Prof Salim Anggap Komunisme Sudah Bangkrut, tetapi Maklumi Kecemasan Gatot soal PKI

Jumat, 25 September 2020 – 19:51 WIB
Gatot Nurmantyo saat masih menjadi Panglima TNI. Foto: arsip JPNN.COM/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik dan militer Prof Salim Said menilai komunisme sebagai ideologi sudah bangkrut.

Namun, mahaguru di Universitas Pertahanan itu mengaku bisa memahami kekhawatiran mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

BACA JUGA: Analisis Prof Salim Said tentang Dugaan Pak Harto Terlibat Gestapu

"Saya adalah orang yang berkobar-kobar seperti biasa saja bicara bahwa komunisme itu udah bangkrut," ujar Salim sebagaimana disarikan dari kanal Hersubeno Point di YouTube, Jumat (25/9).

Mantan wartawan itu mengaku pernah mengunjungi Uni Soviet yang kini bubar dan menjadi Rusia. Salim juga pernah menjadi Ambasador RI di Republik Ceko yang notabene bekas negara komunis.

BACA JUGA: Ingat, Seluruh Fraksi di DPR Setujui Pemberhentian Gatot Nurmantyo dari Panglima TNI

"Di sana partai komunis, tidak ada lagi bekasnya," katanya.

Salim juga menilai Tiongkok yang dikuasai partai komunis pun sudah tidak menerapkan komunisme lagi. Peraih gelar doktor dari Ohio University, Amerika Serikat itu lantas menyitir pernyataan Deng Xiaoping, pemimpin tertinggi Tiongkok era 1980-an.

BACA JUGA: Analisis Prof Salim Said tentang Jokowi Dikaitkan dengan PKI

"Masih ingat ucapan Deng Xiaoping? Tidak penting kucing itu hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus. Itulah filsafat yang dijalankan Tiongkok," tuturnya.

Lantas, mengapa di Indonesia masih ramai soal komunis? Salim menyebut hal itu tak lepas dari perjalanan sejarah.

"PKI itu pandai betul menyusup," katanya. "Jadi sejarah Indonesia ini menunjukkan bahwa PKI itu tidak pernah berkuasa sebenarnya tetapi ikut berkuasa karena ada doktrin Nasakom (nasionalis, agama dan komunis, red)," ulasnya.

Menurut Salim, Nasakom merupakan ide Bung Karno. Proklamator RI itu memiliki obsesi besar tentang persatuan sehingga berupaya menyatukan kalangan nasionalis, Islam dan komunis.

"Tidak ada masalah waktu itu," katanya. "Bahkan banyak orang PKI itu tokoh-tokoh Islam tadinya, jadi nggak ada masalah."

Namun setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S (Gestapu), kata Said memaparkan, Bung Karno tetap mempertahankan idenya tentang Nasakom. "(Bung Karno, red) tidak mengkritik Nasakom dan tidak pernah membubarkan PKI," tegasnya.

Salim menambahkan, pascareformasi ada PDI Perjuangan yang menurutnya berupaya melanjutkan kebijakan Bung Karno. Selain itu, di PDIP ada Ribka Tjiptaning yang menulis buku Aku Bangga Jadi Anak PKI.

"Dia pengurus PDIP dan tidak pernah ditegur oleh PDIP, dibiarkan. Kesimpulan orang bahwa PDIP itu menganggap PKI itu tidak apa-apa, Nasakom itu tidak apa-apa," ulas penulis buku Dari Gestapu ke Reformasi itu.

Salim pun menganggap kecemasan Gatot Nurmantyo soal PKI merupakan bentuk kesadarannya yang tinggi akan ancaman kebangkitan komunis. "Bukan ancaman partai komunis. Partai komunis itu tidak akan bangkit lagi karena sudah bangkrut," sambungnya.

Salim juga menyodorkan analisisnya soal Gatot yang getol berkoar soal komunisme sekarang ketimbang saat masih menjadi Panglima TNI.

"Kenapa tidak dari dulu waktu jadi panglima, jawabannya karena dia jenderal yang taat, hormati aturan, dan disiplin. Dia tidak bisa ngomong sembarangan. Paling jauh, ya sudah tonton itu film G30S/PKI," kata Salim.(esy/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler