Produksi dan Kesejahteraan Petani Terus Meningkat

Senin, 16 Juli 2018 – 12:57 WIB
Mentan Andi Amran Sulaiman. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan selalu menekankan urgensitas dalam menyusun kebijakan dan menjalankan program aksi yang berdampak kepada peningkatan kesejahteran petani.

Presiden memercayai bahwa tercapainya kesejahteraan petani merupakan prasyarat agar pembangunan pertanian bisa berhasil dan berjalan secara berkelanjutan.

BACA JUGA: Refocusing Anggaran Kementan demi Capai Kedaulatan Pangan

Sebagai bentuk perwujudan cita-cita tersebut, Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman telah menjalankan berbagai program terobosan yang diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendongkrak produktivitas pangan nasional.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian, program terobosan yang diusung Kementan harus sesuai dengan visi bahwa tujuan akhir dari pembangunan pertanian harus mampu mensejahterakan dan memuliakan petani,” kata Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Ketut Kariyasa.

BACA JUGA: Dorong Inovasi Teknologi dengan Metode Sungkup Plastik

Sejumlah program terobosan yang dijalankan Kementan selama empat tahun terakhir ini efektif meningkatkan produksi pertanian hampir pada semua komoditas.

Ketut mencontohkan, produksi padi pada tahun 2017 mencapai 81,16 juta ton. “Angka ini meningkat 14,42 persen dibandingkan tahun 2014,” sebut pria kelahiran Bali tersebut.

BACA JUGA: Pengembangan Pepaya Merah Delima Investasi yang Menarik

Tidak hanya padi, peningkatan signifikan juga terjadi pada sejumlah komoditas strategis lainnya, seperti jagung, bawang merah, dan cabai. Produksi jagung pada tahun 2017 mencapai 29,86 juta ton, naik 52,17 persen dibandingkan tahun 2014.

Sementara produksi bawang merah mencapai mencapai 1,47 juta ton atau naik sebesar 18,79 persen dibanding tahun 2014. Produksi cabai pada tahun 2017 ini juga turut meningkat dengan capaian hingga 2,38 juta ton, naik 27,09 persen dibanding tiga tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, Ketut menyebutkan catatan gemilang produksi pertanian tahun 2017 juga turut ditoreh oleh subsektor peternakan. Produksi sejumlah protein hewani pada 2017 mengalami peningkatan nyata, terutama bila dibandingkan dengan produksi tahun 2014.

Produksi daging sapi pada tahun 2017 sebesar 531,8 ribu ton, meningkat 6,85 persen. Produksi daging ayam juga meningkat menjadi 2,26 juta ton atau naik 16,40 persen. Peningkatan yang tidak kalah fantastis juga dicatatkan oleh komoditas telur yang mencapai 2,11 juta ton atau meningkat 20,21 persen.

“Pencapaian (peningkatan produksi pertanian) ini tidak lepas dari kerja keras dan kerja sama yang dijalin berbagai pihak, terutama petani sebagai penggerak utama sektor pertanian. Kementan tentunya akan terus konsisten untuk menjalankan berbagai program aksi sehingga target-target produksi yang telah ditetapkan bisa dicapai,” ungkap Ketut.

Seperti yang telah diproyeksi pemerintah, peningkatan produksi selama periode 2014 – 2017 ini juga berdampak pada kesejahteraan petani yang terus membaik. Meningkatnya kesejahteraan petani tampak dari naiknya Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) untuk pertanian tidak sempit (tidak termasuk perikanan) dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2014, NTUP berada pada angka 106.05. Perlahan tapi pasti, pada tahun 2015 dan 2016, nilai ini meningkat masing-masing menjadi 107,44 dan 109,84. Pada tahun 2017, NTUP melanjutkan tren positif dengan capaian 110,03.

“Bahkan pada tahun 2018, sampai bulan dengan Juni NTUP mengalami peningkatan yang sangat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu menjadi 111,47. Tren positif ini patut kita syukuri,” ujar Ketut. (jpnn)

Indikasi membaiknya kesejahteraan petani juga tampak dari menurunnya ketimpangan pendapatan rumah tangga petani di pedesaan yang ditunjukkan oleh menurunnya indek Gini Rasio. Ketut menyampaikan pada pada tahun 2015, indek Gini Rasio di daerah pedesaan sebesar 0,334, sementara pada tahun 2016 dan 2017 turun berturut-turut menjadi 0,327 dan 0,320. “Pada saat yang sama juga jumlah penduduk miskin di pedesaan terus menurun dari sebanyak 17,89 juta jiwa pada September 2015 menjadi 16,31 juta jiwa pada September 2017,”paparnya.

Namun Kementerian Pertanian, tegas Ketut, belum puas dengan apa yang dicapai sejauh ini. Program-program terobosan akan terus dijalankan Kementan untuk terus menggenjot produksi pertanian ke depannya. “Kita harus yakin bahwa upaya peningkatan produksi tersebut akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta mengentaskan masyarakat pedesaan dari kemiskinan,” tuturnya dengan optimis.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kaki Gunung Rinjani Penyangga Bawang Putih Nasional


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler