Presiden Instruksikan Tentara Kepung 2 Provinsi Sarang Pemberontak

Minggu, 02 Mei 2021 – 23:45 WIB
Pemberontak M23 Kongo dan pasukan pemerintah terlibat baku tembak di kedua desa wilayah timur di pertempuran babak selanjutnya, yang memaksa ribuan warga sipil mengungsi ke ibu kota Provinsi Goma. (ANTARA/REUTERS/James Akena/tm)

jpnn.com, BENI - Kelompok militan menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk 10 tentara, dalam penyerbuan di dua desa di Republik Demokratik Kongo timur pada Sabtu (1/5), beberapa jam setelah Presiden Felix Tshisekedi mengumumkan keadaan pengepungan di dua provinsi.

Lonjakan serangan oleh milisi bersenjata dan kekerasan antarwarga di kawasan timur telah menewaskan lebih dari 300 orang sejak awal tahun, sementara pasukan pemerintah dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berjuang untuk menstabilkan situasi.

BACA JUGA: Habib Rizieq Pimpin Revolusi? Kapitra: Belum Pernah Ada Pemberontak Menang

Serangan terbaru terjadi pada Sabtu pagi ketika gerilyawan menyerang dua desa di pusat kawasan Beni, Kivu Utara, kata pihak berwenang.

Kemudian pada hari itu, salah satu imam Beni yang paling berpengaruh ditembak mati oleh penyerang tak dikenal di dalam masjid pusat Beni saat sedang shalat Isya, menurut laporan media setempat.

BACA JUGA: Makin Panas, Suriah Rebut Aleppo dari Pemberontak Boneka Turki

Imam tersebut dikenal atas khotbahnya melawan militansi Islam melalui sebuah stasiun radio regional.

Tshisekedi telah mengumumkan status pengepungan di provinsi Kivu Utara dan Ituri pada Jumat (30/4).

BACA JUGA: Bougainville Merdeka dari Papua Nugini, Komandan Pemberontak Jadi Presiden

"Tujuannya adalah untuk segera mengakhiri ketidakamanan yang membunuh sesama warga kita di wilayah itu setiap hari," kata juru bicara pemerintah Patrick Muyaya.

Dia tidak mengatakan langkah apa yang akan diambil selanjutnya di bawah keadaan terkepung.

Pada Jumat, polisi bersenjata di Beni membubarkan para siswa yang melakukan aksi duduk selama delapan hari di balai kota untuk menarik perhatian pada situasi keamanan yang memburuk. Beberapa siswa terluka dan lainnya ditangkap, menurut seorang saksi mata Reuters.

Sebuah faksi pemberontak Uganda yang aktif di Kongo timur sejak 1990-an, yang disebut Allied Democratic Forces (ADF), diyakini bertanggung jawab atas banyak pertumpahan darah baru-baru ini.

Kelompok itu telah melakukan serentetan serangan pembalasan terhadap warga sipil sejak tentara memulai operasi terhadapnya pada akhir 2019, menewaskan sekitar 850 orang tahun lalu, menurut angka PBB.

Kekerasan telah memicu krisis kemanusiaan. Lebih dari 1,6 juta orang mengungsi di Ituri dari total populasi 5,7 juta orang, kata Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) pada April.

Sekitar 2,8 juta orang membutuhkan beberapa bentuk bantuan darurat, kata badan PBB itu. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler