Presiden Terguling Sembunyi di Kamp Militer

Sabtu, 24 Maret 2012 – 19:32 WIB
BAMAKO – Gejolak masih terasa di Mali sehari setelah kudeta militer yang berakhir dengan lengsernya Amadou Toumani Toure dari kursi presiden. Desing peluru masih terdengar di beberapa kawasan ibu kota seiring dengan meningkatnya kecaman dari berbagai belahan dunia. Hingga kemarin (23/3) keberadaan Toure masih belum jelas.

Komite Nasional demi Penegakan Demokrasi, kelompok militer yang melancarkan kudeta Kamis lalu (22/3), langsung mengambil alih kekuasaan. Kemarin mereka memerintahkan penutupan seluruh perbatasan Mali. Mereka menegaskan kembali niatnya untuk mendirikan pemerintahan yang lebih baik. Setidaknya yang mampu mengatasi pemberontakan suku Tuareg di kawasan utara.

Letnan Amadou Konare, juru bicara junta militer yang berkuasa di Mali, mengatakan bahwa pemerintahan Toure tidak becus membela negara dari ancaman separatisme. ”Pengambilalihan kekuasaan (kudeta) ini merupakan buntut lemahnya militer dan pemerintah dalam membela negara,” cetusnya. Karena itu, junta militer akan segera memilih presiden baru dan membentuk pemerintahan anyar.

Selama pemilihan presiden belum terselenggara, menurut Konare, junta militer akan memberlakukan jam malam di seluruh negeri. Dengan demikian, militer bisa lebih mudah mengendalikan situasi negara pascakudeta. ”Kapten Amadou Sanogo, pimpinan junta, akan menerapkan kondisi darurat ini sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” ungkapnya.
Untuk meredam gejolak, Sanogo pun memerintah seluruh pegawai negeri sipil di Mali segera kembali bekerja. ”Pemimpin junta berharap kondisi pemerintahan bisa kembali normal pada Selasa mendatang (27/3),” papar Konare.

Selain itu, Sanogo mendesak seluruh jajaran kabinet berhenti saling menyalahkan dan kembali menjalankan tugas pemerintahan dengan baik.

Terpisah, dari Kota Gao di kawasan timur laut Mali, para serdadu pendukung junta militer menangkapi jajaran petinggi departemen pertahanan. Mereka memaksa para petinggi militer itu mendukung aksi kudeta. Namun, pemaksaan yang disertai kekerasan tersebut membuat warga sipil takut. ”Kami mencemaskan masa depan demokrasi. Kami tidak mendukung kudeta semacam ini,” cetus Moussa Kante, penduduk Gao.

Sementara itu, keberadaan Toure masih misterius. Tidak ada yang bisa memastikan keberadaan tokoh 63 tahun tersebut. Saat kudeta terjadi, dia berada di dalam Istana Kepresidenan. Tapi, setelah itu dia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di lokasi aman. Seorang sumber militer mengatakan bahwa Toure berada di ibu kota, di sebuah kamp militer dengan pengawalan ketat pengawal khususnya. (AP/AFP/hep/c9/ami)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Taur Matan Ruak Programkan Wamil

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler