang dipikirkan Ibu Mega dalam konteks lingkungan hidup.  Masalah bagaimana sungai tidak tercemar, membangun kebun raya sekecil apapun, kemudian menginventarisasi tanaman langka, dibuat obat, dibuat jamu. Inilah yang saya kira, tidak ada seorang presiden yang saya kira memberi perhatian khusus kepada lingkungan hidup sebanyak Ibu Mega," ungkap Tjahjo.

Sedangkan Hasto mengaku sejak awal sudah belajar banyak dari Pramono Anung dan Tjahjo, dan khususnya secara langsung dengan Megawati.

Apa yang dialami oleh Pram dan Tjahjo juga dialaminya. Menurutnya, Megawati pada intinya selalu mendorong kader partainya tak sekedar berpolitik di pemilihan umum, tetapi berpolitik yang merawat alam raya.

"Sehingga ini merupakan suatu hal yang unik bagaimana partai tidak hanya berbicara persoalan kekuasaan, tapi bagaimana kita merawat seluruh alam raya," kata Hasto.

Pramono Anung mengamini apa yang dikatakan Hasto. Dia bersaksi bahwa salah satu perwujudan politik hijau di PDIP adalah mengedukasi calon pemimpin bangsa untuk menyayangi alam lingkungan. Megawati juga mengajarkan itu langsung kepada pemimpin-pemimpin muda yang maju di pilkada.

"Menurut saya apa yang dilakukan oleh Ibu Mega merupakan lokomotif politik baru, politik yang tidak hanya sekedar menjual gagasan, menjual mimpi, tetapi juga politik yang berkaitan dengan alam dan lingkungan," kata Pram, yang juga Sekretaris Kabinet RI itu.

Hasto lalu menambahkan, dalam kehidupan sehari-hari di partainya, ada kebijakan sama sekali tidak menggunakan atau minimal mengurangi penggunaan plastik. Saat kongres partai, kebijakan ini diwujudkan dengan ribuan peserta yang hadir memegang tumbler tempat minum masing-masing.

Kantor partai juga dibangun sehingga memakai konsep green building. Namun yang paling fenomenal adalah bagaimana partai mengukur kinerja kepala daerahnya dengan indikator keberhasilan melaksanakan penghijauan.

"Seluruh kepala daerah diukur, ini ada aturan partainya, diukur prestasinya dari gerakan penghijauan, dari politik tata ruang, dari seberapa banyak sudah menyelamatkan mata air," kata Hasto.

"Jadi menjaga lingkungan ini sudah menjadi bagian dari kultur yang dibangun partai. Bahkan Pak Jokowi, sebelum jadi presiden pun dulu diajak Ibu Mega untuk menanam pohon di Sungai Ciliwung," tambah Hasto.

Tjahjo kemudian mengatakan bahwa jika kini masyarakat melihat PDIP menyentuh masalah politik hijau di tengah masalah pandemi dan banjir, hal itu bisa terjadi karena peran seorang Megawati. Putri Bung Karno itulah sosok yang selalu mengajarkan bahwa politik harus menyatu dengan alam, dan harus bisa mengorganisir masyarakat untuk mencintai lingkungan.

"Kalau kita konsisten dalam program Semesta Berencana jangka panjang yang dicanangkan Bung Karno, saya kira alam kita bisa terjaga dengan baik, tidak ada banjir, sungai mengalir dengan baik," tegas Tjahjo Kumolo yang merupakan Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi tersebut. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler