Produktivitas Kedelai Banyuwangi di Atas Rata-rata Nasional

Selasa, 23 September 2014 – 19:38 WIB

jpnn.com - BANYUWANGI - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus memacu pengembangan sektor tanaman pangan, termasuk kedelai. Selain dikenal sebagai lumbung padi, daerah berjuluk "The Sunrise of Java" ini juga dikenal sebagai salah satu basis produksi kedelai.

"Alhamdulillah, produktivitas kedelai di Banyuwangi ini termasuk yang tertinggi di Indonesia. Daerah memang perlu terus mendorong produk substitusi impor seperti kedelai agar angka impor kedelai bisa ditekan," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat berdialog dengan petani kedelai di Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Selasa (23/9/2014).

BACA JUGA: TNI AL Gerebek Penampungan Harta Karun Ilegal di Batam

Luas lahan kedelai di Banyuwangi mencapai 34.021 hektar. Pada 2013, produksi kedelainya mencapai 67.441 ton, tumbuh sekitar 15 persen dibanding 2012 sebesar 58.648 ton. Banyuwangi menyumbang lebih dari 20 persen terhadap total produksi kedelai di Jatim.

Produktivitas lahan kedelai di Banyuwangi mencapai 19,82 kuintal per hektar pada 2013. Angka produktivitas kedelai di Banyuwangi itu jauh lebih tinggi dibanding rata-rata produktivitas kedelai secara nasional sebesar 14,16 kuintal per hektar atau di Jatim 15,64 ton per hektar.

BACA JUGA: Pedagang BBM Eceran di Radius Terlarang Masih Marak

Khusus di Kecamatan Purwoharjo yang merupakan basis kedelai Banyuwangi, produktivitasnya bahkan mencapai 24 kuintal per hektar, tercatat yang paling produktif di Jatim, bahkan Indonesia.  Salah satu kelompok tani di Kecamatan Purwoharjo, yakni kelompok Tani Semanggi, berhasil menjadi juara 1 agribisnis kedelai Jawa Timur.

"Alhamdulillah produktivitas kedelai di Banyuwangi selalu naik. Dulu 2010 hanya 17,57 kuintal per hektar, tahun 2013 sudah 19,82 kuintal per hektar. Sampai Juli tahun ini sudah mencapai 20,16 kuintal per hektar," jelas Anas.

BACA JUGA: Sanksi Menanti Anggota Satpol PP yang Paksa Sejoli Puaskan Nafsunya

Anas menambahkan, Pemkab Banyuwangi melakukan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian. Pendampingan ini berlaku untuk semua jenis tanaman, baik tanaman pangan seperti padi dan kedelai maupun tanaman hortikultura seperti sayur dan buah.

"Paradigma penyuluh pertanian perlahan diganti, tidak lagi hanya mencangkokkan teori hasil kuliahnya ke petani atau bersifat top down, tapi lebih ke menyerap problem petani atau bottom up. Karena kan problem petani beda, beda orang beda lahan beda problemnya tentu saja," ujarnya.

Penggunaan varietas unggul juga dilakukan untuk meningkatkan kinerja produktivitas lahan. Varietas kedelai unggul ini penting karena bisa mengompensasi ancaman penurunan luasan lahan.

Terkait harga yang fluktuatif, Anas berharap ada jalan tengah. Pemerintah daerah berharap pemerintah pusat mengendalikan tata niaga dengan baik, terutama pengendalian kedelai impor. (eri/mas)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mayat Laki-laki Misterius Ditemukan Sudah Membusuk


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler