Protes Oknum TNI Mengeroyok Sukarelawan, Komarudin Watubun PDIP: Jangan Mencederai Negara Hukum dan Demokrasi

Minggu, 31 Desember 2023 – 20:26 WIB
Ketua Bidang Kehormatan Dewan Pimpinan Pusat DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun. Foto: Dokumentasi pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Bidang Kehormatan DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun memprotes keras insiden pengeroyokan oleh oknum TNI kepada sukarelawan Ganjar-Mahfud di Boyolali, Jawa Tengah.

“Ini mencederai demokrasi. Kami memprotes keras,” tegas Komarudin Watubun dalam keterangan tertulis pada Minggu (31/12/2023).

BACA JUGA: Protes Oknum TNI Keroyok Sukarelawan, PDIP Ingatkan Tentara untuk Netral, Nama Prabowo Disebut

Menurut Bung Komar sapaan akrab Komarudin, posisi PDI Perjuangan selalu konsisten menjunjung tinggi negara hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia serta menolak kekerasan.

“Bu Mega sebagai Ketua Umum PDI, sejak zaman Orde Baru, dalam keadaan tertekan dan terancam tetap menjunjung tinggi hukum, demokrasi, dan HAM. Pada era reformasi, ketika menjadi oposisi maupun saat berkuasa, tetap konsisten anti-terhadap kekerasan. Ini diakui oleh sejarah dan dunia,” ujar Bung Komar.

BACA JUGA: Kolonel Richard Beber Kronologi Oknum TNI Aniaya Pendukung Ganjar-Mahfud di Boyolali

Oleh karena itu, Bung Komar kembali menyatakan amat menyayangkan ketika sukarelawan Ganjar-Mahfud menjadi korban kekerasan oleh aparat keamanan di Boyolali-Jawa Tengah.

Menurut Bung Komar, apapun alasan, alibi atau argumentasi yang digunakan, akal sehat tetap menolak tindakan kekerasan yang mencoreng demokrasi tersebut.

BACA JUGA: Komarudin Watubun PDIP Bakal Cecar Effendi Simbolon soal Prabowo Cocok Menakhodai RI

“Apapun logikanya, PDI Perjuangan mendesak Panglima TNI secepatnya menindak oknum TNI tersebut agar tidak mencederai netralitas TNI. Nama baik TNI, juga Polri dan aparatur negara lainnya, jangan dikorbankan dengan aksi oknum-oknumnya,” ujar Bung Komar.

Menurut Bung Komar, Panglima TNI dan Kapolri harus menegaskan kembali netralitas itu dalam tindakan nyata.

Sebab, kata dia, struktur TNI-Polri itu komando. Jika pucuk tertinggi netral dan ditegakkan dengan penuh disiplin, maka yang di bawah juga akan taat dan berdisiplin.

Bung Komar menegaskan tidak dapat menerima terkait alibi bahwa tindakan kekerasan tersebut diduga karena ada elemen-elemen di dalam TNI yang jadi simpatisan Prabowo karena sama-sama berlatar belakang militer dan menjadi Menteri Pertahanan.

“Apalagi Prabowo sudah diberhentikan secara tidak hormat dari TNI,” ujar Bung Komar yang juga Anggota DPR RI Dapil Papua ini.

Lebih lanjut, Bung Komar mengatakan dari hasil diskusi dengan salah satu tokoh HAM guna mencari akar kekerasan oleh oknum TNI tersebut, diduga tindak kekerasan tersebut berawal dari penempatan Prabowo sebagai Menhan sehingga tercipta kesan di kalangan oknum TNI bahwa Prabowo akan melindungi mereka kendati melakukan kekerasan.“Bisa jadi para oknum ini merasa mendapatkan perlindungan dan privilege, mencari ambisi untuk mendapatkan promosi ketika melakukan tindakan ‘perjuangan’ bagi pimpinannya,” kata Bung Komar mengutip hasil diskusi dengan Aktivis HAM yang merujuk pada peristiwa tim mawar era akhir 1990-an.

Komar mengatakan PDI Perjuangan percaya TNI dan Polri akan menempatkan kepentingan rakyat, bangsa dan negara di atas segalanya.

“Nama baik TNI – Polri itu luar biasa karena sejarahnya menjaga NKRI. Sikap partisan sebagaimana terjadi di Boyolali bisa merusak nama baik itu sehingga harus ditindak tegas,” ujar Komar.

Dia mengingatkan muruah TNI dan Polri sedang dipertaruhkan di hadapan 270 juta lebih rakyat Indonesia.

“Jangan sampai karena ulah segelintir oknum dengan ambisi pribadi merusak nama baik lembaga TNI dan Polri sebagai garda terdepan penjaga keamanan dan penegak hukum di Republik Indonesia,” kata Komandan Satgas Nasional Cakra Buana PDI Perjuangan ini.(fri/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler