PRIMA: Indonesia Harus Lebih Keras Suarakan Ketidakadilan Dunia

Kamis, 28 April 2022 – 14:35 WIB
Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) AJ Susmana. Foto: Dok. PRIMA

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) AJ Susmana mengatakan Indonesia sebagai Presidensi G20 2022 harus lebih keras menyuarakan ketidakadilan dunia.

AJ Susmana menyampaikan hal itu menanggapi rencana Kemendikbudristek menjadi pemimpin Pertemuan Tingkat Menteri Kebudayaan G20 (G20 Culture Ministers’ Meeting) pada September 2022 mendatang.

BACA JUGA: Info Terbaru dari Stafsus Menaker Soal Persiapan EWG G20 ke-2 di Yogyakarta

Pertemuan nanti menjadi awal dari rangkaian kegiatan G20 di bidang kebudayaan.

Menurut Susmana, pertemuan G20 sendiri sering mendapatkan kritik dan protes. Sebab pertemuan G20 dianggap sebagai ajang legitimasi jalan kapitalisme global yang menyebabkan kemiskinan global tetap bertahan dan merajalela.

BACA JUGA: Dirjen Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana Tersangka Mafia Minyak Goreng, PRIMA: Bongkar Sampai ke Akar-akarnya

Dia menilai negara-negara yang bergabung dalam G20 terdiri dari dua unsur, yaitu negara maju dan berkembang dengan penduduk yang berjumlah banyak yang seakan merepresentasikan mayoritas jumlah manusia di bumi.

Menurut Susmana, dua unsur tersebut menunjukkan ketimpangan dan ketidakadilan bila G20 hanya menjadikan negara-negara berkembang sebagai sandaran sebagaimana praktiknya selama ini.

BACA JUGA: Koperasi Solusi Atasi Ketidakadilan Penulis, Begini Penjelasannya

“Untuk pulih bersama dan pulih lebih kuat, justru ‘kemiskinan, ketidaksetaraan, ketidakadilan’ seharusnya tetap menjadi isu pokok, utama dan prioritas,” ujar Waketum PRIMA AJ Susmana.

Menurut Susmana, Presidensi Indonesia di G20 kali ini, Indonesia berkesempatan untuk menggaungkan lebih keras.

“Kalau tak ada keadilan, tentu bukan pulih bersama dan pulih lebih kuat yang didapat tetapi bisa jadi bunuh diri bersama,” ujar AJ Susmana. 

Susmana kemudian berbagi cerita bijak yang menggambarkan ketidakadilan dunia.

“Seekor angsa terlahir dengan dua kepala. Kepala di atas selalu bisa memakan buah-buahan segar dan makanan bergizi lainnya.

Sementara itu, kepala di bawah selalu hanya bisa memakan sisa dari kepala di atas dan makanan yang tidak bergizi di bawah.

Suatu hari, kepala di bawah berkata kepada kepala di atas, ‘Berikan aku buah segar di atas itu. Jatuhkan segera. Jangan hanya dari sisa gigitanmu atau buah-buah busuk yang berjatuhan’. Tetapi kepala di atas tidak menggubris dan tidak peduli. Bahkan sampai ketika Kepala di bawah mengancam akan memakan buah beracun yang bisa menyebabkan kematian bersama. Kepala di atas terkejut akan kenekadan kepala di bawah, tetapi sudah terlambat. Kepala di bawah memilih memakan buah beracun.”   

Menurut Susmana, pertemuan kebudayaan G20 sangat baik apabila bisa berperan untuk memulihkan kondisi dunia dan menjadi jalan strategis.

Melalui pertemuan Budaya G20 itu, Susmana berharap Kemendikbudristek memajukan dan mendorong agar budaya lokal atau budaya nasional di masing-masing negara G20 menjadi landasan bagi pemajuan budaya global yang berkelanjutan yang melestarikan bumi.

Selain itu untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, merespek Hak Asasi Manusia, melahirkan keadilan sosial ekonomi untuk menuju dan menjaga kebahagiaan bersama,” ujar AJ Susmana.

Sebelumnya, Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Setjen Kemendikbudristek menyebut pada September 2022 akan memimpin Pertemuan Tingkat Menteri Kebudayaan G20 (G20 Culture Ministers’ Meeting).

Aebagai awal rangkaian kegiatan G20 di bidang kebudayaan menuju G20 Culture Ministers’ Meeting, Kemendikbudristek menggelar 1st Senior Officials Meeting (SOM) G20, pada Jumat (22/4).

Pada pertemuan G20 Bidang Kebudayaan, Kemendikbudristek yang memimpin hajatan itu akan menawarkan Jalan Kebudayaan untuk Hidup yang Berkelanjutan. Seperti apakah jalan kebudayaan untuk hidup yang berkelanjutan itu?

Kemendikbudristek dalam hal ini melakukan refleksi tentang situasi pascapandemi.

“Pandemi telah mengungkapkan kerentanan laten dalam gaya hidup modern kita. Kita tidak lagi berbicara tentang kemiskinan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, tetapi tentang kelangsungan hidup manusia sebagai spesies. Untuk pulih bersama, dan pulih lebih kuat, kita membutuhkan gaya hidup baru yang lebih berkelanjutan,” kata Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid

Hilmar Farid mengatakan ada dua tujuan utama Kemendikbudristek mengambil kepemimpinan G20 bidang kebudayaan.

Pertama, untuk membangun konsensus global untuk normal baru yang berkelanjutan. Kedua, menginisiasi agenda pemulihan global melalui pembentukan jaringan aksi bersama di bidang kebudayaan.

Memimpin SOM G20 bidang kebudayaan perdana, Hilmar Farid mengatakan pertemuan ini akan fokus membahas peran budaya dalam mempromosikan kehidupan yang berkelanjutan.

“Pertemuan akan mengeksplorasi kemungkinan normal baru, yaitu transisi menuju kebijakan pembangunan yang lebih berorientasi pada keadilan sosial-ekologis berdasarkan keragaman sumber daya budaya,” kata Hilmar.

Hilmar menyebut ada lima isu utama dalam pertemuan kebudayaan G2. Pertama, mengenai peran budaya sebagai pendorong kehidupan berkelanjutan. Kedua, tentang dampak ekonomi, lingkungan dan sosial dari kebijakan berbasis budaya.

Ketiga, tentang cultural commoning (pengelolan bersama atas sumber daya budaya) yang mempromosikan gaya hidup berkelanjutan di tingkat lokal.

Keempat, akses yang berkeadilan untuk peluang ekonomi budaya. Kelima, mobilisasi sumber daya internasional yang untuk mengarusutamakan pemulihan berkelanjutan dengan menginisiasi suatu mekanisme pendanaan untuk pemulihan seni dan budaya yang sangat terpukul selama pandemi.

Hilmar menjelaskan dalam mempromosikan gaya hidup baru ini, budaya memainkan peran penting.

“Berbagai pengetahuan, institusi, ekspresi budaya, dan praktik yang kita warisi telah melewati ujian waktu sehingga terus dibawa ke zaman modern. Jika berbagai sumber budaya ini dikonsolidasikan, kita akan memiliki sarana untuk menciptakan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Inilah jalan kebudayaan yang ditawarkan Presidensi Indonesia di G20,” tegas Hilmar.

Tema pokok G20 sendiri kali ini di bawah Presidensi Indonesia adalah "Recover Together, Recover Stronger" Pulih bersama, Pulih lebih kuat.

Melalui tema tersebut, Indonesia ingin mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.(fri/jpnn) 


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler